POPULARITAS.COM – Di ujung utara Aceh, ombak berkejaran lembut di bibir pantai. Angin laut berhembus membawa aroma asin yang khas, berpadu dengan semerbak kopi Aceh yang diseduh hangat di warung-warung pinggir pantai.
Di sinilah, di Desa Wisata Bantayan, Kecamatan Seunuddon, Kabupaten Aceh Utara, terhampar Pantai Bantayan permata bahari yang kian menawan hati para pelancong.
Dari jalan lintas nasional Medan–Banda Aceh, pengunjung hanya perlu menempuh waktu sekitar 22 menit untuk tiba di lokasi. Namun setibanya di sana, rasa lelah perjalanan seolah lenyap, tergantikan oleh pemandangan laut yang luas dan rimbunan pohon cemara yang tertata rapi di sepanjang garis pantai.
“Di sini bisa menghilangkan penat setelah dikejar tuntutan kerja,” kata Raisul, salah seorang pengunjung, Minggu (26/10/2025).
Hamparan pasir yang luas menjadi daya tarik tersendiri. Anak-anak bebas bermain pasir dan berlarian di tepi air, sementara orang tua dengan mudah mengawasi dari kejauhan. Di bawah rindangnya pohon cemara, keluarga dan rekan-rekan duduk bersantai, berbagi cerita, atau menikmati santapan yang dijajakan pedagang lokal.
Di sepanjang bibir pantai, berjejer gerai kopi Aceh dan kafe bernuansa kekinian, menghadirkan pengalaman ngopi di tepi laut yang menenangkan. Tak hanya itu, kuliner khas seperti mie Aceh, aneka olahan seafood, hingga kuah lada siap menggoyang lidah para wisatawan.
Pantai Bantayan bukan hanya tentang keindahan, tapi juga tentang sejarah dan ketangguhan. “Bantayan juga menjadi salah satu desa yang terdampak tsunami pada tahun 2004 silam,” kata Keuchik Desa Bantayan, Fazal Umri.
Sampai kini, puing-puing bangunan yang rusak akibat gelombang dahsyat itu masih dibiarkan berdiri bukan karena lupa, melainkan sebagai saksi bisu betapa kuatnya warga bangkit dari bencana. Kini, area tersebut bahkan menjadi spot foto populer bagi pengunjung.
Pantai Bantayan terus berbenah. Bagi anak-anak, tersedia waterpark mini yang aman dan menyenangkan. Untuk mereka yang suka tantangan, ada banana boat dan motor ATV yang bisa disewa di tepi pantai.
“Banana boat ini bisa disewa untuk berkeliling pantai, dipandu oleh petugas berpengalaman dan dilengkapi pelampung pengaman,” jelas Keuchik Fazal.
Sementara itu, motor ATV memberi pengalaman seru menyusuri bibir pantai di antara pepohonan cemara yang rindang. Tak jarang, event seni dan budaya juga digelar di kawasan ini, bekerja sama dengan pemerintah daerah dan komunitas lokal mulai dari pertunjukan tari hingga lomba kuliner khas Aceh.
“Bantayan selain indah alamnya, manajemen pengelolaannya juga bagus,” kata Kepala Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Aceh Utara, Saifuddin.
Saifuddin menyebutkan, sinergi antara Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), BUMG, dan aparatur desa menjadi kunci sukses pengelolaan Pantai Bantayan hingga masuk sebagai Desa Wisata Nusantara satu-satunya di Aceh Utara yang meraih predikat itu.
Untuk menikmati semua keindahan ini, pengunjung tak perlu merogoh kocek dalam.Tiket masuk hanya Rp5.000 untuk kendaraan roda dua dan Rp10.000 untuk roda empat.
Rute menuju lokasi pun mudah diikuti. Dari simpang tiga Seunuddon, pengunjung hanya perlu mengikuti papan petunjuk yang terpasang di setiap persimpangan hingga ke pantai.

Menariknya, pantai ini hanya tutup setiap hari Jumat, selebihnya terbuka untuk umum. Dari pagi hingga senja, Pantai Bantayan selalu ramai dikunjungi wisatawan — dari warga lokal hingga pelancong luar daerah yang ingin menikmati panorama laut biru, pasir keemasan, dan semilir angin utara Aceh
Di penghujung sore, langit Bantayan berubah jingga, memantulkan cahaya mentari di permukaan laut yang berkilau. Suara anak-anak bermain, tawa keluarga, dan aroma kopi bercampur menjadi satu harmoni.
Di saat itulah, setiap orang sepakat Pantai Bantayan bukan sekadar tempat berlibur, melainkan sebuah pengalaman yang menenangkan jiwa dan mengingatkan kita akan betapa indahnya alam Aceh yang tetap lestari dalam kearifan lokalnya.
Leave a comment