Home Headline Rusli Bintang, tangis hancurnya hati seorang ayah
Headline

Rusli Bintang, tangis hancurnya hati seorang ayah

Share
LLDIKTI Aceh : Unaya milik Rusli Bintang
Tangkapan layar saat Podcast bersama pendiri Yayasan Abulyatama Aceh Rusli Bintang dan Rektor Unaya Nurlie Effendi dalam program acara #hendrosakybicara, Sabtu 27 April 2025. FOTO : popularitas.com
Share

POPULARITAS.COM – Nyaris tak ada yang tidak kenal Rusli Bintang. Pria kelahiran 28 April 1950 dari pasangan Bintang Amin dan Halimah itu, sukses menapaki karirnya sebagai pengusaha nasional. Di Aceh, lelaki yang kini berusia 75 tahun itu, lebih dikenal dengan julukan ayan anak-anak yatim.

Lahir dari orangtua miskin di Lam Asan, Kuta Baro di Aceh Besar, bentuk karakter Rusli Bintang jadi lelaki yang kokoh, kuat dan pantang menyerah. Kerasnya masa kecil, remaja dan hingga dewasa, membuatnya tumbuh sebagai pria pekerja keras.

Penulis sendiri, tidak begitu karib dengan lelaki itu. Meski nama baiknya membubung tinggi di Aceh, tidak satu kalipun pernah bersua dengannya. Kisruh yang belakangan hari terjadi di Universitas Abulyatama (Unaya) yang didirikan pria yang pernah melahirkan partai politik itu, memantik rasa penasaran mencari informasi tentang apa yang terjadi.

Rasa itu pun membuncah, kala kisruh dan konflik keluarga antara Rusli Bintang dan anak-anaknya, berdampak pada kematian orang lain. Ya, Wahidin, salah satu Satgas di Unaya hembuskan nafas terakhir akibat pertikaian dan bentrok di kampus tersebut.

Sebagai wartawan, penulis mengenal dekat Nurlis Effendi, pria yang kini ditunjuk sebagai Rektor Unaya oleh Rusli Bintang. Lewat lelaki itu, komunikasi pun terbangun. Sebab miliki ruang podcast, menawarkan kepadanya untuk memberi ruang agar publik mengetahui persoalan yang terjadi.

Akhirnya, Sabtu 26 April 2025, acara Podcasat dimulai. Rusli Bintang hadir secara hibrid. Awalnya, kami ingin menggunakan google meet untuk berinteraksi. Namun, beliau di rentang usianya gagap teknologi, wajar saja, usia beliau menanjak 75 tahun.

Satu-satunya komunikasi yang bisa dilakukan Rusli Bintang hanya lewat panggilan video whatsApp. Akhirnya, tim IT mampu menyiasati aspek teknis dan kendala yang ada. Dialog pun berjalan dengan lancar. Awalnya pria itu bicara blak-blakan, semua isi hatinya diungkap, tentang konflik yayasan, tentang keluarga dan anak-anaknya.

Ia juga berkisah bagaimana susah payah membangun Unaya. Lewat tekad, semangat, dan keinginan memberi makan anak yatim hingga anak-anak yatim bisa tempuh pendidikan tinggi di kampusnya, jadi penyemangat dirinya membesarkan kampus tersebut.

Bahkan, Rusli Bintang menceritakan, saat awal-awal Abulyatama dibangun, mengalami masa-masa sulit, para karyawan dan dosen tidak ada gaji. Namun, semangat membesarkan kampus dan kenginan bantu anak-anak yatim terpatri kuat dalam dadanya.

Kisruh dan konflik yang terjadi saat ini, lebih kepada kerakusan dan ketamakan anak-anaknya. Tapi, Rusli tidak menyalahkan anaknya, justru dia menimpakan masalah ini kepada dirinya sendiri. “Ini salah saya. Semua ini ujian dari Allah kepada dirinya. Apakah saya tetap kuat dan mampu bersabar,” ungkapnya.

Selama ini, sambungnya lagi, Ia memilih diam atas apa yang diperbuat anak-anaknya. Dia tidak ingin melakukan hal apapun, termasuk kehendak membawa masalah itu ke ranah hukum. “Saya ini seorang ayah, kakek bagi cucu-cucu saya. Jika melaporkan mereka dan nanti dipenjara, bagaimana nasib cucu saya. Itu tidak ingin saya lakukan,” terangnya.

Rusli juga menyesalkan kasus terjadi di kampus Unaya yang sebabkan meninggalnya warga Aceh atas nama Wahidin. Menurutnya, itu tanggungjawab besar menghilangkan nyawa orang lain. Kenapa harus bunuh orang, kan lebih baik mereka membunuh ayahnya saja. “Kalau mereka mau, bunuh saya saja. Kan tinggal enak bisa ambil semua. Ini kenapa harus menghilangkan nyawa orang lain,” sesalnya.

Menghilangkan nyawa orang lain itu berat tanggungjawabnya. Allah akan memintai tanggungjawab siapa saja yang terlibat dalam kasus itu, imbuhnya lagi.

Dia juga mengatakan bahwa, apa yang Ia raih saat ini, berkat bantuan kawan-kawannya, orang-orang yang selama ini membantu membesarkan Unaya, berkat doa-doa anak yatim. Tapi, saat ini anak-anaknya sudah sombong, merasa memiliki segalanya dan kurang pandai bersyukur.

Ia juga menepis soal dualisme di berbagai kampus dan yayasan yang Ia miliki. Dia menegaskan bahwa, semua aset yang dimilikinya bukan punya anak-anaknya, sebab dirinya masih hidup. Jikapun nanti dirinya meninggal dunia, harapannya semua yang dia punyai bisa kelola saja oleh masyarakat, bukan oleh anak-anaknya yang sudah serakah saat ini.

Sebagai seorang ayah, timpalnya lagi, dirinya sudah memaafkan anak-anaknya. Sebab, jika hal itu tidak dia lakukan, Ia takut murka Allah terjadi pada putra dan putri yang Ia cintai dan sayangi tersebut. “Saya maafkan. Semua dosa-dosa dan apa yang mereka perbuat pada saya sudah saya maafkan,” katanya.

Masih menurut Rusli, persoalan yang terjadi antara dirinya dan anak-anaknya saat ini, merupakan kesalahan dirinya. Dikatakannya, kerja keras yang dilakukannya saat muda, membuatnya lupa untuk memberikan pendidikan agama bagi anak-anaknya. “timpakan saja semua masalah ini sama saya. Ini kesalahan saya, ini dosa saya yang dulu lupa memberikan pendidikan agama kepada anak-anak saya,” sesalnya.

Dulu, kisahnya, saat dirinya dalam keadaan susah, Ia pernah berjanji pada Allah, jika sukses akan selalu dalam posisi ingin memberi. Hal itu Ia ikrarkan di Jembatan Simpang Surabaya di Banda Aceh. “Jembatannya masih kayu dan jelek saat itu,” paparnya.

Dua puluh lima langkah usai Ia berikrar, Allah menjawab doa-doanya. Karna itu, dia tidak mendustai Allah dengan cara tidak menepati ikrar. Tapi, kini, anak-anaknya lebih mementingkan dirinya sendiri, lupa pada orang-orang yang dulu membantu ayahnya dan keluarganya, timpal Rusli sambil meneteskan air mata. 

Tangisnya makin pecah, lelaki itu tak sanggup membendung linangan air mata yang menetes dari kedua Matanya. Untuk menutupi kesedihannya, Rusli Bintang mengatupkan dua tangannya ke wajah.

Lebih dari satu menit pria tangguh itu menangis, air matanya mengalir deras, tak mampu Ia tutupi. Tangannya sempat meraih tisu disebelah sisinya, lelaki itu tampak menghapus tetesan air yang keluar dari matanya. Rasa bersalah, kesedihan, tampak tergambar jelas dari wajah lelaki tegas itu. Meski kedua matanya sembab, Ia tak henti-henti berdoa, Ia selalu berujar agar Allah memberikan pertolongan padanya dan juga petunjuk kepada anak-anaknya. “Semoga Allah memberi petunjuk kepada anak-anak saya.

Selengkapnya silahkan tonton di channel :

https://www.youtube.com/watch?v=Rrd04a3z1iQ

Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Tulisan Terkait
HeadlineSepakbola

Drama adu penalti, PSG Kampiun Liga Champions 2025/2026

POPULARITAS.COM – Laga final Liga Champions 2025/2026, berlangsung dramatis. Pertandingan yang digelar...

FeatureHeadline

Lebaran iduladha di Rumah Singgah BFLF

POPULARITAS.COM – Momen merayakan lebaran iduladha bersama keluarga, tentu impian dan keinginan...

FeatureHeadline

Sisi lain Abang Samalanga : Antara politisi dan pecinta kucing

POPULARITAS.COM – Tak banyak yang tahu, selain politisi dan dipercaya sebagai pemimpin...

FeatureHeadline

BPMA bawa kearifan Aceh ke panggung energi nasional

POPULARITAS.COM – Dibalik sorotan lampu LED dan arsitektur modern di Indonesia Petroleum...

Exit mobile version