POPULARITAS.COM – Jalan aspal itu menurun tajam, lalu berkelok membentuk huruf S. Di sisi kiri dan kanan, dinding penahan tanah bercat warna-warni cerah seolah menyambut setiap kendaraan yang lewat. Lalu, di satu tikungan, pemandangan tiba-tiba terbuka: deretan pohon kelapa melambai, dan di belakangnya, Samudra Hindia membentang biru sejauh mata memandang.
Itulah salam pembuka Gampong Lhok Rukam, Kecamatan Tapaktuan, Kabupaten Aceh Selatan. Dari pusat Kota Tapaktuan, kampung pesisir ini hanya berjarak sekitar 15 menit perjalanan, melintasi perbukitan hijau dengan jalan yang meliuk di antara pepohonan.
Penandanya mudah dikenali. Sebuah gerbang bertuliskan “Selamat Datang di Gampong Lhok Rukam” berdiri di sisi kanan jalan bagi pengunjung dari arah Banda Aceh, atau di sisi kiri bagi yang datang dari arah Medan. Lokasinya yang dekat dengan jalan nasional membuat kawasan ini mudah dijangkau, baik dengan sepeda motor maupun mobil.
Angin Asin dan Debur di Karang
Begitu tiba, aroma asin laut langsung menyergap. Angin pesisir berembus sejuk, menggoyang pelepah kelapa hingga berdesir pelan. Di bibir pantai, ombak datang bergulung lalu pecah di bebatuan karang, menyisakan buih putih dan suara debur yang tak pernah berhenti.
Kawasannya bersih dan tertata. Dinding beton warna-warni di sepanjang akses masuk menjadi ciri khas sekaligus latar foto yang menarik.
Lhok Rukam adalah bagian kecil dari bentang pesisir panjang Aceh Selatan, kabupaten yang menghadap langsung ke Samudra Hindia dan berbatasan dengan hutan Ekosistem Leuser. Kabupaten ini memiliki belasan pantai yang menjadi andalan wisata daerah.
Menunggu Langit Berganti Warna
Waktu terbaik datang ke Lhok Rukam adalah menjelang sore.
Saat matahari perlahan turun ke ufuk barat, langit mulai berganti rupa: dari biru pucat, menjadi kuning, lalu jingga keemasan. Cahayanya memantul di permukaan laut, membentuk garis berkilau yang memanjang ke arah pantai. Siluet pohon kelapa dan perahu-perahu nelayan menjadi bingkai alami yang sulit diabaikan kamera.
Pengunjung biasanya memilih duduk diam di tepi laut, membiarkan angin sore menyapu wajah sambil menyaksikan matahari tenggelam sedikit demi sedikit. Sebagian lain berjalan menyusuri bibir pantai dengan kaki telanjang, merasakan dinginnya air yang menyapu mata kaki. Bagi pencinta kegiatan luar ruang, kawasan ini juga menyediakan spot memancing.
Pondok di Hadapan Samudra
Untuk bersantai, pondok-pondok wisata berjajar menghadap laut. Di sinilah keluarga dan rombongan sahabat biasa berkumpul, bercengkerama, atau menikmati hidangan sambil memandang langsung hamparan Samudra Hindia.
Fasilitas pendukung seperti mushala dan kamar kecil juga tersedia, sehingga pengunjung bisa berlama-lama dengan nyaman.
Kabar baiknya, menikmati semua itu tak perlu merogoh kocek dalam. Tarif masuknya hanya Rp5.000 untuk sepeda motor dan Rp10.000 untuk mobil, menjadikan Lhok Rukam pilihan rekreasi akhir pekan yang ramah di kantong.
Perahu Nelayan dan Denyut Kampung Pesisir
Di sepanjang pantai, perahu-perahu nelayan tradisional bersandar berjajar. Lambungnya yang dicat warna-warni kontras dengan pasir dan birunya laut.
Pemandangan ini bukan dekorasi. Perahu-perahu itu adalah urat nadi ekonomi warga Lhok Rukam. Setiap hari, nelayan berangkat melaut dan kembali membawa hasil tangkapan, menghadirkan gambaran kehidupan kampung pesisir yang begitu lekat dengan laut.
Bagi wisatawan, menyaksikan aktivitas itu menjadi pengalaman tersendiri: tak hanya menikmati alam, tetapi juga melihat langsung bagaimana laut menghidupi warganya.
Dari Laut ke Piring
Kunjungan ke Lhok Rukam belum lengkap tanpa mencicipi kuliner lautnya.
Asap ikan bakar mengepul dari pembakaran, membawa aroma gurih bercampur bumbu yang membuat perut keroncongan. Di meja, lobster segar dengan bumbu khas Aceh tersaji merah menggoda, dagingnya padat dan manis berpadu rempah yang hangat di lidah.

Ada pula sate gurita dengan teksturnya yang kenyal dan khas, serta sate lolak, olahan moluska laut dengan racikan bumbu tersendiri. Keduanya menawarkan sensasi berbeda dari sate pada umumnya.
Keistimewaannya, semua hidangan itu bisa dinikmati di pondok wisata, ditemani riak gelombang yang terus bergerak menuju pantai.
Aulia Rahman, pengunjung asal Banda Aceh, mengaku terkesan dengan kelengkapan daya tarik kawasan ini.
“Daya tarik Lhok Rukam ini cukup lengkap. Lokasinya strategis, suasana pantainya nyaman, dan pilihan menu makanannya juga beragam dengan harga yang masih terjangkau. Kita bisa menikmati kuliner sambil melihat langsung pemandangan laut. Cocok untuk menghabiskan waktu bersama keluarga maupun teman,” ujar Aulia.
Pantai yang Menghidupi
Perpaduan panorama samudra, senja, pondok wisata, aktivitas nelayan, spot memancing, dan kuliner laut menjadikan Lhok Rukam destinasi yang cukup lengkap.
Lebih dari ruang rekreasi, kawasan ini juga membuka peluang ekonomi bagi warga, terutama melalui usaha kuliner dan jasa pendukung wisata lainnya.
Agar pesona itu bertahan, pengelolaan yang baik menjadi kunci: menjaga kebersihan pantai, merawat fasilitas, memastikan kenyamanan pengunjung, dan melestarikan lingkungan pesisir.
Bagi yang sedang berada di Tapaktuan, kota yang dikenal dengan julukan Kota Naga, atau sekadar melintasi Aceh Selatan, Lhok Rukam layak menjadi persinggahan. Datanglah sebelum sore, pesan ikan bakar, lalu duduk menunggu. Saat langit berubah jingga dan perahu-perahu menjadi siluet, kita akan mengerti mengapa banyak orang enggan buru-buru pulang.
Leave a comment