Home News Wartawan Lebih Depresi Dibanding Tenaga Medis Hadapi Corona
News

Wartawan Lebih Depresi Dibanding Tenaga Medis Hadapi Corona

Share
Posko Jurnalis Liput COVID-19 Disemprot Disinfektan
Psoko Jurnalis peliput COVID-19 disemprot disinfektan. Ampon | popularitas.com
Share

JAKARTA (popularitas.com) – Sebanyak 45,92 persen wartawan mengalami gejala depresi di tengah wabah virus corona yang melanda Indonesia. Selain itu, 57,14 persen wartawan mengalami kejenuhan umum.

Hal tersebut diketahui dari hasil survei persepsi diri wartawan saat pandemi virus corona yang dilakukan oleh Center for Economic Development Study (CEDS) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Padjajaran.

Survei dilakukan secara daring pada periode 2-10 April. 98 wartawan dari berbagai daerah Indonesia menjadi responden survei tersebut, dengan domisili terbesar di Pulau Jawa.

“Terdapat 45,92 persen wartawan yang memiliki gejala depresi, jauh lebih tinggi dari tenaga kesehatan (28 persen),” demikian pernyataan dalam hasil survei tersebut, Sabtu, 16 Mei 2020.

Selain itu, wartawan yang masih keluar rumah untuk meliput berita di tengah pandemi lebih banyak mengalami gejala depresi, atau sebesar 26,53 persen. Mereka juga memiliki peluang 1,65 kali mengalami gejala depresi dibanding wartawan yang tidak keluar rumah untuk meliput berita.

Jika dibagi ke dalam jenis kelamin, maka wartawan laki-laki lebih banyak mengalami gejala depresi (47,3 persen) dibandingkan wartawan perempuan (43,90 persen).

Berdasarkan tingkatan usia, wartawan berusia 21-30 tahun lebih memiliki gejala depresi (52,8 persen) dibanding wartawan kategori usia 31-40 tahun (44,19 persen) dan 41-50 tahun (25 persen).

Kemudian, jika dikategorikan dari media tempat bekerja, wartawan media online, televisi, dan radio lebih mengalami gejala depresi dibanding wartawan media cetak harian dan cetak mingguan.

Sebanyak 58,70 persen wartawan media online, 60 persen wartawan radio, dan 45 persen wartawan TV memiliki gejala depresi. Sedangkan, di media cetak harian, hanya 21,74 persen wartawan yang memiliki gejala depresi, bahkan wartawan media cetak mingguan tidak memiliki depresi sama sekali.

Sementara wartawan yang meliput isu pemerintahan/umum cenderung lebih memiliki gejala depresi, dengan 51,52 persen.

Gejala yang dialami di antaranya terganggu hal yang biasa, sulit memusatkan pikiran, merasa tertekan, lebih berat mengerjakan, ketakutan, tidur gelisah, merasa sendirian.

Hasil survei juga menunjukkan bahwa sebanyak 57,14 wartawan mengalami kejenuhan umum. Wartawan yang tidak keluar rumah untuk meliput berita lebih banyak mengalami kejenuhan (33,67 persen) dan memiliki peluang 2,58 kali mengalami kejenuhan dibandingkan yang keluar untuk meliput berita.

Oleh karena itu, tim peneliti survei ini merekomendasikan sejumlah hal. Di antaranya yakni; layanan konseling kesehatan jiwa secara aktif; psikoterapi; dukungan pemerintah berupa insentif, rewards, asuransi.

Kemudian, diperlukan juga dukungan dari institusi tempat kerja dengan cara pembatasan jam kerja, komunikasi, monitoring dampat terus menerus dan sistematis, dan menyediakan asuransi risiko.

Sumber: CNN

Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Tulisan Terkait
News

Abu Doto Berpulang

POPULARITAS.COM – Mantan Gubernur Aceh Zaini Abdullah atau Abu Doto meninggal dunia...

News

Pemerintah Aceh Prihatin atas Insiden di KMP Aceh Hebat 2

‎‎POPULARITAS.COM –  Pemerintah Aceh menyampaikan rasa prihatin yang mendalam atas insiden yang...

HukumNews

Kemenkum Aceh Desak Bener Meriah Bikin Qanun Perlindungan Alpukat hingga Gula Enau

POPULARITAS.COM –  Kantor Wilayah Kementerian Hukum (Kanwil Kemenkum) Aceh mendesak Pemerintah Kabupaten...

News

Lantik Kepengurusan JMSI Aceh 2025-2030, Bang Hendri : Konstituen Dewan Pers paling rapi

POPULARITAS.COM – Ketua Dewan Pakar Hendri CH Bangun, lantik Kepengurusan Pengurus Daerah...

Exit mobile version