POPULARITAS.COM – Di balik ketegangan geopolitik yang kerap mengguncang kawasan Timur Tengah, tersembunyi sebuah fakta yang jarang disorot: jalur laut tersempit yang menentukan nasib ekonomi global itu ternyata adalah salah satu panggung geologi paling dramatis di planet ini — sebuah bekas medan tabrakan dua benua raksasa yang prosesnya belum selesai hingga hari ini.
Selat Hormuz bukan sekadar nama yang muncul dalam berita energi dan konflik. Perairan selebar sekitar 48 kilometer yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman ini menanggung beban luar biasa: sekitar seperempat dari seluruh perdagangan minyak global yang diangkut lewat laut melintas di sini. Dalam dunia pelayaran internasional, ia dikenal sebagai salah satu chokepoint — titik sempit yang jika terganggu, dampaknya langsung terasa hingga ke pompa bensin di belahan dunia lain.
Namun di balik nilai ekonominya yang tak ternilai, Selat Hormuz menyimpan kisah yang jauh lebih tua dan lebih mengagumkan.
“Selat Hormuz merupakan salah satu keajaiban geologi. Selat ini adalah salah satu tempat di Bumi di mana Anda dapat melihat tabrakan dua benua,” kata Mike Searle, profesor ilmu bumi di Worcester College, Universitas Oxford.
Lanskap yang Lahir dari Tumbukan Raksasa
Keistimewaan geologis Selat Hormuz terpancar jelas dari bentang alam di kedua sisinya. Di sisi utara, Pegunungan Zagros yang membentang di Iran selatan memperlihatkan lapisan-lapisan batuan sedimen — batu pasir, serpih, dan batu kapur — yang tersusun secara dramatis akibat tekanan tektonik yang berlangsung jutaan tahun.
Mark Allen, kepala departemen ilmu bumi di Durham University, menyebut kawasan ini sebagai salah satu laboratorium alam terbaik di dunia untuk mempelajari struktur geologi dalam skala besar.
“Zagros telah lama dianggap sebagai surga bagi ahli geologi struktural,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa struktur batuan di kawasan ini begitu jelas hingga dapat diamati bahkan melalui citra satelit.
Baca juga: Trump Tuduh Iran Langgar Gencatan Senjata, Selat Hormuz Belum Normal
Di sisi selatan, Semenanjung Musandam milik Oman menawarkan pemandangan yang tak kalah memukau. Semenanjung ini menjorok tajam ke arah utara seperti ujung belati, diapit tebing-tebing batu hitam yang curam dan garis pantai bergerigi. Lekukan-lekukan pantainya bukan terbentuk oleh erosi biasa, melainkan merupakan lembah-lembah sungai purba yang kini terendam air laut — fenomena yang dikenal sebagai muara. Kawasan ini juga menjadi salah satu lokasi langka di dunia tempat batuan ophiolite, atau kerak samudra purba, terekspos langsung di permukaan.
Jutaan Tahun dalam Sekali Pandang
Kisah pembentukan Selat Hormuz dimulai sekitar 35 juta tahun lalu, ketika lempeng Arab di selatan dan lempeng Eurasia di utara masih dipisahkan oleh Samudra Tethys — lautan purba yang kini hampir seluruhnya telah lenyap. Secara perlahan, lempeng Arab bergerak ke utara dan menyusup ke bawah lempeng Eurasia dalam proses yang disebut subduksi, menutup Samudra Tethys sedikit demi sedikit hingga kedua daratan akhirnya bertemu.
Namun tabrakan benua bukanlah peristiwa yang selesai dalam sekejap.
“Dan hal yang menarik tentang tabrakan benua adalah bahwa tabrakan tersebut tidak berakhir dalam sekejap,” kata Allen.
Baca juga: Trump Beri Iran Ultimatum 48 Jam untuk Buka Selat Hormuz
“Kekuatan mendalam yang menyebabkan lempeng-lempeng bergerak masih dapat beroperasi bahkan setelah benua-benua ini disatukan selama puluhan juta tahun,” jelasnya.
Tekanan yang terus-menerus itu menyebabkan kedua lempeng mengalami pemendekan dan penebalan — mirip seperti dua mobil yang bertabrakan hingga bagian-bagiannya terlipat dan menumpuk. Hasilnya adalah Pegunungan Zagros yang kini berdiri megah di Iran, serta cekungan besar di lempeng Arab yang kemudian berkembang menjadi Teluk Persia dan Selat Hormuz.
Babak berikutnya terjadi sekitar 20.000 tahun lalu, pada puncak Zaman Es atau Last Glacial Maximum. Kala itu, permukaan laut jauh lebih rendah dari sekarang, membuat wilayah Teluk Persia menjadi daratan yang relatif dangkal. Menurut Allen, pada beberapa titik bahkan memungkinkan untuk berjalan melintasi area tersebut. Ketika lapisan es global mencair, permukaan laut naik sekitar 100 meter dalam kurun 15.000 tahun. Air laut menggenangi dataran rendah itu, termasuk lembah-lembah sungai purba seperti Tigris dan Eufrat, membentuk perairan yang kita kenal sebagai Selat Hormuz hari ini.
Bumi yang Belum Berhenti Bergerak
Yang membuat kawasan ini semakin menakjubkan sekaligus mengkhawatirkan adalah kenyataan bahwa proses geologisnya belum usai. Di Pegunungan Zagros, gaya tektonik masih terus menekan dan menebalkan kerak bumi, menghasilkan struktur lipatan yang semakin kompleks dari waktu ke waktu. Kawasan ini juga dikenal dengan fenomena unik berupa gletser garam dan kubah garam — lapisan garam dari dalam bumi yang terdorong ke permukaan melalui celah-celah batuan.
“Di beberapa tempat, garam itu benar-benar mengalir menuruni lereng bukit seperti gletser batuan,” jelas Allen.
Semenanjung Musandam pun tidak diam. Terbentuk dari kerak samudra purba yang terdorong ke daratan melalui proses obduksi antara 95 hingga 60 juta tahun lalu, semenanjung ini ternyata masih terus bergerak. Studi yang dilakukan Searle dan timnya pada 2014 mengonfirmasi bahwa Musandam perlahan-lahan bergeser ke arah utara, menuju Pegunungan Zagros.
“Dan Selat Hormuz akan secara bertahap tertutup,” kata Searle. Meski demikian, proses tersebut diperkirakan baru akan terjadi dalam jutaan tahun ke depan — waktu yang cukup lama bagi peradaban manusia untuk tidak perlu khawatir sekarang.
Dari Tumbukan Benua ke Ladang Minyak
Proses geologi yang sama yang membentuk Selat Hormuz juga bertanggung jawab atas kekayaan energi Timur Tengah yang luar biasa. Selama ratusan juta tahun, wilayah lempeng Arab terendam di bawah laut dan mengakumulasi material organik yang kemudian berubah menjadi hidrokarbon. Ketika tumbukan lempeng terjadi, kantong-kantong minyak dan gas itu terperangkap di bawah lapisan batuan, membentuk ladang energi raksasa yang kini tersebar di Iran, Irak, dan sebagian Suriah.
“Yang khas dari Timur Tengah adalah skalanya yang sangat besar,” ujar Allen. Ia menekankan bahwa ukuran cadangan yang besar itulah yang membuat eksploitasi energi di kawasan ini begitu efisien secara ekonomi.
Dan seluruh kekayaan energi itu harus melewati satu pintu: Selat Hormuz. Ketergantungan ini menjadikan selat tersebut titik paling rentan sekaligus paling vital dalam rantai pasokan energi dunia. Gangguan di kawasan ini terbukti mampu mengguncang ekonomi global secara langsung, sebagaimana yang terjadi sejak akhir Februari 2026 akibat konflik yang kembali memanas di Timur Tengah.
Selat Hormuz adalah paradoks yang hidup: sebuah perairan sempit yang lahir dari tumbukan dua benua raksasa, menyimpan warisan geologis berusia puluhan juta tahun, sekaligus menjadi urat nadi energi yang menopang peradaban modern. Ia bukan sekadar jalur pelayaran — ia adalah jendela langsung menuju sejarah paling dramatis planet kita, yang prosesnya, diam-diam, masih terus berjalan. (hsn)
Sumber: beritasatu.com

Leave a comment