Home Feature Saiful, Penyangga Sehat Warga Beutong Ateuh Benggalang
FeatureNews

Saiful, Penyangga Sehat Warga Beutong Ateuh Benggalang

Share
Saiful, Kepala Puskesmas Beutong Ateuh Banggalang. Poto : Rahmat | popularitas.com
Share

POPULARITAS.COM – Pagi itu, embun masih menggantung di udara dingin yang menelusup di sela batang-batang kayu patah.

Sungai Beutong Ateuh, jalur penghubung Nagan Raya dan Aceh Tengah yang kini berubah rupa menjadi alur baru bekas amukan air, mengalir perlahan, seolah tengah mengingatkan bahwa luka masyarakat belum benar-benar kering.

Di atas jembatan darurat yang disusun dari kayu-kayu hanyutan, seorang pria berkemeja lengan panjang biru dongker, dengan topi berlambang Korpri bertengger di kepalanya, melangkah tenang menyeberangi sungai. Kakinya basah, udara dingin menusuk, namun wajahnya tetap teduh.

Dialah Saiful, Kepala Puskesmas Beutong Ateuh Banggalang.

Lelaki yang meski rumahnya sendiri ikut hilang disapu banjir bandang tiga pekan lalu, tetap datang menemui warga yang sama-sama menjadi korban humbalang banjir dengan senyum yang sama, senyum yang tak ikut hanyut bersama puing-puing rumahnya.

Begitu tiba di seberang, Saiful berjalan menuju sebuah warung kopi sederhana yang kini menjadi tempat singgah relawan dan tenaga kesehatan.

Di sana, tim Dinas Kesehatan dan relawan Lintas Komunitas Abdya Peduli sudah menantinya, membawa sekotak obat-obatan yang sangat dibutuhkan warga pengungsian.

Ia duduk di bangku panjang didepan posko banjir, tanpa sadar persis di samping kami, meski ini adalah pertemuan pertama. Namun sikapnya ringan, suaranya hangat, membuatnya terasa seperti seseorang yang sudah lama dikenal.

Tak butuh waktu lama sebelum ia mulai bercerita. Tentang kepedihan warganya, tentang ketegaran yang masih harus dilanjutkan dari hari ke hari.

“Warga di kantor camat dan tenda pengungsian masih ramai,” ucapnya perlahan.

“Sebagian sudah membangun rumah darurat di tanah mereka. Yang penting, ada tempat berteduh dulu,” tambahnya.

Suara itu terdengar bergetar, tapi senyumnya tetap hidup. Senyum yang di tengah segala kehilangan, masih ia hadiahkan bagi orang-orang yang bergantung padanya.

Di balik kata-katanya yang tenang, tampak jelas bahwa Saiful memikul beban yang lebih besar dari sekadar yang ia ceritakan.

Ia bukan hanya tenaga kesehatan di tengah bencana, ia juga korban. Rumahnya hilang tersapu banjir, bersama ratusan rumah lain di tiga gampong: Kuta Tengoh, Babah Suak, dan Blang Merandeh. Untungnya, istri dan anak Saiful selamat dari hantaman air besar, dan kini mengungsi bersama warga desa lainnya di kantor camat.

Gunung yang selama ini menjadi pelindung berubah menjadi ancaman. Sungai yang setiap hari diandalkan warga untuk mandi dan mencuci justru menjelma menjadi monster yang membawa batu, lumpur, dan kayu besar, menghancurkan apa saja yang menghalangi jalannya.

Namun Saiful tidak punya waktu larut dalam kesedihan itu.

“Rumah saya juga hanyut,” ucapnya lirih, tapi tetap tersenyum.

“Tapi saya punya tanggung jawab besar. Banyak warga sakit diare, gatal-gatal. Kalau tidak cepat ditangani, bisa bahaya. Makanya begitu dengar ada obat masuk, saya langsung ke sini,” ungkapnya.

Mendengarnya berbicara, kami merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan, perpaduan antara keteguhan, keikhlasan, dan kelelahan yang ia sembunyikan di balik senyumnya.

Saat ingin bertanya bagaimana perasaannya menghadapi semua ini, ia hanya menggeleng sambil menarik napas.

“Yang saya lakukan belum tentu bisa mengobati luka warga. Tapi ini tugas saya. Saya hanya ingin berbakti,” katanya dengan penuh semangat.

Ia kemudian bercerita tentang malam ketika banjir bandang datang. Hujan sejak pagi membuat sebagian warga cemas, namun tak ada yang menyangka air akan turun dengan ganas saat magrib.

“Kami tidak bisa berbuat apa-apa. Gelap. Hanya rasa takut,” kenangnya.

Kini, aliran sungai berubah total. Rumah-rumah warga yang dulu berdiri rapi berubah menjadi jalur air baru, sementara dibawah jembatan besi yang dulu dialiri sungai kini justru menjadi hamparan daratan.

Meski demikian, Saiful tetap memilih berada di barisan terdepan dalam pemulihan kesehatan warga. Ia menyambut relawan, menyalami mereka satu per satu, dan tak berhenti mengucapkan terima kasih.

“Terima kasih saudara kami. Kepedulian kalian sangat membantu. Semoga suatu saat kita berjumpa lagi, bukan dalam suasana duka seperti ini,” pintanya.

Saiful melangkah pergi dengan kotak obat di tangannya, menyusuri jalanan yang masih dipenuhi lumpur.

Di antara puing-puing dan reruntuhan, ia kembali membawa harapan bagi warganya, meski harapannya sendiri baru saja direnggut oleh air bah.

Karena baginya, melayani adalah rumah yang tak akan pernah hanyut.

Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Tulisan Terkait
EkonomiNews

Mualem Panggil Kepala BPMA Bahas Blok Andaman dan Pipa Gas

POPULARITAS.COM – Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau Mualem memanggil Kepala Badan Pengelola Migas Aceh...

News

Marzuki Ali Basyah luncurkan buku ‘Polda Aceh Meutuah’

POPULARITAS.COM – Irjen Pol Marzuki Ali Basyah, rabu (3/6/2026), resmi luncurkan bukunya....

News

Gerindra Pidie Jaya : Pergantian pimpinan BGN perkuat program MBG

POPULARITAS.COM – Politikus partai Gerindra di Pidie Jaya, Fakhrurrazi mendukung penuh kebijakan...

InternasionalNews

Krisis Demografi Makin Nyata, Jepang Kehilangan 3 Juta Penduduk dalam 5 Tahun

POPULARITAS.COM – Jepang tengah menghadapi krisis demografi yang kian mengkhawatirkan. Dalam lima...

Exit mobile version