POPULARITAS.COM – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, yang jatuh pada 12 Rabiulawal dalam kalender Hijriah, merupakan momen penting bagi umat Islam di seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia.
Tidak hanya menjadi wujud cinta kepada Rasulullah, peringatan ini juga berfungsi sebagai sarana memperkuat identitas keagamaan sekaligus melestarikan tradisi lokal yang telah diwariskan turun-temurun.
Lantas, tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW apa saja yang ada di Indonesia? Dihimpun Beritasatu.com dari berbagai sumber, berikut ulasan lengkapnya:
1. Sekaten (Yogyakarta)
Tradisi Sekaten digelar oleh Kesultanan Yogyakarta dan Surakarta, berlangsung dari 5 hingga 12 Mulud (kalender Jawa setara Rabiulawal).
Semula digunakan Sunan Kalijaga untuk menyebarkan Islam lewat seni gamelan, hingga masyarakat tertarik untuk mendengarkan kalimat syahadat dan akhirnya memeluk Islam.
2. Walima (Gorontalo)
Di Gorontalo, tradisi Walima telah berlangsung sejak era kerajaan Islam abad ke-17.
Masyarakat melakukan zikir berjemaah di masjid, sementara di rumah mereka menyiapkan aneka panganan khas seperti kolombengi, curuti, buludeli, wapili, dan pisangi.
Sajian tersebut diletakkan di atas Tolangga, semacam usungan kayu berbentuk perahu atau menara, yang kemudian dibawa ke masjid.
3. Nyiram Gong (Cirebon)
Di Keraton Kanoman, Cirebon, masyarakat melakukan ritual Nyiram Gong, yakni pembersihan gamelan sekaten.
Ritual ini dilakukan dengan doa, selawat, air kembang, air kelapa hijau fermentasi, dan batu bata merah yang diusap dengan tepes (kulit kelapa kering).
Proses ini dipercaya menjaga keutuhan dan kehalusan suara alat musik pusaka.
4. Endog-endogan (Banyuwangi)
Di Banyuwangi berkembang tradisi endog-endogan, di mana telur dipercantik dengan bunga kertas dan ditancapkan pada pohon pisang yang dihias.
Kemudian telur hias tersebut diarak keliling kampung menggunakan becak, dan sebagian diletakkan di masjid sambil melafalkan syair pujian kepada Nabi Muhammad yang tercantum dalam kitab Al-Barjanzi.
5. Baayun Maulid (Banjar, Kalimantan Selatan)
Masyarakat Banjar, Kalimantan Selatan, memiliki tradisi Baayun Maulid, yakni mengayun bayi sebagai simbol perayaan kelahiran Nabi.
Bayi ditempatkan pada ayunan dari tiga lapis kain dan dihias dengan janur, sementara di bawahnya disiapkan piduduk, yakni wadah berisi beras, gula habang, nyiur, benang, dan uang receh. Prosesi ini disertai syair, ceramah, dan doa.
- Khanduri Molod (Aceh)
Di Provinsi Aceh, biasa perayaan maulid nabi berlangsung dari tanggal 12 Rabiul Awal, hingga tiga bulan kedepan. Biasanya disebut Maulid awal, Maulid tengah dan Maulid Akhir. Setiap perayaan dirayakan dengan kenduri atau makan bersama yang sebelumnya diramaikan oleh ceramah agama dan lantunan zikir maulid dengan gaya yang khas. Kenduri Maulid juga sering dilakukan dikediaman pribadi dengan mengundang warga sekitar dan anak-anak yatim serta fakir miskin.
Amalan Spiritual Sambut Maulid Nabi Muhammad SAW
Selain ragam tradisi budaya di atas, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW juga kental dengan kegiatan ibadah yang meningkatkan kecintaan terhadap Rasulullah. Beberapa amalan utama yang kerap dijalankan:
1. Selawat dan pengajian
Umat Islam dianjurkan memperbanyak selawat, karena Rasulullah pernah bersabda, Rasulullah bersabda:
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا
Artinya, “Barang siapa berselawat kepadaku satu kali, maka Allah akan memberikan rahmat kepadanya sepuluh kali” (HR Muslim).
Di samping itu, majelis-majelis maulid biasanya diisi dengan pembacaan kisah hidup nabi dari kelahiran hingga perjuangannya sebagai teladan.
2. Tadabbur Al-Qur’an dan kajian
Membaca serta memahami Al-Qur’an juga menjadi bagian penting dalam maulid. Kajian-kajian tentang sirah dan akhlak nabi menjadi media untuk memperdalam iman dan ketakwaan umat Islam.
3. Sedekah dan sosial
Merayakan maulid sering disertai dengan sedekah dan kegiatan sosial, seperti membagikan makanan kepada fakir miskin.

Leave a comment