POPULARITAS.COM – Gubernur Aceh Muzakir Manaf, secara terbuka, Minggu 7 Desember 2025, menyatakan bahwa, dampak banjir dan tanah longsor di provinsi ujung barat Sumatra itu, butuhkan uluran tangan internasional untuk membantu. Kata Mualem, Karib pria itu disapa, beberapa negara, seperti Malaysia telah secara resmi bantu daerah inin, jadi bantuan dari penjuru dunia bukan hal tabu demi masyarakat.
Ya, pernyataan Mualem itu tentu didasarkan pada data dan fakta di lapangan. Hampir 300 jiwa melayang, ribuan luka berat, dan ratusan ribu rumah rusak parah.
Fase tanggal darurat yang dimaklumatkan Mualem akan berakhir pada beberapa hari mendatang. Setelah itu, apa selanjutnya. Bisa saja keadaan darurat diperpanjang, namun selanjutnya Aceh akan masuki tahapan pemulihan dan rehabilitas.
Banyak sekali persoalan, ada 18 wilayah yang harus direcovery, baik lingkungan, sanitasi, dan juga tempat tinggal warga yang rerata tertimbun lumpur hingga 2 atau 3 meter. Untuk itu saja butuh kerja-kerja ekstra.

Hingga saat ini, belum ada data resmi berapa luasan permukiman yang tertimbun Lumpur. Pilihannya, apakah dibiarkan dan penduduknya di relokasi, atau membersihkan sisa-sisa banjir itu untuk dibangunkan rumah kembali.
Pemerintah sendiri telah mengumumkan bahwa, beri bantuan dan subsidi senilai Rp60 juta untuk rumah rusak berat, dan rumah baru bagi yang kehilangan tempat tinggal.
Namun, hal itu tidak cukup, ini tentang bagaimana merehabilitasi lingkungan, permukiman, membangun puluhan ribu rumah yang hilang, jembatan, jalan, sawah, perkebunan dan juga sekolah.
Pasca-banjir, warga kehilangan mata pekerjaan, ini juga berdampak pada potensi naiknya angka kemiskinan. Jadi, membuka opsi bantuan internasional sangat dibutuhkan.
Menurut pemerintah pusat yang disampaikan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dibutuhkan dana setidaknya Rp25,41 triliun untuk merehabilitasi seluruh kerusakan akibat banjir di Aceh.
Tapi, itu hitungan-hitungannya hanya bicara infrastruktur semata. Masih banyak persoalan ikutan yang muncul akibat bencana itu, yakni hilangnya mata pencaharian masyarakat akibat kebun, sawah, dan tambahk-tambak yang rusak parah.
Sekali lagi, opsi membuka bantuan internasional masuk ke Aceh, dapat dilakukan sepanjang untuk membantu masyarakat. Jika pusat tak mampu, apa salah dunia membantu Aceh. (***EDITORIAL)
Leave a comment