POPULARITAS.COM – Puluhan pohon berbagai jenis yang selama ini menghiasi Ruang Terbuka Hijau (RTH) halaman depan kantor Bupati Pidie Jaya, ditebang dan dipangkas.
Pembabatan pohon di wilayah RTH itu dilakukan pada Senin (14/7/2025).
Pohon-pohon yang sudah berusia sekira lebih dari 10 tahun itu ditebang dan dipangkas dengan menggunakan mesin sinso.
Amatan media ini, berbagai tanaman baik jenis pohon trambesi maupun lainya yang selama ini tumbuh rindang di halaman depan kantor Bupati Pidie Jaya itu ada yang ditebang, terdapat juga yang dilakukan pemangkasan.
Sejumlah pekerja juga terlihat sibuk mengangkut batang-batang yang sudah ditebang itu maupun dipangkas itu.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH) Pidie, Faisal saat dikonfirmasi popularitas.com mengaku, pohon-pohon di lokasi RTH tersebut bukanlah ditebang, melainkan dilakukan pemangkasan sebagai upaya peremajaan.
“Itu dipangkas, bukan ditebang, disuruh pangkas,” kata Plt Kadis LH, Faisal.
Kata Faisa, yang memerintahkan untuk melakukan pemangkasan pohon di RTH itu merupakan Wakil Bupati Pidie Jaya, Hasan Basri. “Tidak disuruh potong oleh pak Wakil (Wakil Bupati) tetapi disuruh pangkas agar lebih menarik. Karena ke depan kan ada MTQ, jadi biar tidak nampak semak agar lebih menarik. Yang disuruh pangkas, bukan tebang,” kata Faisal.
Kata dia, total anggaran untuk kegiatan pemangkasan pohon di RTH di komplek kantor Bupati dan di depan bekas kantor Camat Meureudu capai Rp 50 juta.

Saya ingin menyampaikan rasa kecewa yang mendalam atas penebangan dan pemangkasan pohon-pohon di halaman depan kantor Bupati Pidie Jaya. Dulu, kantor ini dikenal karena suasananya yang sejuk dan asri. Pepohonan yang telah tumbuh lebih dari sepuluh tahun, seperti trambesi dan berbagai jenis lainnya, memberikan keteduhan sekaligus menjadi paru-paru kecil bagi lingkungan sekitar.
Kini, semuanya berubah. Suara mesin sinso beberapa waktu lalu menghapus keasrian yang telah lama kami nikmati. Pohon-pohon rindang itu ditebang, sebagian lainnya dipangkas hingga tak lagi menyisakan naungan. Yang tersisa hanyalah panas, gersang, dan kehilangan.
Kami yang bekerja di sana, dan mungkin masyarakat yang sering datang, merasakan dampaknya secara langsung. Bukan hanya secara fisik karena cuaca yang lebih menyengat, tapi juga secara emosional. Karena pohon-pohon itu bukan sekadar tanaman, tapi bagian dari wajah kantor dan kesejukan batin kami.
Harapannya, ada pertimbangan yang bijak untuk setiap tindakan terhadap lingkungan. Kalau memang harus dipangkas demi keamanan, semoga ada rencana penghijauan kembali. Kita butuh pohon, bukan hanya untuk keindahan, tapi juga untuk kehidupan.
pengetahuan yang kurang menduduki posisi penting, jadi begitulah enak_gk enak harus dinikmati bersama oleh Rakyat Jelata