Home Internasional Banjir Bangkok Surut, Warga Bersih-bersih Lumpur
InternasionalNews

Banjir Bangkok Surut, Warga Bersih-bersih Lumpur

Share
Bqanjir landa Thailand. Foto : HO/AFP | popularitas.com
Share

POPULARITAS.COM – Warga Thailand mulai membersihkan sisa-sisa material lumpur dan sampah setelah banjir Bangkok surut pada Selasa (29/9/2026). Meski demikian, dampak bencana ini masih melumpuhkan sejumlah aktivitas kota, memakan korban jiwa, hingga memicu peringatan keterlambatan penerbangan dari maskapai nasional. Departemen Pencegahan dan Mitigasi Bencana Thailand melaporkan, sekitar 700.000 orang terdampak oleh bencana ini.

Tingginya intensitas banjir bahkan memaksa pihak berwenang menetapkan status bencana di seluruh kota Bangkok sejak Sabtu (26/9/2026). Hingga Selasa, sebagian wilayah ibu kota terpantau masih tergenang air. Aktivitas sekolah pun diliburkan untuk hari kedua beruntun, sementara banyak warga diimbau untuk tetap bekerja dari rumah (work from home).

Pembersihan intensif mulai dilakukan warga di kawasan timur Bangkok yang menjadi salah satu area terdampak paling parah.

Supreeya Kasim (25), seorang pekerja di restoran sederhana, sibuk menyapu air berlumpur yang menggenangi tempat usahanya.

“Belum pernah banjir sampai setinggi lutut seperti ini sebelumnya. Kali ini yang terparah. Semua barang kami rusak total,” kata Supreeya kepada AFP.

Supreeya menuturkan, air di jalanan luar sempat mencapai ketinggian sepinggang dan setinggi betis orang dewasa di dalam ruangan. Banjir baru perlahan surut pada Senin (28/9/2026) malam.

Dibantu tiga stafnya, ia memperkirakan restorannya baru bisa beroperasi kembali pada Kamis (1/10/2026).

“Kami harus menunggu sampai kering dulu, lalu menyemprotkan cairan seperti alkohol atau pemutih karena kalau tidak, jamur akan mulai tumbuh,” ujarnya.

Dampak parah juga dirasakan warga permukiman, terutama di sepanjang kanal-kanal Bangkok. Ribuan orang kini terpaksa mengungsi di lebih dari 230 tempat penampungan yang disiapkan pihak berwenang.

Supachai Pongchan (72), warga yang tinggal di lantai dasar kawasan distrik Bang Kapi, menyuarakan kesedihan sekaligus kekecewaannya atas lambatnya peringatan dini dari pemerintah.

“Saya sangat sedih karena semua barang saya rusak. Kami tidak sempat memindahkan barang tepat waktu karena banjir datang pada malam hari,” ungkap Supachai, yang hanya sempat menyelamatkan sebagian peralatan listrik ke tempat tinggi.

“Pemerintah salah perhitungan. Jadi, ketika air dalam jumlah besar datang, kami benar-benar tidak tahu harus berbuat apa,” tegasnya.

Banjir besar di Bangkok merupakan bagian gelombang hujan deras yang melanda 29 dari total 77 provinsi di Thailand. Dampak cuaca buruk ini juga meluas hingga ke negara tetangga, Myanmar, dengan catatan setidaknya delapan orang terenggut nyawanya.

Secara keseluruhan di Thailand, otoritas penanggulangan bencana mencatat sebanyak 23 orang meninggal dunia sejak pertengahan September. Angka kematian tersebut mencakup sedikitnya empat orang di Bangkok, delapan orang di Samut Prakan—wilayah pesisir antara ibu kota dan laut—serta enam orang di provinsi Sa Kaeo di wilayah timur.

September sejatinya merupakan puncak musim hujan di Thailand. Namun, dampak tahun ini terasa jauh lebih destruktif bagi Bangkok, kota megapolitan yang berdiri di atas bekas lahan rawa dan ditopang oleh jaringan kanal.

Semua stasiun pompa air di Bangkok sudah dioperasikan dengan kapasitas penuh, tetapi pihak berwenang memperingatkan proses pengeringan total di seluruh titik banjir akan memakan waktu hingga sepekan.

Para ilmuwan turut mengingatkan, intensitas dan frekuensi fenomena cuaca ekstrem seperti ini akan terus meningkat seiring percepatan pemanasan global akibat emisi bahan bakar fosil.

Bagi warga setempat, bencana kali ini menjadi alarm keras terkait perubahan iklim yang kian nyata. “Ini adalah pelajaran,” ujar Chaleerat Chamrasporn (55) sembari memungut sampah dari genangan air di depan rumahnya.

 

 

Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Tulisan Terkait
News

Jepang Akhiri Misi Pemadaman Karhutla di Kalimantan

POPULARITAS.COM – Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton...

News

Bupati Pidie Jaya Minta Kemenko PMK Bantu Pembangunan Sisa Huntap

POPULARITAS.COM – Bupati Pidie Jaya, Sibral Malasyi meminta Pemerintah Pusat untuk dapat...

InternasionalNews

Fatima Ezzahra El Mansouri, Perdana Menteri Perempuan Pertama Maroko

POPULARITAS.COM – Sejarah baru tercipta di Maroko. Untuk pertama kalinya, seorang perempuan...

EkonomiNews

KUA-PPAS Disahkan, Belanja Abdya 2027 Capai Rp 955,48 Miliar

POPULARITAS.COM – Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Barat Daya (Abdya) mengesahkan...