POPULARITAS.COM – Angin laut sudah lebih dulu menyambut sebelum pantai itu benar-benar terlihat. Aroma asin bercampur bau tanah basah dari tambak-tambak warga menyusup lewat jendela kendaraan, mengiringi perjalanan menuju Gampong Mantak Raya, Kecamatan Simpang Tiga, Kabupaten Pidie.
Petak-petak tambak yang terawat terbentang di kiri-kanan jalan. Airnya tenang, memantulkan langit. Pemandangan ini bukan sekadar hiasan. Warga Simpang Tiga, kecamatan yang didominasi wilayah pesisir, sebagian besar menggantungkan hidup sebagai nelayan dan petambak udang.
Begitu sampai, deretan pondok terbuka berjejer di bibir pantai. Atapnya dari anyaman daun rumbia, tiangnya dari kayu dan bambu. Saat angin bertiup, atap rumbia itu berdesir pelan, seperti ikut bernapas bersama laut. Duduk di bawahnya, terik matahari terasa jauh lebih ramah.
Pondok-pondok itu dibangun pelaku usaha kecil setempat untuk melayani pelancong. Di sana tersedia beragam makanan ringan dan minuman dengan harga wajar, layaknya warung biasa. Tak ada kesan “harga wisata” yang membuat dompet menjerit.
Ombak yang Tak Tergesa
Ombak di Mantak Tari tidak datang dengan garang. Ia bergulung pendek, pecah perlahan, lalu menyapu pasir dengan gemuruh lembut, ritme yang membuat siapa pun betah berlama-lama hanya untuk mendengarkannya.
Laut di depan mata itu bukan laut sembarangan. Pantai Mantak Tari berhadapan langsung dengan Selat Malaka, dengan garis pantai sepanjang kurang lebih 3,1 kilometer, cukup panjang untuk berjalan menyusuri tepian sambil membiarkan buih menjilat mata kaki.

Pasirnya hitam, berkilat ketika tersiram air. Saat diinjak tanpa alas kaki, butirannya terasa hangat dan padat di telapak kaki, berbeda dari pantai berpasir putih yang lazim dijumpai.
Di sepanjang tepi pantai, pohon-pohon eru tumbuh berbaris. Daunnya yang ramping bergoyang ditiup angin, menimbulkan desis halus yang berpadu dengan suara ombak. Dari bawah naungannya, mata leluasa memandang laut yang membentang hingga bertemu kaki langit.
Dari Dermaga Nelayan Jadi Primadona
Siapa sangka, pantai seindah ini dulunya hanya pantai biasa, tempat nelayan setempat berangkat melaut. Fungsi itu bahkan masih bertahan hingga kini. Kawasan Mantak Tari tetap menjadi tempat bersandarnya kapal-kapal nelayan, sehingga punya nilai strategis bagi ekonomi warga sekitar.
Adalah Prof. Dr. Ibrahim Hasan yang menyulap kawasan ini menjadi objek wisata. Ia menjabat Gubernur Aceh sejak 27 Agustus 1986 hingga 25 Mei 1993. Perlahan, Mantak Tari terus tumbuh hingga kini menjadi tujuan favorit warga setiap akhir pekan dan hari libur.
Berendam di Pasir, Berlari Mengejar Bola
“Saban hari libur banyak yang berkunjung untuk mandi laut. Ada yang datang dengan keluarga maupun kerabatnya,” kata Ismail kepada Popularitas.com, Minggu (24/10/2026).
Suasana itu mudah dibayangkan. Tawa anak-anak yang berlarian menyongsong ombak, teriakan riang saat air laut menyiram tubuh, dan percakapan hangat keluarga yang menggelar bekal di bawah pondok.
Kepercayaan soal khasiat pasir hitam itulah yang membuat tak sedikit pengunjung sengaja membenamkan sebagian tubuhnya ke dalam pasir sambil rebahan, menjadikannya semacam terapi alami. Hangatnya pasir yang menyelimuti kulit, ditingkahi semilir angin laut, menghadirkan rasa rileks yang sulit ditemukan di tengah hiruk-pikuk kota.
Hamparan pantai yang memanjang juga kerap menjadi lapangan dadakan. Para pria muda bermain bola di atas pasir, sesekali menceburkan diri ke laut untuk melepas gerah, lalu kembali berlari dengan tubuh basah berbalut pasir.
Bunker Sunyi di Gerbang Masuk
Di balik keceriaan itu, Mantak Tari menyimpan jejak sejarah. Tak jauh dari jalan masuk, berdiri sebuah bunker perang yang disebut-sebut dibangun tentara Jepang sebelum Indonesia merdeka.
“Ini (bunker) Jepang yang bangun. Banyak pengunjung kadang berfoto di bunker ini,” jelas Ismail.
Keberadaannya bukan hal yang mengejutkan. Tentara Jepang mendarat di Aceh pada 12 Maret 1942, dan awalnya disambut rakyat karena berjanji membebaskan mereka dari penjajahan. Janji itu tak bertahan lama. Perlawanan rakyat Aceh pecah sejak awal pendudukan, salah satunya di Cot Plieng, Lhokseumawe, pada 10 November 1942, dipicu tindakan sewenang-wenang tentara Jepang.
Di berbagai pesisir Nusantara, Jepang membangun bunker serupa. Bangunan pertahanan itu banyak didirikan di bantaran pantai sebagai benteng menghadapi Perang Pasifik, mengawasi kemungkinan serangan Sekutu dari arah laut.
Dindingnya yang tebal dan kusam di Mantak Tari seolah menyimpan cerita tentang masa ketika pantai ini bukan tempat bersantai, melainkan garis pertahanan. Kini, bunker itu menjadi latar foto favorit, tempat masa lalu dan masa kini bertemu dalam satu bingkai.
Sewa Ban, Puas Seharian
Bagi pengunjung yang membawa anak-anak atau ingin berenang lebih santai, pedagang di lokasi menyediakan jasa sewa ban. Tarifnya ramah di kantong: Rp10 ribu untuk ukuran anak-anak dan Rp15 ribu untuk dewasa, dengan durasi sepuasnya.
Mengapung di atas ban, membiarkan tubuh terayun ombak kecil sementara matahari perlahan condong ke barat, mungkin itulah cara terbaik menikmati Mantak Tari. Hingga tanpa terasa, langit mulai jingga, dan rasanya terlalu cepat untuk pulang.
Leave a comment