Home Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Rumah Pahlawan Nasional Cut Meutia di Aceh Utara, wisata edukasi dan sejarah
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata AcehFeature

Rumah Pahlawan Nasional Cut Meutia di Aceh Utara, wisata edukasi dan sejarah

Share
Rumah Cut Meutia di Gampong Masjid Pirak, Kecamatan Matangkuli, Kabupaten Aceh Utara, Aceh. FOTO : popularitas.com/Fahzi Aldevan
Share

POPULARITAS.COM – Di Gampong (Desa) Masjid Pirak, Kecamatan Matangkuli, Kabupaten Aceh Utara, Aceh berdiri sebuah rumah kayu sederhana yang menyimpan kisah keberanian seorang perempuan pejuang. Inilah Rumah Cut Meutia, tempat lahir sekaligus ruang awal perjalanan seorang pahlawan nasional yang menjadi simbol perlawanan Aceh terhadap kolonial Belanda. Meski tak semegah museum modern, rumah ini menyuguhkan suasana sejarah yang begitu hidup, seolah membawa pengunjung kembali ke awal abad ke-20.

Dalam catatan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah I dengan judul Rumah Cut Meutia. Cut Nyak Meutia berasal dari keluarga bangsawan di Aceh. Gelar “Nyak” ia peroleh setelah menikah dengan salah seorang bangsawan Aceh yaitu Teuku Syamsarif. Ayahnya bernama Teuku Ben Daud, seorang ulee baling Pirak yang termasuk dalam wilayah (zelfbestuur) Keureutoe.

Ibunya Bernama Cut Jah, putri Ben Seuleumak. Cut Nyak Mutia merupakan satu-satunya perempuan dari lima bersaudara, namun tanggal, bulan, dan tahun lahir Cut Meutia tidak diketahui. Sebagaimana lazimnya setiap anak perempuan di seluruh daerah Aceh, Cut Meutia dididik dengan pelajaran agama Islam. Pendidikan agama Islam dilaksanakan dibawah pengasuhan ulama-ulama yang didatangkan kerumahnya. 

“Hal itu adalah kebiasaan belajar ngaji yang dilakukan oleh keluarga bangsawan ataupun ulee baling lainnya di Aceh,” tulisnya dalam judul Rumah Cut Meutia.

Hasil pendidikan yang diperoleh selama bertahun-tahun telah tertanam dalam jiwanya satu kepribadian tertentu yang berakar dalam dan teguh, sesuai dokrin yang diyakininya bahwa Cut Meutia sanggup berkorban apa saja, baik harta benda, kedudukan maupun nyawanya, demi tegaknya kepentingan agama dan bangsa.

Cut Nyak Meutia selama hidupnya bersuamikan tiga orang lelaki Aceh yang gagah dan berani. Suami pertama bercerai karena melakukan pengkhianatan dengan berpihak kepada Belanda, sedangkan suami yang kedua dan ketiga syahid di medan juang. Kedua suaminya tersebut adalah pejuang sejati dan menjadi pendampingnya dalam melakukan perjuangan untuk mengusir kompeni Belanda. 

Bersama suami kedua yaitu Teuku Chik Tunong ia mendapatkan seorang putra yang bernama Teuku Raja Sabi, selanjutnya melanjutkan perjuangan ibunya. Cut Nyak Meutia tutup usia pada tanggal 25 Oktober 1910, di Hulu Sungai Peutoe. Atas jasa-jasanya itu pemerintah Republik Indonesia telah menganugerahkan kepadanya gelar “Pahlawan Nasional” dengan surat keputusan presiden RI nomor 107 tanggal 2 Mei tahun 1964.

Rumah Cut Nyak Meutia merupakan rumoh (rumah) sekaligus museum pahlawan nasional, Cut Nyak Meutia. Rumah ini bukanlah rumah asli dari pahlawan nasional Cut Meutia, melainkan rumah adat yang dilestarikan dengan cara direkontruksi ulang dengan tetap mempertahankan budayanya. Rumoh Cut Meutia telah mengalami pemugaran oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan D.I. Aceh Bidang Muskala pada tahun 1981 dan selesai dipugar pada tahun 1983. Pemugaran dilakukan dengan tetap mempertahankan keaslian bentuk arsitekturnya. Pada tahun 2006, dilakukan penambahan fasilitas pendukung seperti bale krung pade, bale lumbung dan bale pertemuan.

Rumah Cut Meutia memiliki bentuk arsitektur tradisional rumah adat Aceh yang berbentuk panggung. Arsitektur rumah yang berbentuk panggung ini mengandung filosofi tersendiri dan memiliki multifungsi, baik dari sisi keselamatan terhadap gangguan alam maupun makna dari sisi kehidupan social masyarakat. Rumah ini dibuat panggung seperti halnya rumoh Aceh lainnya dengan jarak setinggi 2,5 meter dari permukaan tanah, karena kehidupan orang Aceh zaman dahulu banyak aktivitas sehari-hari dilakukan di bawah rumah. Bawah rumah biasa digunakan untuk menyimpan hasil tani dan hasil laut.

Rumah Cut Meutia memiliki beberapa bagian, yaitu bagian kolong bawah rumah, ruang depan, ruang tengah, ruang belakang, anjong, dan dapur. Bagian-bagian tersebut memiliki bentuk dan fungsi yang berbeda-beda.

Kolong ini biasa digunakan sebagai tempat menumbuk padi

atau beras menjadi tepung sebagai bahan membuat kue khas orang Aceh. Selain itu, di bawah rumoh Aceh juga terdapat Lumbung Padi dan perkakas lainnya yang biasa digunakan untuk mata pencaharian sehari-hari masyarakat Aceh.

Ruang depan atau juga disebut dengan seramoe keu (serambi depan). Ruang depan merupakan ruang polos tanpa kamar.Seramoe keu di Rumah Cut Meutia memiliki ukuran 11 m x 2,8 m. Ruang depan memiliki fungsi sebagai ruang tamu laki-laki, ruang belajar dan mengaji anak laki-laki pada malam atau siang, juga sebagai tempat tidur tamu laki-laki. Ketika ada acara seperti upacara pernikahan, ruangan ini berfungsi sebagai tempat menjamu tamu untuk makan bersama.

Anjong merupakan ruang untuk anak perempuan. Di rumah Cut Meutia memiliki 2 buah kamar dengan ukuran sama, masing-masing memiliki ukuran 4,4 m x 3,5 m.

Rumah Cut Meutia di Gampong Masjid Pirak, Kecamatan Matangkuli, Kabupaten Aceh Utara, Aceh. FOTO : popularitas.com/Fahzi Aldevan

Ruang belakang rumoh Aceh adalah serambi belakang atau biasa disebut dengan seramoe likoet. Ruang tersebut dibiarkan polos tanpa kamar dan difungsikan sebagai ruang tamu perempuan. Seramoe likoet pada rumah Cut Meutia memiliki ukuran 11 m x 2,9 m. Ruang belakang memiliki ukuran yang hamper sama dengan ruang depan. Selain sebagai ruang tamu perempuan, ruang belakang juga digunakan sebagai tempat untuk belajar mengaji para kaum perempuan.

Serambi ini terletak di sisi sebelah timur dan dapat di akses melalui pintu utama, saat ini serambi digunakan untuk mendisplay foto-foto dan tulisan Sejarah Cut Meutia. Seramoe ini memiliki ukuran 12,3 m x 7,8 m. Kelengkapan ruangan lainnya berupa ruangan dapur. Dapur terdapat di bagian belakang dengan posisi paling rendah dari semua ruang yang ada di rumoh Aceh. Dapur merupakan ruang tambahan yang artinya tidak masuk ke dalam konstruksi bangunan utama rumah adat Aceh, sehingga bentuknya lebih kecil atau menyerupai ruang belakang.

Rumah Cut Meutia dibangun dari kayu khas Aceh dengan struktur panggung, ventilasi lebar, serta ornamen ukiran sederhana. Lantai kayu tua yang berderit saat diinjak, dinding papan berwarna kusam, dan halaman luas yang rindang menghadirkan nuansa masa lalu yang masih terpelihara. Pengunjung dapat melihat bilik kamar, ruang keluarga, dan beberapa bagian yang dipercaya sebagai tempat berlangsungnya rapat keluarga serta diskusi para pejuang.

Meski sebagian bangunan telah mengalami perbaikan, pengurus situs menjaga agar bentuk asli rumah tetap dipertahankan. Wisatawan yang datang sering kali mengatakan bahwa suasanya “hening tapi kuat”—menyiratkan keteguhan hati perempuan yang dikenal tak gentar menghadapi tentara kolonial.

Mengunjungi Rumah Cut Meutia bukan sekadar perjalanan wisata, melainkan juga kesempatan untuk memahami keteguhan hati seorang perempuan Aceh yang berjuang hingga akhir hayatnya. Di tengah kesederhanaan rumah kayu itu, nilai-nilai keberanian dan martabat masih terasa kuat—mengajak generasi masa kini untuk tidak melupakan sejarah.

Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Tulisan Terkait
FeatureHeadline

Lebaran iduladha di Rumah Singgah BFLF

POPULARITAS.COM – Momen merayakan lebaran iduladha bersama keluarga, tentu impian dan keinginan...

FeatureHeadline

Sisi lain Abang Samalanga : Antara politisi dan pecinta kucing

POPULARITAS.COM – Tak banyak yang tahu, selain politisi dan dipercaya sebagai pemimpin...

FeatureHeadline

BPMA bawa kearifan Aceh ke panggung energi nasional

POPULARITAS.COM – Dibalik sorotan lampu LED dan arsitektur modern di Indonesia Petroleum...

Feature

Ramzi Adriman, dosen muda yang dipercaya Mirza Tabrani jabat Wakil Rektor USK Banda Aceh

POPULARITAS.COM – Ramzi Adriman, satu dari empat dosen muda, yang resmi dilantik...

Exit mobile version