POPULARITAS.COM – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan dampak perang Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel berpotensi mendorong lebih dari 30 juta orang jatuh ke jurang kemiskinan. Konflik berkepanjangan ini juga memicu lonjakan kerawanan pangan di sejumlah negara berkembang.
Pemicu utamanya adalah terganggunya jalur perdagangan strategis di Selat Hormuz. Gangguan tersebut menghambat pasokan energi dan distribusi pupuk global, sekaligus menekan produktivitas pertanian di banyak kawasan.
Dikutip dari Al Jazeera, Jumat (24/4/2026), Administrator United Nations Development Programme (UNDP), Alexander De Croo, menegaskan dampak konflik sudah terasa nyata.
“Sekalipun perang akan berhenti besok, dampak-dampak tersebut sudah Anda alami, dan akan mendorong lebih dari 30 juta orang ke dalam kemiskinan,” kata De Croo.
Ancaman Krisis Pangan Global
Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) sebelumnya juga telah mengingatkan potensi bencana pangan jika gangguan di Selat Hormuz berlanjut. Sepertiga pasokan pupuk dunia melewati jalur tersebut, dengan sebagian besar produksinya berasal dari kawasan Timur Tengah.
Sejumlah negara disebut paling rentan terhadap krisis ini, antara lain India, Bangladesh, Sri Lanka, Somalia, Sudan, Tanzania, Kenya, dan Mesir.
“Kerawanan pangan akan berada pada tingkat puncaknya dalam beberapa bulan, dan tidak banyak yang dapat Anda lakukan untuk mengatasinya,” ujar De Croo.
Tekanan Ekonomi dan Energi Global
Dari sisi ekonomi, perang ini diperkirakan menghapus sekitar 0,5% hingga 0,8% produk domestik bruto (PDB) dunia. Ketegangan di Selat Hormuz sebagai jalur vital minyak global turut mengerek harga energi dan memicu ketidakpastian pasar.
“Hal-hal yang membutuhkan waktu puluhan tahun untuk dibangun, dibutuhkan delapan minggu perang untuk menghancurkannya,” jelas De Croo.
Analis internasional memperingatkan pemulihan sektor energi tidak akan terjadi seketika meski gencatan senjata tercapai. Pasokan minyak dan gas dunia diperkirakan tetap terganggu, bahkan berpotensi menyebabkan kekurangan energi global hingga 10%.
Bantuan Kemanusiaan Terhambat
Di sektor kemanusiaan, serangan militer yang berlangsung sejak akhir Februari membuat distribusi bantuan ke wilayah krisis tersendat. Banyak pengiriman tertunda akibat kondisi keamanan yang tidak stabil.
“Kami harus mengatakannya kepada orang-orang tertentu, maaf sekali, tetapi kami tidak dapat membantu Anda. Orang yang akan bertahan hidup dengan bantuan tidak akan mengalami hal ini, dan akan semakin rentan,” ungkap De Croo.
Konflik Belum Berakhir
Dalam sepekan terakhir, ketegangan antara Iran dan AS-Israel masih tinggi. Gencatan senjata antara Israel dan Lebanon dilaporkan diperpanjang selama tiga minggu, meski bentrokan di lapangan masih terjadi dan negosiasi damai belum menghasilkan kesepakatan final.
Iran menyatakan Selat Hormuz sulit dibuka kembali karena pelanggaran gencatan senjata yang terus berulang. Penyitaan kapal dan blokade laut memperparah gangguan distribusi minyak dunia.
Konflik militer sendiri berlangsung sejak 28 Februari 2026, ketika AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran. Teheran membalas dengan serangan rudal dan drone ke sejumlah wilayah, termasuk Israel dan negara-negara Teluk.
Selama Selat Hormuz belum kembali normal, tekanan terhadap ekonomi, pangan, dan energi dunia dipastikan akan terus berlanjut. (hsn)
Sumber: beritasatu.com

Leave a comment