POPULARITAS.COM – Sebanyak 91.663 warga Aceh hingga kini masih mengungsi pascabanjir dan longsor akhir November 2026. Dekan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Rahmat Hidayat mengatakan ada tiga persoalan psikologis utama yang umumnya dialami korban bencana.
Pertama, trauma akibat mengalami langsung peristiwa banjir dan longsor. Kedua, kehilangan orang terdekat, harta benda, serta harapan akan masa depan. Ketiga, tuntutan untuk menyesuaikan diri dengan kondisi kehidupan baru di pengungsian yang serba terbatas.
“Penyesuaian pascabencana dilihat dari sejauh mana pengembalian fungsi normal, sejauh itu pula kondisi psikologis mereka dapat dipulihkan,” kata Rahmat dalam keterangannya, Jumat (30/1/2026).
Menurut Rahmat, lingkungan pengungsian sangat memengaruhi kondisi mental para penyintas. Jejaring sosial yang kuat dan dukungan antar pengungsi dinilai mampu membantu menjaga kesehatan psikologis. Selain itu, aktivitas yang terstruktur dan lingkungan yang aman juga berperan penting.
“Lingkungan baik yaitu lingkungan yang memberikan kenyamanan dan keamanan secara fisik serta dapat memulihkan fungsi sosial pengungsi,” katanya.
Rahmat menekankan bahwa rasa aman menjadi faktor utama dalam pemulihan psikologis korban bencana. Ancaman bencana susulan disebut dapat meningkatkan kecemasan para pengungsi. Oleh karena itu, kehadiran relawan dan pemerintah dinilai penting untuk memberikan ketenangan.
“Yang paling penting memastikan masyarakat tidak merasa ditinggalkan, tidak merasa mereka tidak mendapatkan perhatian yang memadai dari pemerintah,” ucapnya.
Ia menambahkan, UGM turut berkontribusi dalam pemulihan psikologis pengungsi melalui kerja sama dengan perguruan tinggi dan lembaga swadaya masyarakat setempat. Dukungan diberikan dalam bentuk pelatihan psychological first aid, pemantauan, serta pendampingan jarak jauh berkelanjutan.
“Kita tetap hadir membersamai mereka melalui masa-masa yang sulit ini secara langsung ataupun tidak langsung melalui dukungan terhadap mitra-mitra setempat yang memiliki akses langsung,” katanya.
Rahmat menilai penanganan dampak bencana membutuhkan komitmen jangka panjang dari pemerintah, tidak hanya dalam pemenuhan kebutuhan fisik, tetapi juga pendampingan psikologis bagi masyarakat terdampak.
“Bantuan yang hadir tidak hanya dalam bentuk ketercukupan secara fisik tetapi juga kehadiran dalam arti didampingi, ditemani menjadi sesuatu yang perlu kita perhatikan,” pungkasnya.

Leave a comment