POPULARITAS.COM – Iran kini menghadapi tekanan diplomatik baru dari blok negara-negara Arab. Melalui forum Liga Arab, para menteri luar negeri kawasan sepakat melayangkan tuntutan ganti rugi Iran atas seluruh kerugian yang ditimbulkan konflik di Timur Tengah, mulai dari kerusakan infrastruktur hingga terganggunya jalur perdagangan global.
Resolusi tersebut disahkan dalam pertemuan darurat secara konferensi video di bawah kepemimpinan Bahrain pada 21–22 April 2026. Para menteri menegaskan Teheran harus memikul “tanggung jawab internasional penuh” atas rangkaian serangan yang terjadi di kawasan.
Negara-negara yang disebut terdampak meliputi Yordania, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Oman, Qatar, Kuwait, dan Irak. Serangan terjadi saat militer Iran menargetkan fasilitas militer serta kepentingan Amerika Serikat yang berada di wilayah negara-negara tersebut.
Penutupan Selat Hormuz Jadi Sorotan Utama
Selain aksi militer, langkah Iran menutup Selat Hormuz serta ancaman terhadap Selat Bab el-Mandeb menjadi poin utama kecaman. Kedua jalur itu merupakan rute vital perdagangan global, khususnya distribusi energi dunia.
Penutupan Selat Hormuz memicu lonjakan harga energi, pengalihan rute pelayaran, hingga kenaikan premi asuransi kapal. Dampaknya dinilai tidak hanya regional, tetapi juga memperburuk ketidakpastian ekonomi global.
Dikutip dari Beritasatu.com, Menteri Luar Negeri Bahrain Abdullatif Al Zayani menegaskan tindakan Iran telah memaksa kapal keluar dari jalur utama dan mengancam pasokan energi, makanan, serta obat-obatan di berbagai negara.
Baca juga: Kapal Pertamina Tertahan di Selat Hormuz, RI Negosiasi dengan Iran
Mengapa Bukan Amerika Serikat yang Dituntut?
Meski konflik melibatkan kepentingan AS, negara-negara Arab memilih mengarahkan tuntutan kepada Iran. Alasannya, Teheran dinilai sebagai pihak yang melakukan tindakan langsung di wilayah mereka, baik melalui serangan maupun keputusan sepihak menutup jalur laut strategis.
Dari sudut pandang hukum internasional, tanggung jawab memang diarahkan kepada pihak yang menimbulkan kerugian langsung. Negara-negara Arab juga menolak tuduhan Iran bahwa mereka membantu AS dalam konflik, dan menegaskan posisi mereka sebagai korban, bukan pelaku.
Seruan Diplomasi dan Peran Pakistan
Sekretaris Jenderal Liga Arab Ahmed Aboul Gheit menekankan pentingnya penyelesaian melalui jalur diplomasi. Dikutip dari Beritasatu.com, ia menyatakan, “Negara-negara Arab tidak pernah dan tidak akan menjadi sandera Iran demi menyelesaikan perselisihan.”
Di tengah ketegangan, Pakistan tampil sebagai mediator dengan memfasilitasi gencatan senjata selama dua pekan sejak 8 April, dilanjutkan pembicaraan damai pada 11 April. Gencatan senjata itu kini diperpanjang seiring berjalannya proses diplomasi.
Meski begitu, Liga Arab menegaskan stabilitas jangka panjang mustahil tercapai tanpa komitmen Iran untuk mematuhi hukum internasional, menghentikan serangan, dan menjamin keamanan jalur pelayaran.
Resolusi tersebut juga mendesak Dewan Keamanan PBB mengambil langkah konkret untuk menjaga perdamaian dan memastikan akuntabilitas. Negara-negara Arab menyerukan koordinasi regional dan internasional guna mendokumentasikan kerugian serta menempuh jalur hukum dan diplomatik demi memperoleh kompensasi. (hsn)
Sumber: beritasatu.com

Leave a comment