POPULARITAS.COM – Jika kita perhatikan, teks Proklamasi Kemerdekaan RI 1945, merupakan naskah yang diketik menggunakan mesin ketik. Nah, Sayuti Melik, figur dibalik lahirnya ketikan-ketikan tersebut. Bahkan, pria kelahiran Sleman itu, ikut memberi sentuhan redaksi.
Ya, Sayuti Melik seorang wartawan, dia punya sentuhan jurnalistik atas naskah yang dibacanya. Meski jasanya tak begitu dikenal, figurnya tak tampil dipublik saat proklamasi dibacakan Bung Karno, tapi sosoknya kontribusinya terekam abadi.
Lantas, bagaimana sosoknya? Berikut ini profilnya.
Awal Kehidupan dan Latar Belakang Keluarga Sayuti Melik
Sayuti Melik lahir dengan nama lengkap Mohammad Ibnu Sayuti pada 25 November 1908 di Sleman, Yogyakarta. Semangat perlawanan sudah ia kenal sejak kecil berkat ayahnya yang menentang kebijakan tanam paksa Belanda.
Pendidikan dasar ia tempuh di Sekolah Ongko Loro, kemudian melanjutkan ke sekolah guru di Solo. Masa mudanya banyak diwarnai pergaulan dengan tokoh-tokoh pergerakan nasional. Lingkungan ini membentuk kesadaran politiknya, menumbuhkan keyakinan kemerdekaan adalah hak yang harus diperjuangkan.
Sejak muda, Sayuti Melik aktif di dunia jurnalistik. Bersama istrinya, SK Trimurti, dia mendirikan koran Pesat, yang menjadi media perjuangan melawan penjajah. Tulisan-tulisannya yang kritis membuatnya beberapa kali berurusan dengan pemerintah kolonial.
Kerap ditangkap dan dipenjara karena isi pemberitaan yang mengkritik kebijakan Belanda tidak membuatnya gentar. Tekanan justru semakin menguatkan tekadnya untuk terus menulis demi menyuarakan aspirasi rakyat.
Selain berjuang lewat tulisan, Sayuti Melik juga aktif di organisasi pemuda, termasuk kelompok Menteng 31 yang dikenal kritis dan revolusioner. Kelompok ini kerap mengadakan diskusi serta aksi yang mendorong percepatan kemerdekaan.
Keberaniannya membuat dia dipercaya menjadi penghubung antara tokoh nasional dan kalangan pemuda. Peran ini terbukti krusial pada momen-momen menjelang Proklamasi Kemerdekaan.
Peristiwa Rengasdengklok dan Perannya
Menjelang 17 Agustus 1945, Sayuti Melik ikut dalam Peristiwa Rengasdengklok bersama para pemuda lainnya. Tujuan aksi tersebut adalah mendesak Soekarno dan Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan tanpa menunggu persetujuan Jepang.
Sayuti menjadi saksi langsung dinamika antara golongan pemuda dan tokoh nasional. Keberadaannya di garis depan memperlihatkan dedikasi besar meski namanya tidak sering disebut media pada masa itu.
Puncak peran Sayuti Melik terjadi pada malam 17 Agustus 1945. Teks Proklamasi yang dirumuskan oleh Soekarno, Hatta, dan Achmad Soebardjo diserahkan kepadanya untuk diketik.
Dengan teliti, dia mengetik naskah tersebut dan mengusulkan perubahan frasa dari “wakil-wakil bangsa Indonesia” menjadi “atas nama bangsa Indonesia”. Perubahan ini memiliki makna mendalam, menegaskan bahwa Proklamasi adalah suara seluruh rakyat, bukan hanya segelintir wakil.
Setelah kemerdekaan, Sayuti Melik tetap berkiprah di dunia politik dan pemerintahan. Ia pernah menjadi anggota DPR dan MPR, serta terlibat aktif dalam kegiatan kebudayaan dan pendidikan.
Perjalanan hidupnya tidak selalu mulus. Dinamika politik membuat karier Sayuti Melik mengalami pasang surut. Meski demikian, namanya tetap dikenang sebagai pengetik Proklamasi yang memberi kontribusi penting pada sejarah kemerdekaan Indonesia.

Leave a comment