Home Internasional Profil Gadi Eisenkot, Eks Panglima IDF Berambisi Lengserkan Netanyahu
InternasionalNews

Profil Gadi Eisenkot, Eks Panglima IDF Berambisi Lengserkan Netanyahu

Share
Gadi Eisenkot. Foto : HO/CNN | popularitas.com
Share

POPULARITAS.COM –  Mantan Kepala Staf Umum Angkatan Pertahanan Israel (IDF) Gadi Eisenkot, menantang Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk berdebat secara langsung di televisi menjelang pemilihan umum Israel 2026.

Tantangan yang disampaikan pada awal Oktober tersebut menjadi bagian dari upaya Eisenkot untuk mengakhiri kepemimpinan Netanyahu sekaligus menawarkan alternatif pemerintahan kepada masyarakat Israel.

Eisenkot menyoroti pertanggungjawaban pemerintah atas serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, yang menjadi salah satu persoalan utama dalam politik Israel. Mantan jenderal tersebut menuntut penjelasan terbuka mengenai kegagalan keamanan dan keputusan pemerintah selama perang.

Di balik ambisinya menggantikan Netanyahu, Eisenkot memiliki rekam jejak panjang bersama militer Israel. Ia pernah memimpin IDF selama 4 tahun dan menduduki berbagai jabatan strategis sebelum terjun ke parlemen dan membangun partai politiknya sendiri.

Pada 4 Oktober 2026, Eisenkot mengundang Netanyahu untuk mengikuti debat televisi yang disiarkan secara langsung. Melalui partainya, Yashar, ia mengusulkan debat terbuka dengan moderator dari kalangan editor saluran berita Israel.

Eisenkot juga menginginkan kedua pihak menyepakati aturan debat bersama moderator. Partainya menyatakan siap menggelar debat tersebut dan meminta pembicaraan mengenai pelaksanaannya segera dimulai.

Dalam laporan i24NEWS, Eisenkot menekankan kandidat yang ingin memimpin Israel harus memberikan penjelasan lengkap dan jujur kepada masyarakat. Ia menolak pendekatan yang dianggapnya mengaburkan fakta atau menghindari pertanyaan penting.

Tantangan tersebut berkaitan dengan kritik Eisenkot terhadap penanganan pemerintah atas serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Ia menuntut pertanggungjawaban atas kegagalan keamanan yang memungkinkan serangan itu terjadi serta mendorong keterbukaan mengenai keputusan pemerintah.

Bagi Eisenkot, debat di hadapan publik menjadi kesempatan untuk menguji pertanggungjawaban sekaligus membandingkan pendekatan kedua tokoh dalam memimpin Israel. Namun, tantangan debat itu sendiri tidak otomatis menentukan hasil persaingan politik mereka.

Gadi Eisenkot lahir di Tiberias, Israel, pada 19 Mei 1960. Ia tumbuh di Eilat dalam keluarga keturunan Yahudi Maroko. Sebelum memasuki dunia politik, Eisenkot menghabiskan 41 tahun dalam dinas militer Israel.

Ia memulai karier pada 1978 dengan bergabung ke Brigade Golani, satuan infanteri IDF. Dalam satuan tersebut, Eisenkot menempati berbagai posisi komando, mulai dari pemimpin regu hingga komandan brigade.

Pengalamannya di lapangan membawanya menduduki jabatan yang lebih strategis. Ia pernah memimpin Brigade Golani, Divisi Yudea dan Samaria, Direktorat Operasi, serta Komando Utara IDF. Ia juga pernah menjadi sekretaris militer bagi pejabat tinggi pemerintahan Israel dan wakil kepala staf umum.

Rangkaian jabatan tersebut membentuk perjalanan Eisenkot sebagai perwira senior yang menangani operasi militer dan perencanaan keamanan. Puncak kariernya terjadi ketika ia dipercaya memimpin seluruh angkatan bersenjata Israel.

Pada 16 Februari 2015, Eisenkot resmi menjabat sebagai kepala staf umum IDF ke-21, menggantikan Benny Gantz. Ia memegang jabatan tersebut hingga Januari 2019, kemudian pensiun setelah lebih dari empat dekade mengabdi di militer.

Selama masa kepemimpinannya, Eisenkot memimpin militer dalam sejumlah operasi, termasuk Operasi Good Neighbor dan Operasi Northern Shield. Kedua operasi tersebut berkaitan dengan pendekatan keamanan Israel di kawasan perbatasan dan upaya menghadapi ancaman dari kelompok bersenjata.

Eisenkot juga dikenal melalui pendekatan militer yang disebut Doktrin Dahiya. Gagasan tersebut dikaitkan dengan penggunaan kekuatan besar terhadap infrastruktur yang digunakan kelompok bersenjata untuk menyerang Israel, dengan tujuan mencegah serangan berikutnya.

Pengalaman tersebut membuat Eisenkot dikenal sebagai perwira dengan latar belakang kuat dalam strategi militer. Setelah meninggalkan IDF, ia tetap terlibat dalam pembahasan kebijakan keamanan Israel dan menulis kajian strategis bersama Gabi Siboni pada 2019.

Perbedaan Pandangan Eisenkot dan Netanyahu Soal Perang Gaza

Hubungan Eisenkot dengan Netanyahu tidak selalu berada dalam posisi berlawanan. Pada 2015, Netanyahu justru menunjuk Eisenkot sebagai kepala staf umum IDF. Keduanya kemudian kembali berada dalam pemerintahan yang sama setelah serangan Hamas pada Oktober 2023.

Eisenkot bergabung dengan pemerintahan darurat dan menjadi bagian dari kabinet perang Israel. Dalam posisi tersebut, ia terlibat dalam pembahasan tujuan perang, termasuk upaya memulangkan para sandera dan menghadapi Hamas.

Namun, perbedaan pandangan mengenai arah perang semakin terlihat pada 2024. Eisenkot menilai pencapaian militer di medan pertempuran tidak cukup apabila tidak disertai strategi yang jelas untuk mengakhiri konflik dan mencapai tujuan pemerintah.

Ia kemudian meninggalkan kabinet perang. Keputusan tersebut menandai keretakan hubungan politiknya dengan Netanyahu sekaligus memperkuat posisinya sebagai tokoh yang mengkritik strategi pemerintah.

Perselisihan itu juga berkaitan dengan persoalan sandera dan pertanggungjawaban atas kegagalan keamanan pada 7 Oktober 2023. Eisenkot menuntut pendekatan yang lebih terarah dalam menentukan tujuan perang.

Perbedaan strategi dengan Netanyahu menjadi salah satu faktor yang mendorongnya keluar dari pemerintahan.

Setelah pensiun dari militer, Eisenkot mulai meniti karier politik. Pada 2022, ia terpilih menjadi anggota Knesset, parlemen Israel, melalui aliansi Persatuan Nasional yang dipimpin Benny Gantz.

Keterlibatannya dalam politik semakin menonjol setelah serangan Hamas pada Oktober 2023. Ia masuk ke pemerintahan darurat, tetapi kemudian meninggalkan kabinet perang karena perbedaan pandangan mengenai strategi militer dan arah konflik.

Pada 2025, Eisenkot mendirikan partai Yashar sebagai alternatif pemerintahan. Partai tersebut mengusung visi Israel yang kuat, aman, demokratis, dan berlandaskan prinsip-prinsip deklarasi kemerdekaan negara itu.

Pembentukan Yashar menandai langkah Eisenkot untuk tidak lagi sekadar mengkritik kebijakan pemerintah, tetapi juga menawarkan kepemimpinan melalui jalur pemilu. Ia membawa pengalaman militernya sebagai modal politik untuk menjangkau pemilih yang menginginkan perubahan.

Meski demikian, rekam jejak militer tidak dengan sendirinya menjamin kemenangan. Eisenkot tetap harus memperoleh dukungan pemilih dan membangun kerja sama dengan partai lain untuk memiliki peluang membentuk pemerintahan.

Persaingan politik Israel berlangsung dalam sistem parlementer. Karena itu, posisi perdana menteri tidak hanya ditentukan oleh jumlah suara yang diperoleh seorang tokoh, tetapi juga oleh kemampuan partainya membangun koalisi mayoritas di Knesset.

Bagi Eisenkot, tantangan utamanya adalah mengubah dukungan terhadap dirinya dan Yashar menjadi kekuatan parlemen yang memadai. Ia harus bersaing dengan Netanyahu serta tokoh oposisi lain yang juga berusaha memengaruhi arah politik Israel.

Pada saat yang sama, persoalan keamanan tetap menjadi isu penting dalam persaingan tersebut. Serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, penanganan perang Gaza, dan tuntutan pertanggungjawaban pemerintah menjadi bagian dari perdebatan mengenai kepemimpinan nasional.

Eisenkot berusaha memanfaatkan pengalaman panjangnya di militer untuk menawarkan pendekatan berbeda. Tantangannya kepada Netanyahu untuk berdebat di televisi menjadi salah satu upaya membawa perbedaan kebijakan kedua tokoh secara langsung kepada pemilih.

 

Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Tulisan Terkait
Internasional

Nilai ekspor buah tropis dari Indonesia ke Tiongkok capai RP5,94 triliun

POPULARITAS.COM – Data sertifikasi Barantin periode 2025 hingga 2026 yang masih berjalan...

Internasional

Ukraina tolak serahkan 25 persen wilayah ke Rusia, Zelensky : Kita siap hentikan operasi tempur

POPULARITAS.COM – Ukraina secara tegas menolak konsensi wilayah dengan Rusia sebagai prasyarat...

News

Bantuan Presiden untuk Karhutla Senilai Rp1,24 Triliun, Mendagri Minta Keselamatan Masyarakat Jadi Prioritas

POPULARITAS.COM –  Pemerintah kembali menyalurkan Bantuan Presiden untuk penanganan kebakaran hutan dan...

News

Pembangunan 21.228 Huntap Relokasi di Aceh Dikebut, Safrizal Tekankan Mutu

POPULARITAS.COM – Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) mempercepat pembangunan 21.228 unit...

Exit mobile version