POPULARITAS.COM – Aceh wilayah paling ujung barat di Indonesia terkenal dengan julukan “Serambi Mekkah” ini menyimpan banyak sejarah panjang dan diyakini sebagai tempat pertama masuknya Islam di Nusantara.
Maka tidak heran sampai saat ini begitu banyak makam ulama yang sangat berpengaruh di Aceh, salah satunya ialah kompleks Makam Poe Teumeureuhom terletak di Gampong Gle Jong, Kecamatan Jaya (Lamno), Kabupaten Aceh Jaya.
Dalam sejarah perjalanan Kerajaan Aceh Darussalam tidak terlepas dari adat dan hukum yang begitu kental saat itu dan masih tertanam dalam masyarakat Aceh hinggat saat ini “Adat Bak Poe Teumeureuhom, Hukom Bak Syiah Kuala”. Adat Bak Poe Teumeureuhom: Adat dan urusan duniawi diatur oleh Raja (pemimpin pemerintahan/lembaga adat). Hukom Bak Syiah Kuala: Hukum (Syariat Islam) diatur oleh Ulama (pemimpin agama).
Poe Teumeuruhom merupakan seorang raja besar yang memerintah Aceh, sekaligus pendiri kerajaan Islam Negeri Daya pada tahun 1480 Masehi nama yang memiliki pengaruh besar dalam sejarah dan adat Aceh, khususnya di wilayah pesisir barat.
Nama ini bukanlah nama pribadi, melainkan gelar kehormatan yang diberikan kepada seorang raja besar bernama Sultan Alaiddin Ri’ayat Syah, pendiri dan pemimpin Kerajaan Negeri Daya. Perannya melampaui batas-batas politik, menjadi simbol kedaulatan, ketegasan hukum, dan benteng pertahanan Islam di wilayah Aceh bagian barat.

Makam ini berada di atas bukit kecil yang disebut Glé Kandang. Tidak jauh dari wisata puncak Geurute dan memiliki pemandangan alam yang menakjubkan. Untuk mencapainya, pengunjung harus menaiki sejumlah anak tangga (disebutkan sekitar 99 anak tangga).
Dalam catatan sejarah Aceh, Poe Teumeureuhom memiliki banyak peran penting seperti membantu sultan dalam urusan politik, diplomasi, dan adat.
“Dalam beberapa hikayat, Poe Teumeureuhom digambarkan sebagai “bayang-bayang sultan”—figur yang berada sangat dekat dengan pusat kekuasaan,” tulis beberapa sumber.
Aceh memiliki wilayah luas dari pesisir hingga pedalaman. Poe Teumeureuhom menjadi pengawas para uleebalang, memastikan daerah-daerah tetap loyal kepada kerajaan.
Dalam banyak kisah lisan, ia dikenal sebagai tokoh yang menengahi sengketa, menegakkan adat, dan menjaga keseimbangan antar kampung.
Beberapa tradisi menyebut Poe Teumeureuhom sering dihubungkan dengan kekuatan fisik, keberanian, dan kemampuan memimpin pasukan dalam konflik.
Makam ini menjadi salah satu destinasi wisata religi dan sejarah yang ramai dikunjungi, terutama oleh para peziarah.
Selain itu untuk mengenang jasa beliau dan memperingati berdirinya Negeri Daya (tahun 1480 M), masyarakat setempat masih memegang teguh tradisi adat yang dilaksanakan bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha (10 Dzulhijjah), yaitu tradisi “Seumuleueng” (menyuapi keturunan terakhir Poe Teumeureuhom dengan ‘bue leukat’ atau ketan).
Sejarah Poe Teumeureuhom adalah sejarah sebuah gelar Aceh pada masanya. Dan selama makam, cerita, dan adat itu masih dijaga, nama Poe Teumeureuhom akan tetap hidup—bukan hanya sebagai legenda, tetapi sebagai bagian dari identitas Aceh.
Leave a comment