Home News Musangking, Emas Hijau dari Tanah Alue Meujen Abdya
NewsWisata

Musangking, Emas Hijau dari Tanah Alue Meujen Abdya

Share
Share

POPULARITAS.COM – Tak perlu menempuh perjalanan jauh ke luar negeri untuk merasakan sensasi durian musangking premium.

Di Aceh Barat Daya, tepatnya di perbukitan Alue Meujen, “emas” itu tumbuh subur, bukan digali dari perut bumi, melainkan dipetik dari dahan.

Hanya sekitar 10 hingga 15 menit berkendara dari pusat Kota Blangpidie, aroma durian sudah lebih dulu menyambut di tanjakan terakhir menuju kawasan kebun.

Udara sejuk, jalan berliku mengikuti kontur perbukitan, serta hamparan hijau yang menenangkan menjadi pembuka sebelum pengunjung tiba di sebuah kebun durian yang menawarkan pengalaman berbeda, membelah dan menyantap musangking langsung di bawah pohonnya.

Perjalanan menuju kebun durian di Gampong Babah Lhueng, Kecamatan Blangpidie, relatif mudah. Jalan utama telah beraspal, meski di beberapa titik naik-turun mengikuti bentang alam.

Menjelang lokasi, hanya tersisa puluhan meter jalan berbatu, penanda bahwa pengunjung benar-benar memasuki kawasan agro yang masih alami.

Siang itu, sekitar pukul 12.45 WIB, saya tiba di kebun durian yang di seberangnya mengalir air pegunungan Kila.

Rombongan Kapolres Abdya AKBP Agus Sulistianto bersama Kasat Reskrim Iptu Wahyudi telah lebih dulu berada di lokasi.

Di bawah rindangnya pepohonan, Syamsyidik Ibrahim, sang pemilik kebun, tampak duduk santai bersama putranya, Julianda Syamsyidik, serta rombongan Kapolres Abdya.

Di hadapan mereka, beberapa bongkahan durian telah dibelah, dagingnya menyeruakkan aroma kuat di udara. Di atas meja kayu sederhana, beberapa gelas kopi terhidang, menjadi teman obrolan ringan di tengah sejuknya suasana kebun.

Angin yang sepoi-sepoi, suasana alam yang asri, serta percakapan ringan membuat waktu berjalan tanpa terasa. Saat jarum jam menunjukkan pukul 14.15 WIB, kami baru menyadari bahwa alarm perut telah lebih dulu berbunyi.

Musangking hari itu sebenarnya sudah habis dipesan. Beberapa buah kecil yang tersisa, tak satu pun jatuh dari pohon. Namun, kami tetap disuguhi durian premium lain yang tak kalah menggoda.

Rasanya legit, teksturnya lembut, dan aromanya kuat, cukup menjadi pembuktian awal bahwa kebun ini memang bukan kebun biasa.

Hamparan hijau seluas kurang lebih lima hektare membentang didepan mata. Seratusan batang durian musangking berdiri kokoh dan produktif, berpadu dengan varietas bawor, monthong serta durian premium lainnya.

Pemandangan itu menghadirkan kesan tenang, sekaligus menjanjikan.

Tak banyak yang mengetahui, kebun ini tumbuh dari sebuah niat yang sangat sederhana. Bukan berangkat dari perhitungan bisnis, apalagi ambisi keuntungan besar.

Semuanya bermula dari keinginan membantu sesama yang kala itu membutuhkan biaya berobat. “Saat itu adawarga yang butuh sekali biaya berobat dan kemudian menuual lahannya, dengan niat membantu kami punmembeli lahan ini, jelas Syamsidik.

Di atas lahan yang awalnya dikelola seadanya, Syamsyidik Ibrahim menanam harapan. Ia tak pernah membayangkan, niat tulus tersebut kelak benar-benar berbuah manis.

“Awalnya hanya ingin membantu pemilik lahan,” tuturnya pelan.

Waktu berjalan. Ketekunan dalam perawatan dan kesabaran panjang perlahan menunjukkan hasil. Mulanya, kebun itu hanya ditanami durian jantung dan durian kampung.

Namun seiring keyakinan yang tumbuh, ia memberanikan diri menanam musangking, bawor, monthong, serta sejumlah varietas durian premium yang membutuhkan perhatian lebih.

Pohon-pohon yang ditanam pada 2021 silam kini memasuki masa produktif. Hasilnya terus meningkat dari musim ke musim, menjadi bukti bahwa kerja keras tak pernah mengkhianati proses.

Kini, kebun tersebut bukan hanya menjadi sumber penghidupan, tetapi telah menjelma sebagai usaha yang menjanjikan.

Julianda Syamsyidik, sang anak, turut mengambil peran dalam pengelolaan hingga pemasaran hasil kebun.

Tak ada strategi pemasaran yang rumit. Sebagian pembeli datang karena melihat unggahan di media sosial, sementara tak sedikit pula yang datang karena rekomendasi teman, cerita dari mulut ke mulut yang terus berantai.

Pesanan kerap datang bahkan sebelum musim panen mencapai puncaknya. Beberapa pembeli sudah lebih dulu memesan buah, menunggu giliran panen seperti menanti kabar baik.

Di kebun ini, kepercayaan tumbuh bersamaan dengan buah durian yang matang di dahan.

“Kalau orang mencari emas di bawah tanah gunung, kita ini biarlah mencari uang di atas gunung,” ujar Julianda sambil tersenyum, menunjuk deretan pohon durian yang tengah berbuah.

Dalam satu musim panen, satu batang durian bisa menghasilkan sekitar 60 buah, dengan bobot rata-rata 1,5 hingga 2 kilogram per buah.

Dengan kualitas premium, satu pohon bahkan mampu menghasilkan belasan hingga puluhan juta rupiah.

Berbeda dengan durian lokal pada umumnya, varietas premium di kebun ini dikelola dengan pemupukan dan perawatan intensif. Pada kondisi tertentu, panen bahkan dapat dilakukan dua kali dalam setahun.

Soal kualitas, musangking dari Abdya ini tak kalah bersaing. Seorang pecinta durian yang kerap mengikuti event dan kontes durian hingga ke luar negeri menyebutkan, cita rasa dan karakter musangking di kebun ini identik dengan musangking asal Malaysia.

“Bedanya hanya di harga,” katanya singkat.

Di kebun ini, durian premium tersebut masih dilepas sekitar Rp350 ribu per kilogram. Padahal, di Medan atau Malaysia, harga untuk kualitas serupa bisa mencapai Rp700 ribu hingga Rp800 ribu per kilogram.

Bagi pencinta durian, kebun ini bukan sekadar tempat membeli buah. Pengunjung diajak menikmati pengalaman utuh, menyusuri kebun, beristirahat di pondok sederhana, menunggu buah jatuh dari dahan, menghirup aroma khas sebelum kulit berduri dibelah, lalu menikmati daging kuning tebal yang legit langsung dari sumbernya.

Kedepan, Syamsyidik Ibrahim bersama Julianda Syamsyidik menautkan harapan pada kebun ini agar tumbuh menjadi wisata agro durian, sebuah ruang singgah bagi siapa saja yang ingin datang, bukan sekadar membeli, tetapi merasakan, menyusuri kebun, menunggu buah jatuh, dan menikmati durian langsung dari sumbernya.

Di Alue Meujen, Aceh Barat Daya, durian tak lagi sekadar penanda musim. Ia telah menjelma menjadi cerita tentang niat baik yang ditanam dengan tulus, kesabaran yang dirawat hari demi hari, serta keyakinan bahwa alam, jika diperlakukan dengan hormat, mampu menghadirkan “emas” tanpa harus menggali tanah.

Menjelang pukul 17.15 WIB, kami berkemas meninggalkan kebun. Perut kenyang oleh durian dan nasi yang disantap di luar jam makan siang, langkah kami terasa ringan.

Yang tertinggal bukan hanya rasa legit di lidah, tetapi juga kesadaran sederhana, di perbukitan Alue Meujen, rezeki tumbuh perlahan, jatuh dengan sendirinya, dan dinikmati tanpa tergesa, seperti hidup yang dijalani dengan sabar.

Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Tulisan Terkait
InternasionalNews

Demo Guru di Meksiko Jelang Piala Dunia: Urusan Kami Lebih Penting dari Sepak Bola

POPULARITAS.COM – Jelang dimulainya Piala Dunia 2026, situasi di ibu kota Meksiko...

News

BMKG: Aceh Masih Berpotensi Dilanda Hujan Lebat hingga Angin Kencang

POPULARITAS.COM – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I...

InternasionalNews

Kebakaran Hotel Tewaskan 21 Orang di India, Mayoritas Warga Asing

POPULARITAS.COM – Kebakaran hebat melanda sebuah hotel di New Delhi pada Rabu...

News

Dolar AS Menguat, Harga Obat Naik hingga 10 Persen

POPULARITAS.COM – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali tertekan hingga...

Exit mobile version