Home News Masjid Raya Baiturrahman, Simbol Keteguhan dan Kebangkitan Rakyat Aceh
NewsWisata

Masjid Raya Baiturrahman, Simbol Keteguhan dan Kebangkitan Rakyat Aceh

Share
Wisatawan domestik saat berkunjung ke Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Masjid ini jadi salah satu daya dari wisatawan saat berkunjung ke Aceh. FOTO : popularitas.com.
Share

POPULARITAS.COM – Masjid Raya Baiturrahman berdiri megah di tengah Kota Banda Aceh. Kubah hitamnya berkilau dengan payung-payung raksasa membentang anggun di sekitar, serta menara yang menjulang tinggi di depannya, menjadi penanda inilah ikon kebanggaan rakyat Aceh yang namanya masyhur sampai mancanegara.

Bagi masyarakat Aceh, Baiturrahman bukan hanya sekadar rumah ibadah dan bangunan bersejarah. Lebih dari itu, ia adalah simbol keteguhan, saksi luka, sekaligus penanda kebangkitan.

Pelaksana Harian Kepala Unit Teknis Dinas (UPTD) Pengelola Masjid Raya Baiturrahman Teungku Iskandar mengatakan jejak awal Masjid Raya Baiturrahman dapat ditelusuri jauh ke era Kesultanan Aceh yang gemilang.

Banyak sumber mencatat pembangunan pertamanya pada 1612 Masehi oleh Sultan Iskandar Muda, raja yang membawa Aceh ke puncak kejayaan maritim dan intelektual Islam. Namun, sebagian sejarawan juga meyakini ada jejak yang lebih tua lagi, yakni tahun 1292 atau masa Kesultanan Samudera Pasai.

“Bangunan awal tersebut berkonstruksi kayu dan beratapkan rumbia, khas gaya arsitektur Aceh klasik, tempat para ulama dan santri berkumpul mempelajari ilmu agama yang kemudian dikenal hingga Nusantara,” kata Teungku Iskandar, Jumat (20/2/2026).

Namun, lembar sejarah berubah kelam saat agresi militer Belanda II ke Aceh pada 10 April 1873. Masjid Raya Baiturrahman menjadi saksi pertempuran sengit. Dalam insiden itu, Panglima Belanda Mayor Jenderal Johan Harmen Rudolf Köhler, tewas ditembak pasukan Aceh di halaman masjid. Belanda kemudian membakar bangunan masjid yang saat itu masih berkonstruksi kayu.

Pembakaran masjid itu mengundang kemarahan rakyat Aceh yang makin membara melawan Belanda.

Untuk meredam kemarahan Aceh, Belanda kemudian membangun kembali Masjid Baiturahman di pertapakan semula pada 1879 dan selesai pada 1881. Beda dengan sebelumnya, bangunan yang dibangun kali ini berkonstruksi beton bergaya Mughal revival, perpaduan arsitektur Eropa, Timur Tengah, dan sentuhan Asia.

Bangunan megah dengan dinding putih bersih yang kontras dengan kubah hitam, lengkungan yang elegan, serta tangga dan lantai marmer dari berbagai penjuru dunia. Interiornya dihiasi pilar berukir, jendela kaca patri, dan lampu gantung kuningan yang memancarkan keanggunan spiritual.

Perkembangannya terus berlanjut. Pada awalnya, masjid ini hanya memiliki satu kubah dan satu menara. Kubah dan menara lainnya ditambahkan pada tahun 1935, 1958, dan 1982. Saat ini, masjid ini memiliki tujuh kubah dan delapan menara, termasuk menara tertinggi di Banda Aceh, tanpa menghilangkan bentuk aslinya yang sarat nilai sejarah.

“Bangunan lama adalah situs sejarah yang harus dijaga. Setiap rekonstruksi tidak boleh merusak nilai historinya,” tambahnya.

Masjid ini juga menjadi saksi perlawanan rakyat Aceh. Di halaman masjid, terdapat monumen yang menandai lokasi tewasnya Jenderal Belanda, JHR Kohler, yang ditembak pejuang Aceh saat agresi berlangsung. Peristiwa itu menjadi simbol bahwa tanah Aceh tak pernah benar-benar tunduk.

“Dahulu, masjid ini bahkan sempat menjadi benteng pertahanan tentara Aceh dalam menjaga kedaulatan wilayahnya,” terang Tgk. Iskandar.

Ujian terberat datang berabad kemudian. Pada 26 Desember 2004, gelombang tsunami menghantam Aceh. Bangunan-bangunan di sekitar masjid luluh lantak. Namun, Masjid Raya Baiturrahman tetap berdiri kokoh.

Ribuan warga, termasuk masyarakat Tionghoa dan nonmuslim, berlindung di dalam masjid. Air bah menggenangi kawasan sekitar, tetapi tidak sampai merusak ruang utama masjid. Peristiwa itu mempertegas posisinya bukan hanya sebagai rumah ibadah, tetapi juga tempat perlindungan dan harapan.

Jamaah salat tarawih perdana di Masjid Raya Baiturrahman. (popularitas.com)

Salah satu daya tarik masjid ini adalah desainnya yang unik. Arsitektur bergaya Mughal yang megah membuatnya berbeda dari masjid-masjid lain di Indonesia. Lengkungan pintu, ornamen kaligrafi, serta dominasi warna putih dan hitam menciptakan kesan agung sekaligus teduh.

Kini, kapasitas jamaah mencapai sekitar 8.000 orang, meningkat dari sebelumnya sekitar 5.000 orang. Kehadiran 12 payung elektrik raksasa di pelataran yang kerap disamakan dengan pelataran Masjid Nabawi membuat suasana semakin nyaman, terutama saat terik matahari.

Dari lantai enam menara yang dilengkapi lift, pengunjung bisa menikmati panorama Banda Aceh dari ketinggian.

Tak hanya menjadi pusat ibadah, Masjid Raya Baiturrahman juga hidup dengan berbagai kegiatan keagamaan. Kajian rutin, syiar Islam, hingga aktivitas remaja masjid menggeliat setiap waktu. Menjelang Ramadan, suasana semakin semarak dengan pembagian takjil gratis, lomba religi, hingga pameran Islami yang didukung para donatur.

Pengelola juga menyediakan jubah dan kain sarung gratis bagi pengunjung yang belum berpakaian sesuai syariat. Sikap ramah dan santun menjadi bagian dari identitas pelayanan masjid ini. Semua tamu disambut dengan baik, termasuk wisatawan mancanegara yang ingin menikmati keindahan arsitekturnya dari area luar.

Bagi Cut Nauval, salah seorang pengunjung, Masjid Raya selalu menjadi destinasi favorit bersama teman-temannya.

“Suasananya indah dan nyaman untuk duduk santai maupun beribadah. Vibes-nya mirip seperti di Masjid Nabawi,” ujarnya.

Masjid ini memang bukan sekadar ikon wisata religi. Ia adalah simbol identitas keislaman Aceh, tempat nilai-nilai kesopanan, ketertiban, dan keramahan dijaga dengan penuh kelembutan.

Selain itu, untuk menjaga nilai religi dari masjid, bagi pengunjung yang datang tidak menggunakan pakaian muslim yang tepat, pihak pengelola menyediakan rok dan juga jubah.

Hal ini dilakukan untuk menjaga sikap sopan dan ramah tamah bagi pengunjung masjid dan agar bisa menikmati keindahan Masjid Raya Baiturrahman dengan nyaman.

Di sisi lain, di tengah tantangan modernitas dan perubahan generasi, Masjid Raya Baiturrahman tetap berdiri sebagai jangkar sejarah dan spiritualitas. Kubah-kubahnya bukan hanya penanda arsitektur, melainkan juga penegas bahwa Aceh selalu memiliki tempat pulang—di bawah naungan rumah Allah yang megah dan penuh makna.

 

Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Tulisan Terkait
News

Mendagri Prihatin dengan OTT Kepala Daerah, Padahal Sudah Ikut Retret

POPULARITAS.COM – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengaku prihatin dengan fenomena...

NewsSosial dan Budaya

Kolaborasi Pemerintah Aceh, BPMA, dan Medco Tanam 1.000 Mangrove

POPULARITAS.COM – Pemerintah Aceh bersama Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) serta industri...

News

Samsat Banda Aceh : Seluruh Pelayanan Resmi Pajak  Dipastikan Gratis, Jangan Pakai Calo!

POPULARITAS.COM – Kepala Samsat Banda Aceh, Rahmat Syahreza, mengimbau seluruh masyarakat agar...

News

Bongkar Pasang Kepala SKPK Pidie oleh Sarjani

POPULARITAS.COM – Bupati Pidie, Sarjani Abdullah, merombak sejumlah Kepala Satuan Kerja Perangkat...

Exit mobile version