Home News Konser Slank di Aceh Gagal, Panitia Ungkap Gitaris Slank Pernah Bantu Donasi untuk Korban Tsunami Aceh
NewsSosial dan Budaya

Konser Slank di Aceh Gagal, Panitia Ungkap Gitaris Slank Pernah Bantu Donasi untuk Korban Tsunami Aceh

Share
Grup Musik Slank. Poto : HO |Kumparan.com
Share

POPULARITAS.COM – Konser Panggung Sumpah Pemuda yang akan dimeriahkan oleh Slank, D’Masiv hingga Rafly Kande batal digelar lantaran persoalan biaya sewa tempat yang terlalu mahal. Konser ini dijadwalkan di Lapangan Panahan Komplek Stadion Harapan, Banda Aceh, Sabtu, 25 Oktober 2025.

Hal ini dinyatakan oleh Koordinator Panggung Sumpah Pemuda, Fitri Syafruddin, pada jumpa persnya, Sabtu (25/10/2025). Sembari mengumumkan kabar buruk ini, dengan penuh kecewa, Fitri juga mengungkapkan bahwa konser ini ternyata punya makna tersendiri bagi gitaris Slank Abdee Negara. Disebut Fitri, Abdee pernah menyumbangkan dana bantuan senia Rp 325 jutadari hasilpenjualan gitar pribadninyauntuk disumbangkankepada korban tsunami Aceh, pasca bencana gempadan tsunami yang melanda Aceh tahun 2004 lalu.

“Banyak orang tidak tahu, gitar yang dilelang Abdee saat itu menghasilkan donasi Rp 325 juta untuk membantu masyarakat Aceh pascatsunami,” ujar Fitri saat konferensi pers di Banda Aceh, Sabtu, 25 Oktober 2025.

Fitri menilai, hal-hal seperti ini jarang diketahui publik karena banyak yang hanya menilai dari permukaan tanpa memahami konteks kepedulian para musisi nasional terhadap Aceh. Seharusnya, ini juga diketahui publik.

Dengan mengangkat kisah kepedulian seperti yang pernah dilakukan Abdee Negara, Fitri berharap masyarakat dapat melihat bahwa kehadiran musisi nasional di Aceh tidak hanya untuk hiburan, tetapi juga membawa pesan solidaritas dan kemanusiaan.

Konferensi Pers Panitia Penyelenggara Konser.

Terkait pengurusan izin, sebut Fitri, pihaknya juga telah berkoordinasi dengan berbagai instansi terkait dalam perizinan, termasuk Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kota Banda Aceh dan Polresta

Berdasarkan hasil rapat bersama pada 19 Juli 2025, kata dia, kegiatan bersifat keramaian seperti konser atau acara hiburan tidak memerlukan surat izin dari MPU. Menurut Fitri, isu soal perizinan konser Slank yang sempat mencuat hanyalah kesalahpahaman.

“Kami sudah punya surat resmi dari MPU yang menegaskan bahwa kegiatan konser tidak memerlukan izin dari mereka,” ujarnya.

Fitri juga menekankan, konser tersebut dirancang dengan menghormati nilai-nilai lokal dan keagamaan.

“Panggung di sekitar masjid kami pastikan digunakan untuk kegiatan salat Jumat sebelum acara dimulai. Cowok dipisahkan, kecuali family,” sebutnya.

Konser Panggung Sumpah Pemuda yang akan dimeriahkan oleh Slank, D’Masiv hingga Rafly Kande batal digelar lantaran persoalan biaya sewa tempat yang terlalu mahal. Seharusnya konser ini dijadwalkan di Lapangan Panahan Komplek Stadion Harapan, Banda Aceh, Sabtu, 25 Oktober 2025.

Acara berskala nasional ini digagas oleh PT. Erol Perkasa Mandiri, bekerja sama dengan GRANAT (Gerakan Nasional Anti Narkotika), Badan Narkotika Nasional dan Kepolisian Daerah (Polda) Aceh.

Mauval, panitia bidang perizinan mengatakan, seluruh proses administrasi dan izin kegiatan telah diurus sejak awal, termasuk dari perangkat desa hingga rekomendasi dari Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora), DPMPTSP, hingga Polda Aceh.

Namun, kata dia, persoalan muncul setelah pihak Dispora menetapkan biaya retribusi sewa lapangan panahan di Komplek Stadion Harapan Bangsa yang dinilai terlalu tinggi.

“Tapi saat proses loading barang, kami baru diberitahu soal biaya sewa yang fantastis,” kata Mauval saat konferensi pers di Banda Aceh, Sabtu, 25 Oktober 2025.

Sementara itu, Hafidh selaku panitia bidang keamanan, menjelaskan tarif sewa Lapangan Panahan Komplek Stadion Harapan Bangsa ditetapkan mengacu pada Qanun Retribusi tanah kosong, bukan standar venue olahraga lain di Kompleks Stadion Harapan Bangsa.

Berdasarkan hasil asesmen, kata Hafidh, luas lahan 14.523 meter persegi dan tarif Rp 10.000 per meter per hari, muncul angka Rp 145,5 juta per hari. Dengan durasi penggunaan selama lima hari, total biaya mencapai sekitar Rp 700 juta.

“Tarif itu jauh lebih mahal dari stadion utama atau GOR. Untuk event berbayar seperti kami, biaya normal di stadion utama hanya sekitar 8 juta per malam,” kata Hafidh.

Event konsultan, Steffy Burase, mengaku kecewa atas pembatalan kegiatan tersebut. Menurutnya, pihaknya sudah berupaya mencari solusi agar pembayaran bisa dilakukan setelah acara selesai, namun tidak mendapat kelonggaran.

“Ini event edukatif dan nasionalis, bukan sekadar hiburan. Semua panitia adalah anak-anak muda Aceh yang bekerja keras mewujudkannya. Tapi kami terhambat di biaya sewa,” ujar Steffy.

Ia juga menyinggung adanya penolakan terhadap Slank, yang disebut-sebut menjadi salah satu alasan tersendatnya izin. Padahal, menurut Steffy, Slank sangat terbuka untuk kegiatan sosial dan bahkan menolak fasilitas berlebihan.

“Manajer Slank bilang, mereka tak perlu duduk di kelas bisnis, yang penting bisa tiba di Aceh lebih awal untuk salat Jumat. Tapi sayangnya, ada pihak yang masih memandang negatif,” ucapnya.

Meski gagal tampil tahun ini, panitia berharap kegiatan tersebut dapat dijadwal ulang.

“Kami anggap ini bukan pembatalan, tapi penundaan. Semoga ke depan ada jalan keluar agar Aceh bisa lebih terbuka terhadap kegiatan nasional yang membawa semangat positif,” pungkas Steffy.

Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Tulisan Terkait
News

Menlu Sugiono Tegaskan Indonesia Harus Gaul dengan Semua Negara

POPULARITAS.COM – Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, menegaskan bahwa Indonesia harus terus...

KriminalitasNews

Terduga Pelaku Pencurian Beserta Barang Bukti di Abdya Dicokok Polisi

POPULARITAS.COM – Tim Unit Reaksi Cepat (URC) Satreskrim Polres Aceh Barat Daya...

News

Pemkab Pidie Jaya Cairkan Gaji ASN ke-13

POPULARITAS.COM –  Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pidie Jaya, mencairkan gaji ke-13 guna meringankan...

News

Prabowo Ungkap Alasan Beratnya Copot Dadan Hindayana

POPULARITAS.COM – Presiden Prabowo Subianto mengaku berat saat mengambil keputusan mencopot Dadan...

Exit mobile version