Home News Job Hugging Jadi Tren Karier Baru, Ketahui Plus Minusnya
NewsStyle

Job Hugging Jadi Tren Karier Baru, Ketahui Plus Minusnya

Share
Share

POPULARITAS.COM – Dunia kerja global, termasuk di Indonesia, kini diwarnai tren baru yang disebut job hugging. Berbeda dengan job hopping atau kebiasaan sering pindah kerja demi pengalaman dan kenaikan gaji, job hugging justru terjadi saat karyawan bertahan di satu pekerjaan meski merasa tidak puas atau tidak bahagia.

Sekilas, fenomena ini tampak tidak berbahaya. Namun, para ahli menilai job hugging bisa menimbulkan konsekuensi serius, baik bagi perusahaan maupun karyawan.

Pendiri BoldHR, Rebecca Houghton, mengatakan fenomena ini dipicu rasa takut menghadapi ketidakpastian pasar kerja.

“Pekerja tidak ‘memeluk’ pekerjaan mereka karena mencintainya. Mereka melakukannya karena alternatifnya terlihat lebih buruk,” kata Rebecca, dikutip dari News.com.au, Jumat (19/9/2025).

Menurut Houghton, job hugging merupakan bentuk penghindaran risiko akibat kecemasan ekonomi, dampak pandemi, restrukturisasi, hingga ketakutan akan digantikan AI.

VP APAC SmartRecruiters, Rich Lewis-Jones menilai tren ini adalah sinyal pergeseran besar dalam dinamika rekrutmen.

“Ketidakstabilan ekonomi, ketidakpastian akibat AI, dan lambatnya pertumbuhan lapangan kerja membuat stabilitas lebih diprioritaskan ketimbang peluang baru, terutama oleh gen Z dan profesional muda,” katanya.

Sementara itu, psikolog klinis Kaitlin Dr Harkess menilai job hugging bisa memberi rasa aman jangka pendek, tetapi berdampak negatif dalam jangka panjang.

“Pekerjaan yang tidak selaras bisa mengikis rasa percaya diri dan motivasi. Dari disengagement hingga burnout, kesehatan kita bisa terganggu,” jelasnya.

Menurut Dr Harkess, tanda seseorang terjebak job hugging yang tidak sehat antara lain rasa bosan terus-menerus, frustrasi, kecemasan, hingga gejala fisik seperti kelelahan, sulit tidur, atau sakit kepala.

“Apabila Anda sering berkata, ‘Saya akan pergi apabila bisa, tapi saya tidak bisa’, itu tanda job hugging sudah berubah menjadi job trapping,” tegasnya.

Meski begitu, bertahan di satu pekerjaan tidak selalu berarti negatif. Apabila keputusan didasari pilihan sadar, misalnya demi stabilitas untuk keluarga atau mengejar passion, hal itu bisa menjadi langkah yang sehat.

Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Tulisan Terkait
News

Penyebab Visa Ditolak, Periksa sebelum Mengajukannya

POPULARITAS.COM – Pengajuan visa tidak selalu berjalan lancar jika pemohon kurang cermat...

News

Banda Aceh Mulai Diselimuti Asap

POPULARITAS.COM – Wilayah Kota Banda Aceh mulai terpapar asap yang diduga berasal...

KesehatanNews

Risiko Kesehatan yang Mengintai Saat Sering Makan Makanan Instan

POPULARITAS.COM – Makanan instan sering jadi pilihan praktis bagi banyak orang karena...

News

Larang Pilot WNI Mendarat di Tel Aviv, Indonesia Kecam Israel

POPULARITAS.COM – Pemerintah Indonesia mengecam kebijakan Israel yang melarang awak pesawat dari...