POPULARITAS.COM – Ratusan petani bersama mahasiswa menggeruduk kantor PT Cemerlang Abadi (PT CA) di Gampong Cot Seumantok, Kecamatan Babahrot, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Aceh, Minggu (1/11/2026).
Kedatangan massa ke kantor perusahaan tersebut untuk mendesak penyelesaian sengketa lahan yang telah berlarut-larut selama beberapa tahun tanpa adanya kepastian.
Dalam aksi itu, situasi sempat memanas hingga berujung ricuh setelah demonstran menerobos masuk dan memecahkan sejumlah kaca jendela kantor PT CA.
Aksi tersebut itu diikuti oleh Kelompok Tani Seuneubok Lubok Raja Karya Abadi serta sejumlah organisasi mahasiswa, di antaranya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), dan Komite Peralihan Aceh (KPA) Wilayah 013 Blangpidie. Dalam aksi itu, massa juga terlihat mengibarkan dua bendera Bulan Bintang.
Wakil Ketua I DPRK Abdya, Mustiari alias Mus Seudong, turut hadir menyaksikan jalannya demonstrasi.
Dalam orasinya, para demonstran mendesak penyelesaian persoalan lahan yang selama ini menjadi polemik. Mereka juga mempersoalkan keberadaan dan aktivitas operasional PT CA yang dituding menjalankan kegiatan secara ilegal di wilayah Abdya.
Situasi mulai memanas ketika massa meminta bertemu langsung dengan pihak manajemen perusahaan.
Namun, perwakilan manajemen yang hendak ditemui tidak berada di tempat. Kondisi tersebut memicu kekecewaan demonstran hingga berujung aksi perusakan sejumlah kaca jendela kantor.
Aparat kepolisian yang mengawal jalannya demonstrasi, kemudian turun tangan mengendalikan situasi, dan berupaya memfasilitasi komunikasi antara masyarakat dan pihak perusahaan.
Ketua Aliansi Masyarakat Tolak PT CA, Amri, mengatakan demonstrasi tersebut merupakan bentuk kekecewaan petani karena belum adanya penyelesaian konkret atas persoalan lahan yang mereka perjuangkan.
Padahal, katanya, pihaknya telah menyampaikan aspirasi melalui rapat dengar pendapat (RDP) bersama DPRK Abdya pada Kamis (29/10/2026) lalu. Namun, pertemuan tersebut belum menghasilkan keputusan sebagaimana yang diharapkan petani.
“Aksi hari ini merupakan bentuk kekecewaan masyarakat, karena RDP dengan DPRK Abdya beberapa waktu lalu, tidak menghasilkan penyelesaian seperti yang diharapkan,” kata Amri didampingi sekretarisnya, Said Dahlan, di sela-sela demonstrasi.
Setelah melalui proses negosiasi, ketegangan akhirnya mereda. Perwakilan masyarakat dan perusahaan sepakat menghentikan seluruh aktivitas pekerjaan di atas lahan seluas 4.800 hektare hingga persoalan kedua belah pihak diselesaikan melalui musyawarah untuk mencapai mufakat.
Kesepakatan tersebut dituangkan dalam surat pernyataan bermeterai Rp10.000 tertanggal 1 November 2026.
Dokumen itu dibacakan Mustiari di hadapan massa dan ditandatangani Alex Subianto sebagai perwakilan perusahaan, Darwis dari pihak Seuneubok, Zainuddin selaku penasihat, serta Khairul Rizal dari IMM dan Rahmat Maulana dari HMI.
Dalam surat tersebut juga ditegaskan bahwa apabila perusahaan tidak mematuhi kesepakatan, persoalan akan ditempuh melalui jalur hukum.
Usai pembacaan kesepakatan, Zainuddin meminta seluruh demonstran membubarkan diri secara tertib, seraya mengingatkan pihak perusahaan agar tidak menjalankan aktivitas, khususnya memanen sawit, sebelum persoalan lahan tuntas.


Leave a comment