POPULARITAS.COM – Dataran Tinggi Gayo tidak hanya dikenal sebagai penghasil kopi arabika berkualitas dunia dan panorama alam pegunungan yang memukau. Di balik udara sejuk, hamparan perbukitan hijau, serta kabut yang menyelimuti kawasan ini, tersimpan kekayaan budaya dan tradisi yang telah diwariskan turun-temurun selama ratusan tahun.
Salah satu warisan budaya paling menarik yang masih bertahan hingga kini adalah pacuan kuda tradisional Gayo. Atraksi budaya ini bukan sekadar perlombaan adu cepat antar kuda, melainkan sebuah pesta rakyat yang sarat nilai sejarah, persaudaraan, prestise, hingga identitas masyarakat Gayo.
Bagi wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Bener Meriah, menyaksikan pacuan kuda tradisional menjadi pengalaman wisata budaya yang berbeda. Sorak-sorai penonton, derap kaki kuda di lintasan, hingga semangat para joki cilik menjadi daya tarik yang sulit ditemukan di daerah lain di Indonesia.
Masyarakat Gayo yang mendiami wilayah pegunungan sejak dahulu memiliki hubungan yang sangat erat dengan kuda. Kondisi geografis yang berupa dataran tinggi membuat kuda menjadi sarana transportasi utama sebelum hadirnya kendaraan bermotor.
Pada masa lalu, kuda dimanfaatkan untuk mengangkut hasil pertanian, membawa barang dagangan, membantu aktivitas pertanian, hingga menjadi alat transportasi antar kampung. Tidak heran apabila masyarakat Gayo memiliki tradisi memelihara kuda yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Lama-kelamaan, kepemilikan seekor kuda tidak lagi sekadar memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kuda berubah menjadi simbol kehormatan, harga diri, kebanggaan keluarga, bahkan lambang status sosial seseorang.
Semakin tangguh dan cepat seekor kuda, semakin tinggi pula prestise pemiliknya di tengah masyarakat.
Berangkat dari kecintaan masyarakat terhadap kuda, lahirlah tradisi pacuan kuda yang kemudian berkembang menjadi pesta rakyat terbesar di Tanah Gayo.
Ajang ini menjadi wadah silaturahmi masyarakat dari berbagai kampung sekaligus arena pembuktian kuda-kuda terbaik yang dimiliki setiap daerah.
Pacuan kuda tradisional tidak sekadar mencari siapa yang paling cepat mencapai garis finis. Di balik perlombaan tersebut tersimpan semangat sportivitas, kebersamaan, serta kebanggaan membawa nama kampung masing-masing.
Tradisi ini hingga kini tetap dilestarikan di tiga wilayah Tanah Gayo, yaitu Kabupaten Aceh Tengah, Kabupaten Bener Meriah, dan Kabupaten Gayo Lues.
Saat ini pacuan kuda tradisional rutin diselenggarakan sebanyak empat kali dalam setahun.
Dua seri digelar di Kabupaten Aceh Tengah, sementara masing-masing satu seri dilaksanakan di Kabupaten Bener Meriah dan Kabupaten Gayo Lues.
Setiap pelaksanaan selalu dipadati ribuan penonton yang datang tidak hanya dari berbagai daerah di Aceh, tetapi juga wisatawan dari luar provinsi yang penasaran ingin menyaksikan salah satu tradisi tertua masyarakat Gayo tersebut.
Biasanya perlombaan digelar setelah musim panen, bertepatan dengan cuaca cerah pada pertengahan tahun sehingga menjadi momentum pesta rakyat yang dinanti masyarakat.
Sejarah Pacuan Kuda Sejak Abad ke-19
Pacuan kuda tradisional dipercaya telah berlangsung jauh sebelum Indonesia merdeka, bahkan sebelum Belanda menguasai wilayah Gayo.
Dalam buku Permainan Tradisional di Dataran Tinggi Gayo karya Piet Rusydi yang diterbitkan Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh tahun 2011 disebutkan bahwa perlombaan pacuan kuda telah berlangsung sekitar tahun 1850.
Saat itu arena pacuan berada di kawasan Wekef hingga Menye dengan panjang lintasan sekitar 1,5 kilometer.
Berbeda dengan arena saat ini yang berbentuk oval, lintasan kala itu berupa jalur lurus memanjang sehingga menuntut kecepatan penuh dari setiap kuda yang berlaga.
Tradisi tersebut menjadi hiburan masyarakat seusai panen sekaligus ajang mempererat hubungan antar kampung.
Versi lain yang ditulis AR Hakim A. Pinan dalam buku Pesona Tanoh Gayo menyebutkan bahwa tradisi pacuan kuda telah berlangsung sebelum Belanda memasuki Dataran Tinggi Gayo pada tahun 1903 ketika ekspedisi Overstee van Daelen menuju Gayo Lues.
Artinya, budaya ini memang lahir dari masyarakat Gayo sendiri, bukan merupakan budaya yang dibawa oleh bangsa kolonial.
Justru setelah melihat besarnya antusiasme masyarakat, pemerintah Hindia Belanda kemudian memanfaatkan pacuan kuda sebagai media pemersatu warga sekaligus sarana memperingati hari ulang tahun Ratu Wilhelmina.
Pada masa lalu, pelaksanaan pacuan kuda dimulai sejak matahari terbit. Sekitar pukul delapan pagi, para peserta mulai memasuki arena. Perlombaan berlangsung hingga sekitar pukul sepuluh pagi sebelum dihentikan sementara untuk makan siang dan menunaikan salat Zuhur. Menjelang sore sekitar pukul empat, perlombaan kembali dilanjutkan hingga menjelang matahari terbenam.
Suasana pesta rakyat benar-benar terasa sepanjang hari. Masyarakat dari berbagai kampung berkumpul, membawa keluarga, menikmati makanan tradisional, sekaligus memberikan dukungan kepada kuda kebanggaan mereka. Salah satu keunikan pacuan kuda zaman dahulu adalah aturan yang mengharuskan para joki bertelanjang dada saat berlomba.
Tidak hanya itu, perlombaan juga tidak menyediakan hadiah berupa uang ataupun trofi. Lalu apa yang dicari para peserta?Jawabannya adalah gah, sebuah istilah dalam bahasa Gayo yang berarti kehormatan, kebanggaan, dan prestise.

Kemenangan seekor kuda akan mengangkat nama baik kampung asalnya. Semakin sering menang, semakin tinggi pula kehormatan yang diperoleh pemilik kuda beserta masyarakat kampung tersebut. Karena itulah, semangat masyarakat mengikuti pacuan kuda lebih didorong oleh harga diri daripada hadiah.
Pada tahun 1912, pemerintah kolonial memindahkan arena pacuan dari Pante Menye di Kecamatan Bintang menuju Blang Kolak, Takengon. Perubahan tersebut juga membawa pembaruan terhadap konsep perlombaan. Arena yang semula berupa lintasan lurus diubah menjadi lintasan oval yang dipagari batang rotan besar agar perlombaan lebih aman.
Para joki yang sebelumnya bertelanjang dada mulai menggunakan pakaian berwarna sebagai penanda identitas masing-masing peserta sehingga penonton lebih mudah mengenali asal kuda yang sedang berlomba.
Belanda juga mulai menyediakan hadiah berupa uang perawatan kuda, piagam penghargaan, hingga trofi unik berupa jam weker yang diberikan kepada juara. Pacuan kuda sejak dahulu selalu menjadi hiburan masyarakat tanpa mengenal usia. Anak-anak, remaja, orang dewasa, hingga orang tua berbondong-bondong datang ke arena untuk menyaksikan perlombaan.
Kuda-kuda yang mengikuti pertandingan berasal dari berbagai wilayah Onder Afdeling Takengon dan daerah sekitarnya. Hingga kini suasana tersebut masih tetap terasa. Ribuan masyarakat memenuhi tribun maupun pinggir lintasan, menciptakan atmosfer meriah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.
Daya Tarik Wisata Budaya Bener Meriah
Bagi wisatawan, menyaksikan pacuan kuda tradisional di Bener Meriah bukan sekadar melihat perlombaan olahraga. Atraksi ini menawarkan pengalaman menyelami kehidupan masyarakat Gayo yang masih memegang teguh adat istiadat leluhur.
Wisatawan dapat menyaksikan bagaimana hubungan emosional antara pemilik dengan kudanya, semangat masyarakat mendukung kampung masing-masing, hingga tradisi turun-temurun yang tetap bertahan di tengah perkembangan zaman.
Dipadukan dengan panorama pegunungan yang indah, udara yang sejuk, serta keramahan masyarakat lokal, pacuan kuda tradisional menjadi salah satu daya tarik wisata budaya paling ikonik di Tanah Gayo.
Pacuan kuda tradisional bukan hanya sebuah perlombaan, melainkan bagian penting dari identitas masyarakat Gayo.
Tradisi ini mencerminkan nilai persatuan, sportivitas, gotong royong, serta penghormatan terhadap warisan budaya yang telah hidup selama lebih dari satu abad.
Di tengah arus modernisasi, masyarakat Bener Meriah bersama daerah-daerah lain di Tanah Gayo terus berupaya menjaga tradisi ini agar tetap lestari dan dikenal oleh generasi muda maupun wisatawan dari berbagai penjuru Indonesia.
Berkunjung ke Bener Meriah belum terasa lengkap tanpa menyaksikan langsung derap langkah kuda-kuda terbaik yang berlaga di arena pacuan. Lebih dari sekadar tontonan, tradisi ini merupakan cerminan sejarah panjang, kebanggaan masyarakat, serta kekayaan budaya Gayo yang hingga kini tetap hidup dan menjadi salah satu pesona wisata unggulan di dataran tinggi Aceh.
Teriakan Joki Cilik di Arena Pacuan
Di tengah riuh rendah sorakan penonton yang memadati arena pacuan kuda tradisional Gayo, suara paling khas justru datang dari sosok-sosok kecil di atas punggung kuda. Mereka adalah para joki cilik yang menjadi bagian penting dalam tradisi pacuan kuda di Dataran Tinggi Gayo, termasuk di Kabupaten Bener Meriah.
Salah satu yang mencuri perhatian adalah seorang joki cilik bernama Farhan, yang dipercaya oleh panitia untuk menunggangi kuda bernama Borneo. Dalam salah satu perlombaan kelas D tua, Farhan berhasil menunjukkan kemampuan terbaiknya dan mengantarkan Borneo finis di posisi juara 3.
Meski masih anak-anak, Farhan tampil tanpa ragu di lintasan. Ia dikenal sebagai joki yang lincah, cepat membaca arah lari kuda, serta mampu menjaga ritme kecepatan hingga garis akhir. Dari atas punggung kuda, ia tidak hanya sekadar bertahan, tetapi juga mengendalikan laju dengan penuh konsentrasi.
Menurut keterangan yang disampaikan di sela persiapan lomba, Farhan mengaku sudah terbiasa dengan dunia pacuan kuda. Latihan yang rutin membuatnya semakin percaya diri saat berada di arena. “Sudah biasa, karena sering latihan, orang tua dukung,” ujar Farhan singkat sebelum memasuki lintasan.
Dukungan keluarga menjadi salah satu faktor penting yang membuat para joki cilik seperti Farhan tetap berani terlibat dalam tradisi ini. Tanpa paksaan, mereka tumbuh bersama budaya pacuan kuda yang sudah mengakar kuat di tengah masyarakat Gayo.
Kuda yang ia tunggangi, Borneo, merupakan milik seorang warga bernama Syahrudin. Keduanya menjadi salah satu pasangan yang cukup diperhitungkan dalam kelas yang diikuti, meski persaingan di lintasan selalu berlangsung ketat dengan puluhan kuda lainnya. []
Leave a comment