POPULARITAS.COM – Ibukota Ukraina, Kyiev, luluhlantak akibat serangan besar-besaran yang dilakukan Rusia. Rudal-rudal balistik dan pesawat tanpa awak, menyerang berbagai fasiitas di kota itu. Akibatnya, 21 orang dinyatakan tewas dan 63 orang terluka.
Wali Kota Vitali Klitschko menyebutnya sebagai salah satu serangan terbesar dalam beberapa bulan terakhir. Selain korban tewas, 63 orang terluka dan puluhan bangunan hancur di berbagai distrik kota.
Sekretaris pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan Trump kecewa namun tidak terkejut. “Presiden ingin perang ini berakhir, tetapi kedua negara belum siap mengakhirinya,” ujarnya.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menegaskan serangan itu merupakan balasan Moskow terhadap upaya diplomatik untuk mengakhiri perang. “Rusia memilih rudal balistik, bukan meja perundingan,” tulis Zelensky di X, sembari menyerukan sanksi baru terhadap Moskow.
Menurut laporan militer Ukraina, Rusia menghantam 13 lokasi di seluruh negeri, termasuk fasilitas energi yang menyebabkan pemadaman listrik. Drone-drone juga menyerang hingga ke belakang garis depan, sementara Ukraina melawan dengan serangan balik ke kilang minyak Rusia.
Utusan khusus AS, Keith Kellogg, menyebut target serangan bukan hanya militer, melainkan area sipil, termasuk kereta api, kantor misi Uni Eropa (UE), serta British Council. Uni Eropa dan Inggris pun segera memanggil utusan Rusia untuk menyampaikan protes keras.
Presiden Komisi Uni Eropa, Ursula von der Leyen, mengatakan dua rudal bahkan menghantam dekat kantor Uni Eropa dalam selisih 20 detik. Ia menegaskan UE akan mempercepat paket sanksi ke-19 terhadap Rusia serta menggunakan aset beku Rusia untuk membantu Ukraina.
Serangan ini terjadi kurang dari dua pekan setelah Trump bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin di Alaska, pertemuan yang semula diharapkan memajukan perundingan damai. Namun, serangan terbaru justru menunjukkan eskalasi konflik.
“Putin membunuh anak-anak dan warga sipil serta menyabotase harapan perdamaian,” tegas Perdana Menteri Inggris Keir Starmer di X.
Meski Kremlin membantah menargetkan warga sipil, pejabat Ukraina menegaskan ribuan korban sipil telah jatuh sejak invasi penuh dimulai pada Februari 2022.

Leave a comment