Home Internasional Respons Iran Usai 3 Negara Muslim Bentuk Pakta Pertahanan
InternasionalNews

Respons Iran Usai 3 Negara Muslim Bentuk Pakta Pertahanan

Share
Respons Iran Usai 3 Negara Muslim Bentuk Pakta Pertahanan. Foto : HO/Antara | popularitas.com
Share

POPULARITAS.COM – Keputusan Arab Saudi, Pakistan, dan Turkiye untuk memperluas kerja sama pertahanan bersama melalui penandatanganan “Pakta Mekkah” memicu dinamika baru di kawasan Asia Barat.

Berdasarkan klausul kesepakatan yang ditandatangani pada Jumat (7/8/2026), serangan bersenjata eksternal terhadap salah satu negara anggota akan dianggap sebagai serangan terhadap ketiganya.

Langkah strategis ini mengemuka di tengah perang Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran yang telah mengganggu arus perdagangan di Selat Hormuz. Meskipun ketiga negara menegaskan bahwa pakta pertahanan ini tidak ditujukan kepada negara tertentu seperti Iran, Teheran merespons kesepakatan tersebut dengan relatif tenang.

Dikutip dari Al Jazeera, para pejabat Iran cenderung menyoroti aspek persatuan antarnegara Muslim serta momentum merosotnya dominasi militer AS di kawasan.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan pentingnya solidaritas regional, tanpa menyebut langsung perjanjian trilateral tersebut.

“Saatnya untuk hanya mengandalkan diri sendiri dan merangkul persaudaraan sejati. Ketika umat Muslim bersatu, kita dapat menghadapi setiap tantangan dari pihak luar yang jahat secara langsung,” tulis Abbas Araghchi melalui akun X miliknya.

Peneliti dari Institut Clingendael, Hamidreza Azizi menilai, momentum kesepakatan ini memicu kekhawatiran jangka panjang bagi Teheran.  Pasalnya, kesepakatan ini tercapai di tengah rentetan serangan kelompok Houthi di Yaman terhadap fasilitas vital Arab Saudi, termasuk kilang minyak Saudi Aramco di Jizan dan pelabuhan al-Makha di Laut Merah.

Menurutnya, pakta ini tidak hanya memperkuat daya jera Riyadh, tetapi juga berpotensi memfasilitasi tekanan terkoordinasi terhadap Iran di Yaman, Irak, hingga sektor ekonomi melalui Turkiye dan Pakistan.

Di sisi lain, pejabat Iran memandang kesepakatan ini sebagai indikator memudarnya pengaruh Washington di Teluk Persia.

Direktur Jenderal Urusan Parlemen dan Hukum Kementerian Luar Negeri Iran, Hossein Noushabadi menuturkan, perubahan peta keamanan ini sebagai sinyal positif bagi kemandirian kawasan.

“Pakta tersebut dipandang sebagai awal dari runtuhnya hegemoni keamanan AS di Asia Barat dan Teluk Persia,” terang Hossein Noushabadi.

“Tampaknya, dalam waktu yang tidak terlalu lama, tatanan keamanan regional baru yang didasarkan pada kerja sama antar negara-negara regional akan menggantikan struktur kekuasaan yang dipaksakan oleh aktor-aktor di luar kawasan, menandai berakhirnya paradigma keamanan dan geopolitik yang berlaku serta keluarnya Asia Barat dari lingkup kepentingan vital AS,” sambungnya.

Foto : HO
Sindonews |
popularitas.com

Meskipun beberapa pengamat politik melihat pakta ini lebih bermakna simbolis dan belum menjadi ancaman nyata bagi Teheran, nada kritis tetap muncul dari faksi garis keras di parlemen Iran.

Beberapa politisi mengkhawatirkan pakta tersebut dapat dimanfaatkan untuk menyudutkan jaringan front perlawanan yang didukung Iran.

Anggota Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Ebrahim Azizi melayangkan peringatan keras mengenai kalkulasi keamanan di kawasan.

“Jelas bahwa negara-negara Arab akhirnya memahami bahwa keamanan tidak dapat diimpor, keamanan harus dibangun di dalam kawasan ini. Namun, peta jalan masih belum ada,” tegas Ebrahim Azizi.

“Peringatan, kesalahan perhitungan adalah kesalahan sejarah. Iran telah membuktikan bahwa setiap kesalahan pasti ada konsekuensinya. Keseimbangan adalah satu-satunya jalan ke depan,” lanjutnya.

Senada, anggota komisi parlemen lainnya, Ebrahim Rezaei turut melontarkan kritik melalui media sosial.

“Kesepakatan di atas kertas dengan Turki dan Pakistan tidak akan membawa keamanan bagi Arab Saudi, sama seperti ketergantungan sepihak pada Amerika selama bertahun-tahun tidak membawa keamanan bagi mereka,” tulis Ebrahim Rezaei di X.

Direktur Program Timur Tengah dan Afrika Utara di Chatham House, Sanam Vakil menyimpulkan bahwa Pakta Mekkah mencerminkan dorongan diplomasi pragmatis dari Riyadh, Islamabad, dan Ankara.

Langkah ini diambil sebagai respons atas ketidakpastian kebijakan AS, manuver Israel, serta potensi eskalasi pembalasan dari Iran dalam jangka panjang.

Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Tulisan Terkait
News

Yaqut Minta Pihak yang Terima Aliran Korupsi Kuota Haji Dihadirkan di Sidang

POPULARITAS.COM – Mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas meminta pihak-pihak yang disebut...

Internasional

Gempa Kolombia, 111 Tewas dan 87 orang terluka

POPULARITAS.COM – Peristiwa gempa bumi dahsyat di Kolombia, sisakan duka bagi para...

Internasional

Gempa dahsyat 7,4 Magnitudo guncang Kolombia

POPULARITAS.COM – Kolombia diguncang gempa dahsyat. Diperkirakan, kekuatannya 7,4 Magnitudo. Dampaknya, ratusan...

News

Mendagri terbitkan izin pemeriksaan, Wabup Pidie Jaya Hasan Basri diperiksa dua kali di Polda Aceh

POPULARITAS.COM – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) telah terbitkan izin ihwal pemeriksaan Wakil...

Exit mobile version