POPULARITAS.COM – Menguap merupakan salah satu perilaku paling umum yang dialami manusia setiap hari. Hampir setiap orang pernah menguap saat merasa lelah, mengantuk, atau bosan.
Namun, ada satu hal yang membuat perilaku ini begitu menarik untuk dipelajari, yaitu sifatnya yang mudah menular. Tidak sedikit orang yang tiba-tiba ikut menguap hanya karena melihat orang lain melakukannya.
Bahkan, mendengar suara orang menguap, melihat gambar seseorang yang sedang menguap, atau sekadar memikirkan aktivitas tersebut dapat memicu respons yang sama. Fenomena ini telah lama menarik perhatian para ilmuwan karena menunjukkan menguap bukan sekadar refleks tubuh biasa.
Berbagai penelitian menunjukkan menguap yang menular berkaitan dengan cara kerja otak, hubungan sosial, tingkat perhatian, hingga mekanisme evolusi yang berkembang selama jutaan tahun.
Karena itulah, para peneliti terus berupaya memahami alasan di balik perilaku yang tampak sederhana tetapi ternyata sangat kompleks ini.
Salah satu teori yang banyak mendapat perhatian menyebutkan menguap membantu mengatur suhu otak. Otak manusia bekerja paling efektif pada rentang suhu tertentu.
Ketika suhu otak meningkat, kemampuan berpikir dan konsentrasi dapat menurun. Menguap diduga membantu mendinginkan otak sehingga kinerjanya tetap optimal.
Teori lainnya menyatakan menguap berperan dalam meningkatkan kewaspadaan dan membantu tubuh beralih dari satu kondisi aktivitas ke kondisi lainnya.
Oleh karena itu, menguap sering muncul saat seseorang baru bangun tidur, menjelang tidur, atau ketika sedang mengalami perubahan tingkat fokus. Ada pula pendapat yang menyebut menguap merupakan refleks biologis kuno yang telah ada sejak awal evolusi vertebrata.
Salah satu penjelasan ilmiah paling populer mengenai menguap menular berkaitan dengan keberadaan neuron cermin atau mirror neurons.
Neuron cermin merupakan sel saraf yang aktif bukan hanya ketika seseorang melakukan suatu tindakan, tetapi juga saat ia mengamati orang lain melakukan tindakan yang sama.
Ketika seseorang melihat orang lain menguap, neuron cermin di otaknya ikut aktif. Aktivasi tersebut memicu dorongan otomatis untuk meniru perilaku yang diamati.
Akibatnya, orang tersebut ikut menguap meskipun sebelumnya tidak merasa mengantuk atau lelah. Mekanisme ini dipercaya menjadi salah satu alasan utama mengapa menguap dapat menyebar dengan cepat dalam suatu kelompok sosial.
Tapi tidak semua orang memiliki tingkat kerentanan yang sama terhadap menguap menular. Berbagai penelitian menunjukkan sekitar 40% hingga 60% orang dewasa akan menguap setelah melihat orang lain menguap.
Artinya, fenomena ini memang umum terjadi, tetapi tidak dialami oleh semua orang. Beberapa studi menemukan individu yang memiliki tingkat empati lebih tinggi cenderung lebih mudah tertular menguap.
Sebaliknya, terdapat hubungan negatif antara menguap menular dan sifat psikopatik. Individu dengan karakteristik psikopatik tertentu cenderung menunjukkan respons yang lebih rendah terhadap menguap orang lain.
Meski demikian, hubungan antara empati dan menguap menular tidak selalu konsisten dalam semua penelitian.


Leave a comment