POPULARITAS.COM – Bising klakson dan deru mesin perlahan tertinggal di belakang. Begitu kendaraan berbelok meninggalkan jalan raya menuju perbukitan Kecamatan Labuhan Haji Barat, Kabupaten Aceh Selatan, udara mulai berubah: lebih sejuk, lebih lembap, dan membawa aroma dedaunan basah.
Jalan beraspal membelah perkampungan, melintasi ladang warga dan kebun durian yang tumbuh di sela hijaunya lembah. Di musim buah, harum durian yang manis menyengat kerap menyelinap ke dalam kabin kendaraan, seolah menjadi salam pertama dari tanah Aceh Selatan.
Ujung perjalanan ini adalah Gua Batee Meucanang, destinasi alam yang menyimpan sungai jernih sekaligus sebuah cerita yang membuat penasaran: batu di dalamnya konon mengeluarkan bunyi menyerupai canang ketika diketuk.
Menyusuri Lembah
Dari arah Banda Aceh, pengunjung melintasi Kabupaten Aceh Barat Daya hingga tiba di Jembatan Krueng Baru, gerbang perbatasan dengan Aceh Selatan. Sekitar empat kilometer setelah jembatan, ada persimpangan menuju Gampong Batee Meucanang. Dari sana, jalan menanjak sekitar dua kilometer ke arah perbukitan.

Akses yang sudah beraspal membuat kawasan ini bisa dijangkau sepeda motor maupun mobil. Dari Tapaktuan, perjalanan memakan waktu sekitar 35 menit, tergantung lalu lintas dan titik keberangkatan.
Lembah yang mengapit jalan itu bukan sekadar perbukitan biasa. Kawasan ini termasuk dalam rangkaian karst Labuhan Haji, bagian dari bentang karst yang membentang terputus-putus di pesisir barat Aceh, dari Lhoknga hingga Tapaktuan. Karst sendiri terbentuk dari larutnya batu gamping oleh air selama ribuan tahun, melahirkan bukit, lembah, cekungan, dan gua.
Ada pula kaitan tak kasat mata antara gua dan kebun durian di sepanjang jalan. Kelelawar penghuni gua-gua karst disebut berperan sebagai pengendali hama pertanian sekaligus membantu penyerbukan bunga durian.
Sambutan dari Gemericik Air
Setibanya di lokasi, telinga lebih dulu menangkap kehadiran sungai sebelum mata melihatnya. Gemericik air terdengar di antara bebatuan, berpadu dengan desau angin di pucuk pepohonan.
Airnya bening hingga dasar sungai terlihat jelas, mengalir lincah di sela batu-batu berlumut. Celupkan tangan, dan dinginnya langsung menjalar hingga ke pergelangan, kesegaran yang terasa mewah setelah perjalanan panjang.
Untuk mencapai mulut gua, pengunjung harus menapaki sejumlah anak tangga. Napas sedikit memburu, betis terasa menegang. Namun setiap langkah dibayar tuntas oleh suasana teduh dan alunan air yang tak putus-putus.
Canang di Dalam Batu
Nama gua ini menyimpan petunjuknya sendiri. Dalam bahasa Aceh, batee berarti batu, sedangkan meucanang merujuk pada bunyi yang menyerupai canang.
Canang bukan bunyi asing bagi telinga orang Aceh. Alat musik pukul berbahan kuningan yang bentuknya menyerupai gong ini dikenal di hampir seluruh daerah Aceh, dan umumnya dimainkan untuk mengiringi tarian tradisional.
Di Aceh Selatan sendiri, istilah itu punya akar yang dalam. Masyarakat suku Kluet menyebut pertunjukan canang dengan sebutan meucanang, sebuah tradisi musik yang diyakini sudah hidup sejak abad ke-17.
“Banyak pengunjung yang datang khusus untuk melihat gua, sekaligus menikmati keindahan alam dan berendam di aliran sungai dekat gua,” ujar Hamdani, warga setempat.
Apakah batu itu benar-benar berdenting? Kisah ini masih hidup sebagai cerita lisan dan belum diteliti secara geologi. Namun fenomena batu berbunyi bukan hal mustahil. Dalam dunia musik dikenal istilah litofon, yakni alat musik dari batu yang dipukul untuk menghasilkan nada.
Contohnya ada di Pacitan, Jawa Timur. Stalaktit di Gua Tabuhan dikenal mengeluarkan alunan menyerupai gamelan saat dipukul. Jauh di Virginia, Amerika Serikat, Gua Luray bahkan memiliki “organ” raksasa yang bekerja dengan memukul 37 stalaktit untuk menghasilkan nada.
Ruang Sunyi Berornamen
Melangkah masuk ke dalam gua, suhu terasa turun beberapa derajat. Udara lembap mengusap kulit, aroma tanah dan batu basah memenuhi rongga hidung. Suara sungai di luar mendadak meredup, berganti gema langkah kaki sendiri.
Gua ini dilaporkan memiliki luas sekitar 20 meter persegi, tinggi kurang lebih 15 meter, dan dua pintu masuk. Dinding-dindingnya dihiasi ornamen batuan dengan bentuk beragam, memberi karakter tersendiri bagi ruangan alami itu.
Di sinilah rasa penasaran mencapai puncaknya. Siapa pun tergoda untuk mengetuk batu dan mendengar sendiri dentingnya. Tapi godaan itu sebaiknya ditahan. Ornamen gua tumbuh sangat lambat. Sebagai gambaran, stalaktit butuh lebih dari 150 tahun hanya untuk bertambah tebal satu inci. Sekali patah atau rusak, keindahannya tak akan kembali dalam hitungan generasi.
Air Terjun dan Secangkir Santai
Keluar dari gua, cahaya matahari kembali menyilaukan mata, dan suara air kembali menyambut. Di beberapa titik, aliran sungai jatuh membentuk air terjun kecil. Debur airnya yang jatuh berpadu dengan gemericik arus, menciptakan simfoni alam yang menenangkan.
Pengunjung bisa duduk di bebatuan sambil merendam kaki, mengabadikan momen, atau sekadar memejamkan mata mendengarkan air. Di sekitar sungai juga tersedia kafe dengan beragam pilihan kuliner. Menyantap hidangan hangat sambil ditemani suara arus menjadi penutup yang sempurna.
Meski begitu, kewaspadaan tetap perlu. Bebatuan sungai bisa licin, dan kondisi arus dapat berubah setelah hujan. Anak-anak harus selalu dalam pengawasan orang dewasa. Sampah pun sebaiknya dibawa pulang agar kejernihan sungai tetap terjaga.
Permata Wisata Aceh Selatan
Gua Batee Meucanang sudah lama masuk dalam daftar wisata alam andalan daerah. Kepala Dinas Pariwisata Aceh Selatan saat itu, Muchsin, menyebut pemandian gua ini sebagai salah satu destinasi alam yang dimiliki kabupaten tersebut, di samping air terjun Tingkat Tujuh dan pemandian Panjupian.
Aceh Selatan memang kaya. Wilayahnya berbatasan langsung dengan hutan Ekosistem Leuser, sementara pantainya menghadap Samudra Hindia. Kabupaten ini juga menjadi asal dua bahasa lokal Aceh, yakni Jamee dan Kluet.
Namun kekayaan itu juga rentan. Pada 2023, WALHI Aceh mengingatkan bahwa karst Tapaktuan dan karst Labuhan Haji terancam oleh rencana pembangunan pabrik semen. Menjaga gua dan sungai ini berarti juga menjaga bentang alam yang melahirkannya.
Leave a comment