Disklaimer : Artikel ini disampaikan hanya untuk kepentingan informasi dan tidak dimaksudkan untuk mendorong orang lain melukai diri. Jika Anda mengalami depresi atau pikiran untuk bunuh diri, segera cari bantuan profesional, seperti psikolog, psikiater, atau layanan kesehatan mental terdekat.
POPULARITAS.COM – Tragis dan memilukan. YBR (10) siswa kelas IV SD di Ngada, NTT, ditemukan meninggal dunia dalam keadaan tidak wajar dikebun neneknya, Kamis 29 Januari 2026.
Korban merupakan warga Kampung Boloji, Desa Wawowae, Kecamatan Bajawa. Peristiwa tersebut terjadi di Karadhara, Dusun IV, Desa Nenowea, Kecamatan Jerebuu, sekitar pukul 11.00 Wita.
Peristiwa tragis itu pertama kali diketahui oleh saksi berinisial KD (59) saat hendak mengikat hewan ternak di sekitar pondok kebun. Saat mendekati pondok, saksi melihat korban sudah dalam keadaan tidak bernyawa.
Saksi kemudian berlari ke jalan sambil berteriak meminta pertolongan. Warga sekitar berdatangan dan segera menghubungi pihak kepolisian.
Personel Polres Ngada yang dipimpin KBO Sat Intelkam Iptu Thomas Aquino Mere langsung mendatangi lokasi. Polisi melakukan pengamanan tempat kejadian perkara (TKP), olah TKP, serta identifikasi oleh Unit Identifikasi Satreskrim Polres Ngada.
Dari hasil pemeriksaan awal, polisi mengamankan sejumlah barang bukti, termasuk tali nilon, pakaian korban, serta selembar kertas berisi tulisan tangan menggunakan bahasa daerah Bajawa yang diduga merupakan pesan perpisahan.
Jenazah korban kemudian dibawa ke Puskesmas Dona Jerebuu untuk dilakukan visum et repertum.
Kapolres Ngada AKBP Andrey Valentino melalui Kasi Humas Ipda Benediktus R Pissort menyampaikan, pihaknya masih melakukan pendalaman dengan mengumpulkan keterangan saksi serta berkoordinasi dengan keluarga korban.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk lebih peka terhadap kondisi psikologis anak, baik di lingkungan keluarga maupun sekolah.
“Atas peristiwa ini, Polres Ngada turut menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada keluarga korban,” ujar Ipda Benediktus.
Duka keluarga semakin mendalam setelah ditemukan sepucuk surat yang diduga ditulis korban untuk ibunya. Surat itu singkat, menggunakan bahasa daerah, tetapi sarat pesan perpisahan.
Dalam surat tersebut, YBR berulang kali meminta ibunya untuk tidak menangis dan merelakan kepergiannya.
“Kertas tii mama Reti. Mama galo zee. Mama molo Ja’o. Galo Mata Mae Rita ee Mama (Surat buat Mama Reti. Mama saya pergi dahulu. Mama relakan saya pergi. Jangan menangis ya, Ma),” bunyi isi surat tersebut.
YBR diketahui tinggal bersama neneknya di sebuah pondok bambu berukuran sekitar 2 x 3 meter di Desa Naruwolo, Kabupaten Ngada. Ia adalah anak bungsu dari lima bersaudara.
Sejak berusia sekitar 1 tahun 7 bulan, YBR tidak lagi tinggal bersama ibu kandungnya dan diasuh oleh sang nenek. Ayahnya telah merantau ke Kalimantan lebih dari satu dekade lalu dan tidak pernah kembali.
Selain bersekolah, YBR kerap membantu neneknya menjual sayur, ubi, dan kayu bakar. Untuk makan, mereka mengandalkan hasil kebun seadanya.
Menurut keterangan keluarga, YBR dikenal sebagai anak pendiam, penurut, dan tidak pernah menunjukkan perilaku menyimpang. Keluhannya sederhana, yakni buku tulis dan pulpen untuk sekolah.
“Kami selalu berusaha penuhi, semampu kami,” tutur sang nenek lirih.
Ibu kandung korban, Maria Goreti Te’a (47) mengungkapkan, pada pagi hari sebelum kejadian, YBR mengeluh pusing dan enggan berangkat sekolah. Namun, ia tetap mendorong anaknya untuk masuk sekolah agar tidak tertinggal pelajaran.
Kepada penyidik, sang ibu mengakui bahwa keluarga mereka tengah mengalami kesulitan ekonomi berat. Ia telah jujur kepada anaknya bahwa belum mampu memenuhi kebutuhan sekolah, seperti buku dan alat tulis.
Keluarga ini juga disebut belum tersentuh bantuan sosial pemerintah, baik bantuan pendidikan, rumah layak huni, maupun bantuan ekonomi lainnya. Dari lima anak, hanya dua yang sempat menikmati pendidikan formal secara berkelanjutan.

Leave a comment