POPULARITAS.COM – Kepala Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA), Mawardi Nur, bertemu Duta Besar Republik Indonesia untuk Uni Emirat Arab (UEA), Judha Nugraha, di Kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Abu Dhabi, Senin (2/11/2026). Pertemuan itu membahas peluang investasi minyak dan gas bumi (migas) UEA di Aceh.
Keduanya membahas penguatan kerja sama investasi energi antara Indonesia dan UEA, khususnya untuk mendorong pengembangan potensi hulu migas di Aceh. Strategi membangun kepercayaan investor internasional dan peluang kerja sama jangka panjang juga menjadi bahasan.
Salah satu perhatian utama adalah keterlibatan Mubadala Energy, perusahaan energi asal UEA, dalam pengembangan migas di kawasan Andaman. Keberhasilan tahap awal proyek ini diharapkan menjadi pijakan untuk menarik investasi yang lebih besar.
Mubadala Energy sebelumnya menemukan cadangan gas melalui sumur Tangkulo-1 di Blok South Andaman, sekitar 65 kilometer lepas pantai utara Sumatra. Uji alir sumur tersebut menghasilkan 47 juta standar kaki kubik gas per hari (MMSCFD) dan 1.300 barel kondensat per hari. Rencana pengembangan (Plan of Development) Lapangan Tangkulo telah disetujui Kementerian ESDM pada Maret 2026.
Dubes Minta Proposal Bisnis Komprehensif
Dalam pertemuan itu, Judha menyarankan BPMA bersama pemerintah menyiapkan proposal bisnis yang komprehensif terkait rencana pengembangan hulu dan hilirisasi migas di Aceh. Proposal itu dibutuhkan agar peluang investasi dapat ditawarkan secara konkret kepada calon mitra di UEA, dengan memperhatikan kelayakan ekonomi, kebutuhan infrastruktur, skema bisnis, dan potensi pasar.
Menurut Judha, pengembangan lapangan gas di Wilayah Kerja South Andaman bisa menjadi momentum untuk menyiapkan ekosistem industri hilir migas di Aceh. Karena itu, potensi gas perlu dihubungkan dengan rencana industri pengolahan, infrastruktur pendukung, dan peluang investasi jangka panjang.
“Kerja sama investasi UEA dengan Indonesia sebagai peluang jangka panjang yang perlu dipersiapkan secara serius. Aceh sebagai bagian dari Indonesia memiliki potensi untuk mengambil peran lebih besar dalam kerja sama tersebut,” ujar Judha.
Ia menilai keberhasilan satu investor bisa menjadi magnet bagi investor lain.
“Ketika satu perusahaan berhasil mengembangkan investasinya di suatu wilayah, hal itu dapat menarik perhatian perusahaan lain dari berbagai negara. Keberhasilan tersebut menjadi referensi bahwa wilayah tersebut memiliki prospek dan lingkungan investasi yang menjanjikan,” jelasnya.
UEA kini berkembang menjadi salah satu pusat energi internasional, dengan kapasitas finansial yang kuat dan jaringan global yang luas. Sebelum berinvestasi, UEA juga menempatkan keamanan, kenyamanan, dan kepastian berusaha sebagai pertimbangan utama.
Butuh Proses dan Kesabaran
Mawardi Nur menilai keberhasilan investasi migas tidak hanya diukur dari kegiatan eksplorasi dan produksi, tetapi juga dari kemampuan membangun kepercayaan dan menciptakan ekosistem investasi yang berkelanjutan.
“Ikhtiar dan langkah yang kita lakukan hari ini akan memberikan dampak bagi masa depan. Namun, perubahan besar tidak dapat diwujudkan dalam ruang dan waktu yang terbatas. Dibutuhkan proses, konsistensi, kerja keras, serta kesabaran untuk menjawab setiap tantangan yang ada,” ujar Mawardi.
Ia juga menilai kedekatan budaya antara Indonesia dan UEA, terlebih Aceh yang kental dengan nilai-nilai ketimuran, menjadi modal positif dalam membangun kemitraan. Meski demikian, peluang itu harus dimanfaatkan dengan tetap memperhatikan kondisi daerah, karakter sosial budaya, dan kearifan lokal Aceh.
Dalam pertemuan tersebut, Judha didampingi Deputi Direktur BKPM Indonesia untuk Abu Dhabi, Oki R. Tiba. Sementara Mawardi didampingi Direktur Utama PT Pema Global Energi (PGE) Firdaus Noezula, Deputi Perencanaan BPMA Afrul Wahyuni, dan Kepala Divisi Formalitas dan Hubungan Eksternal BPMA Radhi Darmansyah.


Leave a comment