POPULARITAS.COM – Kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dinilai masih sangat mumpuni untuk menjaga stabilitas perekonomian nasional di tengah ketidakpastian. Dengan ketahanan fiskal tersebut, Wakil Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR, Wihadi Wiyanto, menilai bahwa pemerintah belum memiliki urgensi untuk menaikkan harga BBM dalam waktu dekat.
Pernyataan ini muncul sebagai tanggapan atas usulan Jusuf Kalla, Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12. Sebelumnya, Jusuf Kalla menyarankan adanya penyesuaian harga energi demi menekan beban subsidi dan angka defisit. Namun, Banggar DPR mengingatkan bahwa instrumen APBN bukan sekadar pengatur kas, melainkan tameng utama terhadap ancaman krisis.
Dikutip dari Beritasatu.com, Wihadi menggarisbawahi peran krusial instrumen negara tersebut. “APBN sangat mampu bekerja sebagai shock absorber untuk menahan tekanan global, khususnya dari sektor energi, agar tidak langsung membebani masyarakat,” ujar Wihadi di Jakarta, Minggu (12/4/2026).
Optimisme ketahanan anggaran ini didukung oleh indikator makro yang solid dan rasio utang yang aman. Hingga Maret 2026, penerimaan negara meroket 10,5% secara tahunan (year on year/yoy) menyentuh angka Rp 574,9 triliun. Fundamental ekonomi juga terjaga dengan laju inflasi Maret 2026 di level 3,48%, pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2025 di angka 5,39%, dan indeks manufaktur (PMI) yang terus ekspansif.
Berbekal ruang fiskal yang sehat, pemerintah masih bisa mengamankan alokasi subsidi BBM lewat skema efisiensi nonprioritas. Dikutip dari Beritasatu.com, Wihadi menjelaskan skema penyesuaian yang saat ini tengah dibahas bersama pemerintah. “APBN memiliki fleksibilitas untuk melakukan penyesuaian anggaran prioritas melalui refocusing sehingga defisit tetap terjaga di bawah 3% meskipun menghadapi tekanan global,” jelasnya.
Baca juga: Selat Hormuz: Keajaiban Geologi yang Menopang Energi Dunia
Langkah refocusing ini jauh lebih aman dibanding langsung membebankan kenaikan harga energi ke masyarakat. Dikutip dari Beritasatu.com, ia mengingatkan bahaya sistemik dari penyesuaian harga secara gegabah. “Kenaikan harga energi akan berdampak pada inflasi, pelemahan daya beli, dan peningkatan cost of fund. Efek berantai ini bisa menghambat momentum pertumbuhan ekonomi,” tegas politisi Fraksi Partai Gerindra tersebut.
Pada akhirnya, menahan harga energi tetap stabil merupakan kebijakan strategis untuk mengamankan pertumbuhan ekonomi. Dikutip dari Beritasatu.com, Wihadi meminta seluruh pihak memberikan ruang dan kepercayaan kepada pemerintah terkait kebijakan ini. “APBN masih berjalan dengan baik. Keputusan untuk tidak menaikkan harga BBM justru dapat menjaga daya beli masyarakat sekaligus mempertahankan potensi penerimaan negara,” pungkasnya. (hsn)
Sumber: beritasatu.com

Leave a comment