Home Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Menapaki Titik Nol Kilometer Sabang, Gerbang Barat Indonesia yang Penuh Cerita
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata AcehFeatureNewsWisata

Menapaki Titik Nol Kilometer Sabang, Gerbang Barat Indonesia yang Penuh Cerita

Share
Tugu Nol Kilometer, Sabang. Poto : Rahmat | Popularitas.com
Share

POPULARITAS.COM – Pagi itu, Pelabuhan Ulee Lheue di Banda Aceh masih diselimuti hawa lembab laut. Ombak kecil berkejaran di tepi dermaga, sementara suara petugas pelabuhan bersahutan memanggil penumpang yang hendak berangkat ke Sabang.

Dari kejauhan, kapal cepat sudah bersandar, putih dan kokoh, siap menyeberang menuju Pulau Weh sepotong surga di ujung barat Nusantara.

Saya, istri, dan dua anak kami ikut dalam perjalanan itu. Anak pertama berumur tiga, sedang gemar bertanya tentang segala hal, dan yang bungsu baru satu tahun lebih.

Tak berasa, kapal yang kami tumpangi perlahan menghilang, berganti dengan hamparan laut biru yang luas dan tak bertepi.

Bagi yang ingin membawa kendaraan pribadi, perjalanan bisa ditempuh lewat kapal Ferry KMP Aceh Hebat, milik pemerintah yang berlayar lebih santai.

Di sana, penumpang bisa duduk di atas dek, menikmati semilir angin dan pemandangan laut yang menenangkan, sambil sesekali melihat burung camar menari di langit.

Tapi kali ini, kami memilih cara yang lebih cepat, demi dua bocah kecil yang tak betah berlama-lama duduk diam.

Sekitar satu jam kemudian, kapal merapat di Pelabuhan Balohan, Sabang. Udara di sini terasa berbeda lebih segar, lebih sunyi, seolah angin membawa aroma hutan dan garam laut bersamaan.

Mobil yang kami pesan pun telah siap. Kami memilih untuk menyetir sendiri, memberi ruang bagi anak-anak untuk beristirahat, membiarkan perjalanan menjadi lagu nina bobo yang pelan.

Mobil pun meluncur meninggalkan pelabuhan, melewati jalan yang berliku di antara pepohonan tropis.

Perjalanan menuju Tugu Nol Kilometer memakan waktu sekitar 40 menit. Namun setiap tikungan menawarkan keindahan baru, pantai berpasir putih, rumah-rumah kecil di tepi hutan, dan laut yang seakan memanggil dengan warna birunya yang jernih.

Sesampainya di kawasan Hutan Wisata Iboih Ujong Ba’u, udara terasa lebih lembap. Pepohonan besar meneduhi jalan, dan di ujung pandangan, tugu itu perlahan tampak tinggi, gagah, seolah menjaga ujung negeri dengan kebanggaan sunyi.

Tugu Nol Kilometer berdiri setinggi 22,5 meter. Dari bawah, bentuknya menyerupai mata bor yang menembus langit, melambangkan semangat bangsa yang terus menggali makna persatuan.

Di puncaknya, burung Garuda menggenggam angka nol, simbol bahwa dari titik inilah Indonesia bermula.

Saya menggandeng anak saya naik ke anak tangga. Angin laut terasa kencang di atas, membawa suara debur ombak dari kejauhan.

Empat pilar kokoh yang menopang bangunan melambangkan batas-batas negeri—Sabang, Merauke, Miangas, dan Rote. Di sekelilingnya, ornamen bercorak Aceh dan simbol rencong memperlihatkan kebanggaan masyarakat setempat.

Di bawah tugu, terdapat beberapa prasasti penting. Salah satunya ditandatangani oleh BJ Habibie saat menjabat sebagai Menristek, berisi koordinat geografis yang diukur menggunakan GPS. Satu lagi ditandatangani Wakil Presiden Try Sutrisno pada peresmian tanggal 9 September 1997.

Setiap pengunjung yang datang bisa mendapatkan sertifikat kunjungan penanda bahwa mereka telah menjejak titik paling barat Indonesia.

Dari atas tugu, pandangan terbentang luas ke arah Samudra Hindia. Angin laut memukul wajah dengan lembut, membawa aroma asin yang menenangkan.

Di bawah, para pedagang menjajakan cendera mata baju kaos bertuliskan Sabang, miniatur tugu, dan kerajinan tangan dari kerang laut.

Saya menatap laut cukup lama, membiarkan angin membawa pikiranku jauh. Ada haru yang pelan-pelan tumbuh menjadi rasa syukur, karena di titik paling pinggir negeri ini, saya dan keluarga bisa merasakan arti sebenarnya dari rumah besar bernama Indonesia.

Di bawah matahari yang menyengat, anak-anak berlarian, dan kami menunggu giliran, menyiapkan senyum untuk mengabadikan kenangan di titik awal dari segala arah Kilometer Nol, Sabang.

Semoga titik nol ini terus ramai dikunjungi, menjadi saksi langkah-langkah baru yang datang dari berbagai penjuru negeri.

Dan semoga pemerintah terus berbenah, menjaga tempat ini agar tetap layak dibanggakan sebagai gerbang barat Indonesia.

Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Tulisan Terkait
News

BPK RI beri WTP ke-11 untuk Pemkab Pidie

POPULARITAS.COM – Pemkab Pidie raih opini wajar tanpa pengecualian (WTP) atas  laporan...

News

Terima WTP dari BPK RI, Bupati Abdya : Bukti tata kelola keuangan transparan

POPULARITAS.COM – Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) kembali menorehkan prestasi membanggakan...

InternasionalNews

Demo Guru di Meksiko Jelang Piala Dunia: Urusan Kami Lebih Penting dari Sepak Bola

POPULARITAS.COM – Jelang dimulainya Piala Dunia 2026, situasi di ibu kota Meksiko...

News

BMKG: Aceh Masih Berpotensi Dilanda Hujan Lebat hingga Angin Kencang

POPULARITAS.COM – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I...

Exit mobile version