Home Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Membaca Aceh dari Lorong Gelap Museum Tsunami hingga Taman Cinta Sultan Iskandar Muda
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata AcehFeatureHeadline

Membaca Aceh dari Lorong Gelap Museum Tsunami hingga Taman Cinta Sultan Iskandar Muda

Share
Komplek Pemakaman Kerkhof Peucut. Poto : Fauzan | popularitas.com
Share

POPULARITAS.COM – Ada kota yang dikenali lewat gedung-gedung tingginya. Banda Aceh lain. Kota ini lebih mudah dibaca lewat jejak-jejak yang ditinggalkan sejarah: kapal raksasa di tengah permukiman, perahu nelayan yang tersangkut di atap rumah, makam ribuan serdadu kolonial, hingga taman yang dibangun seorang sultan untuk permaisurinya.

Semua itu berjarak tak terlalu jauh satu sama lain. Dalam sehari, dengan kendaraan atau bahkan sebagian berjalan kaki, pengunjung bisa menyusuri dua babak besar sejarah Aceh: luka bencana yang mengubah wajah kota, dan kejayaan kesultanan yang pernah disegani di Selat Malaka.

Lorong Gelap dan Nama-nama di Dinding

Perjalanan paling tepat dimulai dari Museum Tsunami Aceh di Jalan Sultan Iskandar Muda.

Dari kejauhan, bangunannya tampak seperti kapal penyelamat dengan geladak lebar. Jika dilihat dari atas, atapnya menggambarkan gelombang tsunami. Desain ini lahir dari sayembara yang dimenangkan Ridwan Kamil, arsitek yang kemudian menjabat Wali Kota Bandung. Museum seluas 2.500 meter persegi itu diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 27 Februari 2009, dengan biaya sekitar Rp140 miliar.

23 ribu wisatawan berkunjung ke Museum Tsunami Aceh saat libur lebaran
Museum Tsunami Aceh. FOTO : Budpar Aceh | HO popularitas.com

Pengalaman dimulai di sebuah lorong sempit dan temaram. Dinding di kiri-kanan dialiri air, dan suara gemuruhnya memenuhi telinga. Langkah otomatis melambat. Udara terasa lembap dan dingin di kulit. Lorong ini sengaja dirancang untuk menghadirkan kembali gemuruh air bah yang datang pada pagi 26 Desember 2004.

Di ujung perjalanan, ada sebuah ruang berbentuk silinder seperti sumur raksasa, dikenal sebagai The Light of God. Dindingnya dipenuhi nama-nama korban tsunami. Di puncaknya, seberkas cahaya jatuh dari atas, menyinari kaligrafi bertuliskan “Allah”. Banyak pengunjung berdiri lama di sini, mendongak dalam diam.

Di ruang lain, monitor-monitor menyajikan informasi tentang gempa dan tsunami, menjadikan museum ini bukan hanya ruang mengenang, tetapi juga ruang belajar mitigasi bencana.

Ada pernyataan Kepala UPTD Museum Tsunami Aceh, M Syahputra Azwar, di Antara (April 2023), misalnya soal museum yang menjadi incaran wisatawan saat libur Lebaran, dengan 5.180 pengunjung dalam sehari pada puncaknya. Ini bisa dipakai dengan atribusi “seperti dikutip Antara”, tapi sifatnya data, bukan kesan emosional pengunjung.

Ia juga menyebutkan, setiap pengunjung yang datang, dapat membeli tiket masuk di tempat yang telah disediakan, dengan harga, sebagai berikut : hanya Rp2.000 untuk anak-anak, pelajar, dan mahasiswa, Rp3.000 untuk dewasa, dan Rp10.000 untuk wisatawan mancanegara. Museum buka setiap hari pukul 09.00 hingga 16.00 WIB.

Di PLTD Apung, balita masuk gratis, pelajar Rp2.000, sementara pengunjung umum membayar Rp3.000 pada hari biasa dan Rp5.000 pada hari libur. Pembayaran kini juga bisa dilakukan melalui QRIS.

Di Seberang Jalan, Ribuan Nisan Belanda

Tepat di dekat museum, sebuah gerbang setengah lingkaran berdiri di tepi jalan. Dinding marmer putihnya dipenuhi nama-nama yang asing di telinga: nama serdadu Belanda.

Inilah Kerkhof Peucut, kompleks makam yang menjadi saksi Perang Aceh. Di dalamnya terdapat sekitar 2.200 makam serdadu Belanda, ditambah makam serdadu asal Ambon, Manado, dan Jawa yang direkrut tentara kolonial. Empat jenderal Belanda juga dimakamkan di sini, salah satunya Jenderal Köhler, yang tewas dalam serangan pertama Belanda ke Aceh.

Suasana kompleks pemakaman militer Belanda di Aceh, Kerkhof Petjut di kawasan Desa Sukaramai, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh. FOTO : popularitas.com/Muhammad Fadhil

Suasana di dalam kompleks hening. Nisan-nisan putih berlumut berjajar di bawah pepohonan rindang, dan bunyi dedaunan kering yang terinjak terdengar jelas. Ribuan nisan itu menjadi pengingat betapa sengitnya perlawanan rakyat Aceh terhadap kolonialisme.

Di tengah kompleks, ada satu makam yang menyimpan kisah berbeda: makam Meurah Pupok, putra Sultan Iskandar Muda. Menurut kisah yang dituturkan turun-temurun, sang sultan memerintahkan putra satu-satunya itu dihukum rajam karena berzina dengan istri seorang perwira. Ketegasan itu kerap dikaitkan dengan ungkapan masyhur Aceh tentang hukum yang tak pandang bulu, bahkan terhadap darah daging sendiri.

Kapal 2.600 Ton di Tengah Kampung

Dari pusat kota, perjalanan berlanjut ke Gampong Punge Blang Cut. Di tengah permukiman warga, sesuatu yang mustahil berdiri tegak: sebuah kapal raksasa.

Itulah PLTD Apung, kapal pembangkit listrik terapung seberat sekitar 2.600 ton. Saat tsunami menerjang, kapal yang semula berlabuh di pelabuhan Ulee Lheue itu terseret gelombang sejauh dua hingga tiga kilometer ke daratan, lalu terdampar di tengah kampung.

Kapal PLTD Apung. (Foto: MC Kota Banda Aceh)

Berdiri di sampingnya, tubuh terasa begitu kecil. Lambung bajanya menjulang, dan pengunjung kerap terdiam membayangkan kekuatan air yang mampu menyeret benda sebesar itu.

Kini, kawasan tersebut ditata sebagai museum dan objek wisata edukasi, lengkap dengan menara pandang, monumen, dan jalur pejalan kaki. Pengunjung bisa naik ke geladak kapal dan memandang permukiman sekitar yang dulu luluh lantak.

Perahu yang Menyelamatkan 59 Nyawa

Tak jauh dari sana, di Gampong Lampulo, kisah lain menunggu. Sebuah perahu nelayan sepanjang sekitar 30 meter bertengger di atas rumah dua lantai.

Kapal di atas rumah. FOTO : popularitas.com/Dani

Saat tsunami datang, perahu itu terbawa arus dan tersangkut di atas rumah tersebut. Sebanyak 59 orang yang terjebak air berhasil selamat dengan memanjat ke atas perahu.

Salah seorang penyintas, Mujiburrizal, seperti dikutip The Christian Science Monitor, mengenang bahwa awalnya perahu itu tampak seperti akan menghantam rumah tempat keluarganya berlindung. Namun, perahu itu justru berputar dan bersandar di sisi mereka.

Kini, perahu itu menjadi monumen. Bagi warga Aceh, ia bukan sekadar sisa bencana, melainkan simbol harapan di tengah bencana yang merenggut ratusan ribu nyawa.

Taman Sang Sultan untuk Permaisuri

Setelah menyusuri jejak tsunami, perjalanan berpindah ke babak yang jauh lebih tua.

Di Gampong Sukaramai, Kecamatan Baiturrahman, berdiri Gunongan, bangunan putih berbentuk bukit bersusun dengan kelopak-kelopak menyerupai bunga. Bangunan ini bagian dari kompleks Taman Putroe Phang, yang dibangun Sultan Iskandar Muda (berkuasa 1607–1636) untuk permaisurinya, Putroe Phang, putri asal Pahang, Malaysia.

Bangunan Gunongan di Banda Aceh. FOTO : popularitas.com/Dani

Konon, Gunongan dibangun agar sang permaisuri tak merindukan bukit-bukit di kampung halamannya. Dahulu, taman ini terhubung langsung ke istana melalui Pintoe Khop, gerbang yang hanya boleh dilalui tamu-tamu bangsawan.

Di dekatnya mengalir Krueng Daroy, sungai buatan yang membawa air dari Mata Ie, Aceh Besar, menuju Krueng Aceh. Alirannya sengaja dibuat melewati kompleks istana sultan. Gemericik airnya masih terdengar hingga kini, seolah menyambung masa lalu dan masa sekarang.

Belajar dari Luka dan Kejayaan

Rute sehari ini menawarkan pelajaran yang tak didapat dari buku teks. Di Museum Tsunami, PLTD Apung, dan Kapal Lampulo, pengunjung belajar tentang kerapuhan manusia di hadapan alam, sekaligus pentingnya kesiapsiagaan bencana. Di Kerkhof Peucut, Gunongan, dan Taman Putroe Phang, mereka belajar tentang kejayaan, perlawanan, dan cinta yang membentuk identitas Aceh.

Bagi sekolah, rute ini bisa menjadi kelas lapangan. Bagi wisatawan, ia menjadi cara memahami mengapa Aceh begitu teguh menjaga ingatannya.

Ada etika yang perlu dijaga sepanjang perjalanan: berpakaian sopan, tidak berisik di ruang-ruang memorial, tidak memanjat atau mencoret situs bersejarah, dan menghormati kawasan permukiman warga di sekitar PLTD Apung dan Kapal Lampulo.

Menjelang sore, saat matahari mulai condong di atas kubah-kubah kota, perjalanan berakhir. Banda Aceh mungkin tak menawarkan gedung pencakar langit. Tapi bagi yang mau membacanya, kota ini adalah buku sejarah yang terbuka di setiap sudut jalan.

Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Tulisan Terkait
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata AcehFeature

Sore yang Riuh di Geunang Geudong: Kopi Aceh, Mi Rempah, dan Danau di Pinggir Meulaboh

POPULARITAS.COM – Deru kendaraan dan hiruk-pikuk Kota Meulaboh perlahan tertinggal di belakang....

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata AcehFeature

Sejuk yang Rapuh di Mata Ie: Dari Hulu Sungai Istana hingga Keran Ribuan Rumah

POPULARITAS.COM – Begitu kaki dicelupkan, dinginnya langsung menjalar hingga ke tulang. Air...

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata AcehFeature

Senja Jingga di Pantai Pelangi, Ruang Rekreasi Murah Meriah Warga Sigli

POPULARITAS.COM – Terik matahari mulai mereda, Senin sore, 2 November 2026. Di...

Exit mobile version