POPULARITAS.COM – Pemerintah Sri Lanka memutuskan menjual Bandara Internasional Mattala Rajapaksa setelah fasilitas tersebut terus merugi dan rencana sewa jangka panjang dengan konsorsium India-Rusia batal terealisasi. Keputusan ini menjadi langkah terbaru Kolombo dalam merestrukturisasi aset-aset negara yang tidak produktif.
Bandara Mattala Rajapaksa dibangun menggunakan pinjaman dari China dan diresmikan pada 2013. Namun hingga kini, bandara yang berlokasi di dekat kawasan suaka margasatwa di pesisir selatan Sri Lanka itu belum memiliki penerbangan reguler.
Baca juga: Peretas Bobol Kementerian Keuangan Sri Lanka, Rp 43 Miliar Raib
Dikutip dari beritasatu.com, pemerintah Sri Lanka dalam pengumumannya mengundang investor dengan menyebut bandara tersebut memiliki “potensi yang belum dimanfaatkan untuk peluang pertumbuhan, termasuk pengembangan pariwisata eksotis dan investasi strategis”.
Pada 2024, pemerintah sebenarnya telah mengumumkan pemberian hak sewa selama 30 tahun kepada perusahaan patungan Shaurya Aeronautics asal India dan Airports of Regions Management Company asal Rusia. Namun, rencana kerja sama itu tidak pernah berjalan.
Proyek Era Rajapaksa
Nama bandara ini diambil dari mantan Presiden Mahinda Rajapaksa yang dikenal gencar membangun proyek infrastruktur dengan pinjaman China. Sejumlah proyek warisannya kemudian gagal secara komersial dan turut membebani keuangan negara.
Beban utang kepada China menjadi salah satu pemicu krisis ekonomi besar di Sri Lanka. Pada 2022, negara tersebut dinyatakan gagal bayar utang luar negeri sebesar US$ 46 miliar.
Setelah memperoleh dana talangan dari Dana Moneter Internasional (IMF) pada awal 2023, pemerintah Sri Lanka berupaya memprivatisasi sejumlah badan usaha milik negara yang merugi, meski hasilnya belum signifikan.
Tantangan Operasional
Secara operasional, Bandara Mattala menghadapi sejumlah hambatan serius. Lokasinya berada di jalur migrasi burung, sehingga beberapa kali terjadi insiden tabrakan yang mengganggu penerbangan.
Militer Sri Lanka bahkan pernah dikerahkan untuk menyingkirkan hewan liar seperti rusa, kerbau, dan gajah yang masuk ke landasan pacu.
Saat ini, bandara hanya dimanfaatkan secara terbatas oleh maskapai kargo dan penerbangan sewaan. Pendapatan yang dihasilkan belum mampu menutupi biaya operasional, termasuk tagihan listrik.
Bandara ini juga berfungsi sebagai lokasi pengalihan penerbangan jika terjadi gangguan cuaca di Bandara Internasional utama Kolombo, yang berjarak sekitar 30 menit penerbangan.
Preseden Hambantota
Langkah menjual Bandara Mattala mengingatkan pada kebijakan serupa pada 2017, ketika Sri Lanka menyerahkan pengelolaan Pelabuhan Hambantota kepada China Merchants Port Holdings dengan skema sewa 99 tahun. Kebijakan itu diambil setelah Kolombo gagal membayar pinjaman besar kepada Beijing.
Penyerahan aset strategis tersebut memicu kekhawatiran internasional terkait praktik “jebakan utang” dalam proyek infrastruktur yang didanai pinjaman asing. (hsn)
Sumber: beritasatu.com

Leave a comment