Pesan perpisahan Kombes Pol Sony Sonjaya

Di Gedung Presisi Polda Aceh, Jumat (6/1/2023), jajaran Direktorat Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Kepolisian Daerah ujung barat Sumatra tersebut, gelar acara malam pisah sambut.  Dihadiri ratusan personil instansi itu, dan tamu undangan lainnya, kegiatan tersebut dikemas menarik.

Ya, malam itu, Kombes Pol Sony Sonjaya, akhiri masa pengabdiannya sebagai Direktur Kriminasl Khusus (Dirkrimsus) Polda Aceh, lewat telegram Kapolri Nomor: ST/2775/XII/KEP/2022, tanggal 23 Desember 202, lelaki lulusan Akpol 1991 itu, mendapatkan tugas sebagai Kabagren Opsnal Robinopsnal Bareskrim Polri.

Pria kelahiran Jawa Barat itu, purna tugas di Aceh, usai mengemban amanah kurang dua tahun pimpin Dirkrimsus di Kepolisian Daerah provinsi berjuluk serambi mekkah tersebut.

Di acara malam pisah sambut, mengenakan batik lengan panjang, dan dominasi warga Biru, Kombes Pol Sony Sonjaya tampak tegar mengawali ujaran perpisahan dihadapan 300 personil penyidik, dan penyidik pembantu yang pernah Ia pimpin.

Didampingi istri tercintanya, Kombes Pol Sonny Sonjaya memulai pidatonya dengan kalimat, dunia ini panggung sandiwara, peran akan berganti, namun panggung pengabdian adalah institusi kepolsian yang mesti kita rawat, dan jaga.

Pria yang pernah menjabat Kapolres Majalengka itu, hanya berbicara kurang dari lima menit, namun ada dua pesan menarik, dan penting yang Ia sampaikan kepada bekas anggotanya, yakni, pertama soal kerja-kerja kordinasi kepolisian dengan satgas pangan, guna memastikan kebutuhan pokok masyarakat, dan harga-harga tetap terkendali. 

Kedua, Ia minta kepada personil Polri untuk tidak malu belajar, dan meningkatkan kompetensinya di bidang teknologi informasi, sebab dunai terus berkembang, teknologi telah mendisrupsi hal-hal yang sebelumnya ada, jika kalian tidak cakap dan tingkatkan skil, niscara akan tergerus zaman, 

Dua pesan Kombes Pol Sony Sonjaya itu kemudian menarik untuk dikupas, dan dicermati. Sebagai pihak yang kerap berinteraksi dalam tugas-tiugas jurnalistik dengannya, pria yang pernah jabat Dirreskrimum Polda Aceh itu, punya wawasan luas tentang perekonomian. Jadi, yang disampaikannya tentang kerentanan pangan, dan ancaman inflasi didasarkan pada pengetahuan, dan passionnya yang menyukai isu-isu ekonomi.

Tentu saja, kekhawatiran Kombes Pol Sony Sonjaya, dan pesannya untuk perkuat satgas Pangan di daerah ini, sangat kontekstual dengan isu nasional, yakni masalah besar yang tengah dihadapi bangsa Indonesia, yakni krisis pangan, dan ancaman inflasi.

Jika bicara tugas-tugas pokok kepolisian, jajaran Ditkrimsus Polda Aceh yang Ia pimpin moncer dengan prestasi. Banyak kasus-kasus besar yang berhasil Ia ungkap, seperti investasi bodong Yalsa Boutiqe yang rugikan masyarakat ratusan milir, kasus GSC, dan sejumlah kasus besar tindak pidana korupsi, diantaranya kasus korupsi beasiswa yang sudah mengendap tahunan.

Pesan soal penguatan satgas Pangan, dan ancaman infasi yang disampaikan Kombes Pol Sony Sonjaya malam itu, semacam warning bagi semua pihak, baik pemerintahan provinsi, dan kabupaten dan kota, untuk secara serius melihat persoalan tersebut.

Memang, saat ini, kondisi inflasi di Aceh sudah lebih baik jika dibandingkan dengan periode tahun sebelumnya. Hal itu dikarenakan intervensi Pemerintah Aceh lewat berbagai skema operasi pasar, dan menaikkan UMP 2023. Namun, ancaman naiknya kebutuhan pokok masyarakat di daerah ini masih jadi bayang-bayang yang mengkhawatirkan ditengah minimnya sektor usaha produktif di daerah ini.

Isu pengangguran, dan kemiskinan Aceh masih menjadi dua persoalan besar di daerah ini. Ditengah penurunan dana otonomi khusus (Otsus) yang diterima Aceh 2023, tentu akan jadi problem tersendiri menyangkut peredaran uang, dan faktor daya beli masyarakat.

Jadi, pesan penting Kombes Pol Sony Sonjaya, miliki relevansi kuat dengan situasi yang dihadapi Aceh saat ini, dan hal tersebut harus menjadi perhatian dan fokus seluruh elemen penyelenggara negara.

Selanjutnya, pesan kedua yang disampaikan mantan Kapolres Bandung Jawa Barat itu, yakni soal disrupsi teknologi. Ia menyebut, perkembangan sistem informasi dan teknologi digital, telah mengubah lanskap dan budaya masyarakat. Karenanya, kepolisian harus meng-upgrade pengetahuannya tentang teknologi informasi, agar lebih cakap dalam menjalankan tugas-tugas kedepannya.

Apa yang disampaikan Kombes Pol Sony Sonjaya itu, memang didasarkan pada kecapakannya, dan pengetahuannya terhadap teknologi informasi. Pria yang berpengalaman bidang reserse itu, merupakan mentor dalam modernaisasi penguatan penyidikan perkara di institusi Polri.

Kombes Pol Sony Sonjaya ingatkan hal itu kepada anggotanya, bukan asal berujar tanpa fakta. Sebagai inisiator, builder, dan supervisor pengembangan sistem e-manajemen penyidikan (E-MP) di institusi kepolisian RI, tentu saja kapasitas kalimat yang disampaikannya sesuai dengan keilmuan yang Ia miliki.

Polri sebagai pelayan dan pengayom masyarakat, sudah barang tentu harus terus meningkatkan kualitas, dan kompentensi diri terhadap dinamika dan perubahan. Karenanya, apa yang disampaikan Kombes Pol Sony Sonjaya soal disrupsi teknologi, atau perubahan fundamental sebagai dampak dari penemuan teknologi terbaru, mesti dijawab dengan upgrading keilmuan para personil polri.

Dinamika dan perkembangan teknologi saat ini, juga telah memunculkan masalah, dan persoalan baru dalam tindak pidana, dan kriminalitas yang memanfaatkan teknologi itu. Jika personil Polri awam dan gaptek, tentu tidak akan cakap dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang akan muncul kedepannya.

Sosok Kombes Pol Sony Sonjaya, adalah aset terbaik Polri saat ini. Kepindahan tugasnya dari Aceh telah begitu banyak meninggalkan kenangan, dan terbaik. Selamat jalan Pak, selamat bertugas ditempat yang baru. (***EDITORIAL)

Comments
Loading...