POPULARITAS.COM – Dua pekan sudah berlalu sejak banjir bandang menggulung Beutong Ateh Banggalang dan sejumlah wilayah lain di Aceh.
Namun waktu belum mampu mengeringkan luka. Di balik tenda-tenda yang berdiri di halaman kantor camat, hidup ratusan warga kini bergulir dalam sunyi kehilangan.
Air bah itu tidak hanya merendam tanah. Ia merenggut rumah, pakaian, seluruh kenangan, serta ruang untuk kembali pulang.
Warga Gampong Kuta Tengoh dan Babah Suak masih bertahan di pengungsian, menggantungkan harapan pada hari-hari yang gelap dan tak pasti. Sementara warga Blang Merandeh sebagian besar memilih tinggal di rumah kerabat karena hunian mereka masih tersisa, meski tidak semuanya layak.
“Kami masih sangat ramai di sini. Mereka tidak punya rumah lagi. Semuanya hilang dalam sekejap. Bagi warga yang memiliki tanah sendiri, bahkan sudah mulai membuat pengungsian sementara dari tenda-tenda dan peralatan seadanya,” ucap Kepala Puskesmas Beutong Ateh, Saiful, saat ditemui di Posko Penanganan Banjir.
Di kantor camat, dinding-dinding yang dulu hanya menampung berkas administrasi kini berubah menjadi tembok perlindungan terakhir.
Anak-anak tidur berdesakan di atas tikar tipis, sementara orang tua menatap malam dengan mata lelah, mencoba meraba sisa hidup yang terpotong oleh bencana.
Di beberapa sudut desa, mereka yang masih memiliki sebidang tanah mulai mendirikan hunian darurat. Bukan rumah, hanya tenda plastik yang disanggah kayu dan bambu, tempat berteduh sementara dari hujan yang masih turun hampir setiap hari.

Akses ke Takengon Masih Lumpuh
Akses roda empat menuju Takengon masih benar-benar terputus. Longsor di berbagai titik membuat jalan berubah menjadi tebing patah, tanah retak, dan kubangan tak berujung.
Jembatan yang selama ini menjadi nadi penghubung antar daerah, jalur penting untuk membawa kopi, cabai, dan berbagai hasil bumi, kini rusak parah.
Rangka-rangka baja itu, seperti menyerah tanpa daya di hadapan amukan air, menyisakan putusnya hubungan dan terputusnya harapan warga yang menggantungkan hidup pada jalur ini.
Untuk saat ini, hanya sepeda motor yang bisa memaksa melintas, itu pun dengan nyawa diletakkan di ujung stang. Tanah licin dan retakan jalan membuat perjalanan menjadi pertaruhan.
Di tengah keterbatasan, warga bahu-membahu membangun jembatan darurat dari tumpukan kayu besar yang terseret banjir.
Jembatan sederhana itu kini menjadi satu-satunya harapan untuk menyeberangi sungai yang memutuskan perjalanan mereka.
“Kalau roda empat benar-benar tidak bisa. Material longsor masih banyak menutup jalan,” ujar Saiful.
Harga BBM Capai Rp100 Ribu per Liter
Di Takengon, warga kembali dipukul kenyataan pahit, kelangkaan Bahan Bakar Minyak membuat harga satu liter menembus Rp100 ribu.
Angka yang mustahil dalam situasi normal, tetapi begitulah kondisi ketika akses darat lumpuh dan wilayah terisolasi total.
Jalur darat dari semua arah masih belum memberi tanda kapan bisa kembali dilintasi.
Namun, bagi warga yang ingin menuju Takengon dengan sepeda motor, maka harus membawa bekal dan BBM cadangan.
Leave a comment