Home Hukum Miris, Hampir Seribu anak di Aceh Jadi Korban Tindak Kekerasan
HukumNews

Miris, Hampir Seribu anak di Aceh Jadi Korban Tindak Kekerasan

Share
Menteri PPPA Arifah Fauzi saat memberikan sambutan dalam Rapat Koordinasi Program Ruang Bersama Indonesia antara Pemerintah Pusat, Aceh dan Kabupaten/Kota di Kantor Gubernur Aceh, Jumat (7/11/1015). Poto : Fauzan/Popularitas.com
Share

POPULARITAS.COM –  Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) mencatat hampir seribu anak di Aceh menjadi korban tindak kekerasan sejak Januari hingga Oktober 2025. Angka korban terbanyak merupakan anak perempuan.

Menteri PPPA Arifah Fauzi menyebutkan angka itu didasari laporan yang diterima lewat Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni).

“Kalau di Aceh dari 1 Januari hingga 31 Oktober 2025 yang terlaporkan 967 kasus, korban laki-laki 193 kasus dan korban perempuan 817 kasus,” kata Arifah Fauzi dalam Rapat Koordinasi Program Ruang Bersama Indonesia antara Pemerintah Pusat, Aceh dan Kabupaten/Kota di Kantor Gubernur Aceh, Kamis (7/11/2025).

Arifah mengatakan, kasus kekerasan kini tidak hanya menimpa perempuan, tetapi juga dialami oleh anak laki-laki. Artinya, kekerasan terhadap anak merupakan persoalan serius yang harus menjadi perhatian bersama.

“Korban terbanyak adalah perempuan, jenis kekerasan terbanyak adalah seksual dan tempat kejadian terbanyaknya adalah di dalam rumah tangga,” ujarnya.

Selain itu, Arifah menjelaskan berdasarkan laporan yang diterima melalui data Simfoni PPA,  Aceh Utara tercatat sebagai daerah dengan jumlah laporan terbanyak.  Jenis kekerasan tertinggi di daerah itu adalah kekerasan terhadap anak dengan jumlah 50 korban.

Kemudian, untuk kekerasan terhadap perempuan, Aceh Utara juga menempati posisi tertinggi dengan 85 korban kekerasan fisik  dan 73 korban penelantaran.

“Jika dilihat dari usia, remaja berusia 13 hingga 17 tahun menjadi kelompok korban tertinggi. Dari sisi pendidikan, korban terbanyak adalah mereka yang bersekolah di tingkat SLTP dan SLTA dengan dominasi korban perempuan lulusan SLTA,” jelasnya.

Meski angka di Aceh Utara tinggi, Arifah menegaskan hal itu tidak selalu berarti tingkat kekerasan paling parah. “Tingginya angka justru bisa menunjukkan tingginya kesadaran masyarakat untuk melapor serta keaktifan pemerintah daerah dalam memberikan layanan dan perlindungan,” jelasnya.

Arifah juga mengatakan pihaknya juga mencatat,mayoritas kekerasan terjadi di dalam rumah tangga, baik terhadap anak maupun perempuan. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena rumah seharusnya menjadi tempat paling aman bagi setiap anggota keluarga.

“Data juga menunjukkan bahwa sebagian besar pelaku kekerasan memiliki hubungan dekat dengan korban baik sebagai anggota keluarga maupun orang terdekat,” katanya.

Arifah menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam pencegahan kekerasan terhadap anak dan perempuan.

“Kita ingin memastikan rumah menjadi ruang aman bagi anak-anak kita, dan setiap laporan kekerasan harus ditindaklanjuti dengan cepat dan tepat,” pungkasnya.

Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Tulisan Terkait
News

Dinas PUPR Pidie belum serahkan dokumen proyek paska bencana Rp10 miliar untuk di lelang

POPULARITAS.COM – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Pidie, hingga akan...

EdukasiNews

Terima Audiensi LLDIKTI, Wagub Fadhlullah Dorong Penguatan SDM dan Kolaborasi dengan PTS

POPULARITAS.COM – Pemerintah Aceh menegaskan bahwa peningkatan kualitas SDM merupakan kunci kemajuan...

News

Pascamutasi, Dinas “Basah” di Pidie Masih Lowong Pimpinan

POPULARITAS.COM – Bupati Pidie, Sarjani Abdullah, merombak 45  pejabat tingkat eselon II,...

News

Ketua DPR Aceh Zulfadhli hadiri peringatan HUT ke-24 Kabupaten Nagan Raya

POPULARITAS.COM – Ketua DPR Aceh Zulfadhli, Minggu 19 Juli 2026 malam, hadiri...

Exit mobile version