POPULARITAS.COM – Presiden Prabowo Subianto menyebut asbes selain seng sebagai material atap yang menyebabkan kanker. Namun asbes belum dilarang total di Indonesia.
Menurut Presiden, penggunaan atap seng yang mudah berkarat dapat berdampak terhadap kesehatan. Selain itu, Prabowo juga menyoroti material asbes sebagai atap bisa berbahaya jika partikelnya terhirup ke dalam paru-paru.
“Seng ini cepat berkarat. Karat ini tidak baik untuk kesehatan. Begitu banyak nanti penyakit paru-paru tanpa kita sadari. Orang-orang muda sudah kena kanker paru-paru. Padahal dia tidak merokok. Dari mana? Ya, dari karat. Dari asbes, dari macam-macam. Kimiawi,” kata Prabowo dalam pidato peresmian revitalisasi Stasiun Semarang Tawang, Jawa Tengah, pekan lalu.
Prabowo menganjurkan penggunaan material bangunan yang lebih ramah lingkungan dan estetik, seperti genteng dan rumbia atau ijuk.
Pada 6 Februari 2026 lalu saat program gentengisasi disebut Prabowo untuk pertama kali, Kemenkes menegaskan bahwa asbes adalah material berbahaya.
“Kemenkes sudah berkoordinasi dengan Kementerian Perumahan dan Kementerian Lingkungan Hidup yang menyampaikan bahwa asbes termasuk dalam B3 dan tidak merekomendasikan penggunaan sebagai atap,” kata Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Aji Muhawarman.
Analis Kebijakan Ahli Madya Pusat Kebijakan Sistem Ketahanan Kesehatan, Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kemenkes, Bambang Setiaji, menulis di situs resmi lembaganya soal bahaya asbes.
Dia menjelaskan bahwa asbes menyebabkan penyakit mematikan seperti kanker paru dan mesothelioma, jenis kanker agresif yang menjangkiti jaringan tipis mesotelium di paru-paru. Serpihan asbes yang muncul karena rusak, lapuk, digergaji, atau dipotong, berupa serat-serat halus yang nyaris tidak terlihat. Serpihan asbes itu akan terhirup dan masuk ke paru-paru, menetap di dalamnya seumur hidup.
Akibatnya, paru-paru menjadi keras atau disebut sebagai asbestosis, muncul kanker paru, dan mesothelioma.
Gejala penyakit-penyakit itu bisa muncul 20 hingga 40 tahun setelah paparan asbes masuk ke paru-paru. Itulah yang membuat asbestosis sulit dideteksi dini. Berdasarkan catatan yang dihimpun Bambang Setiaji, ada sekitar 1.600 kematian di Indonesia yang disebabkan oleh asbes.
Di tingkat Asia Tenggara atau ASEAN, Indonesia adalah importir asbes terbesar dengan volume sekitar 150.000 ton per tahun.
Sekitar 13% rumah tangga Indonesia masih menggunakan atap asbes, terutama di perkotaan padat.
Bambang Setiaji menyayangkan aturan pembatasan asbes yang dirasanya masih kurang. “Sayangnya, di Indonesia regulasi yang berlaku sudah usang,” tulis Bambang.
Ada dua aturan, yakni Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 74 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun, serta Peraturan Menteri Tenaga Kerja (Permenaker) Nomor 3 Tahun 1985 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pemakaian Asbes.
Asbes yang dilarang adalah asbes biru atau crocodolite, sedangkan asbes yang diperbolehkan dipakai masyarakat adalah asbes putih alias chrysolite. Padahal dua-duanya sama-sama mematikan. Bambang menyarankan ada pemetaan risiko dan pendataan secara nasional mengenai penggunaan asbes di bangunan-bangunan.
Pelarangan asbes perlu ditingkatkan secara bertahap dengan revisi PP Nomor 74 Tahun 2001 dan Permenaker Nomor 3 Tahun 1985 agar seluruh jenis asbes dikategorikan sebagai B3. Impor asbes perlu dihentikan dengan target lima tahun dan pelarangan total dalam sepuluh tahun.
Sudah lebih dari 60 negara melarang penggunaan asbes dan Indonesia menjadi salah satu pengguna asbes terbesar di dunia. “Satu-satunya cara aman untuk mengelola asbes adalah dengan tidak menggunakannya sama sekali,” tulis Bambang mengutip Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO.


Leave a comment