POPULARITAS.COM – Nurlaila (60), meski usia terbilang renta, namun semangatnya masih menyala. Banjir bandang yang menyampu tempat tinggalnya, tak lantas membuat perempuan sepuh itu patah arang. Bersama ratusan warga Lhok Sandeng, ia kini menghuni tenda di salah satu posko pengungsian di Pidie Jaya.
Hidup di tenda dan jadi warga pengungsian, bukan pilihan Nurlaila, banjir bandang yang menghempas Gampong Lhok Sandeng, tempat huniannya, kini tak bisa lagi dia tinggali.
Satu bulan lebih sudah, ia hidup sebagai pengungsi. Tempatnya bernaung kini hanya tenda. Dirinya, bersama anak-anak dan ponakannya tinggal di tempat itu.
Bupati Pidie Jaya, Syibral Malaysi, Senin 5 Januari 2026, mendatangi lokasi pengungsian tempat Nurlaila tinggal sementara. Saat itu, perempuan renta itu sedang duduk beralaskan terpal plastik biru.
“Waalaikum salam,” sapa Nurlaila, sembari melemparkan senyum dari wajahnya yang mengeriput kala Syibral mengucapkan salam kepadanya.
Usai mengucapkan, Syibral lantas berbaur dan berbincang dengan keluarga Nurlaila. Merasa terhormat kedatangan pimpinan daerahnya, perempuan itu terus memancarkan senyum sumringah.
Syibral tak sendiri saat menemui Nurlaila dan ratusan pengungsi lainnya. Ia ditemani Dandim 0102/ Pidie, Letkol Inf Abdul Hadi.

Kedatangan keduanya untuk memantau korban banjir bandang setempat di Lhok Sandeng yang masih mengungsi 40 hari pasca bencana ekologi itu serta menyerahkan bantuan sembako dan peralatan anak-anak.
Syibral berdiskusi langsung dengan setiap korban yang masih bertahan mengungsi akibat rumahnya rusak parah diterjang banjir bandang pada 26 November 2025 lalu.
“Bagaimana keadaan ibu-ibu. Bagaimana kebutuhan pangan di sini (pengungsian) aman kan?” tanya Syibral.
”Untuk sementara aman pak bupati. Karena biasa dua hari sekali ada yang bawa sembako ke lokasi pengungsian,” jawab Nurlaila ke Bupati Syibral.
Syibral juga menanyakan apakah tenaga kesehatan datang dua hari sekali untuk melayani kesehatan korban banjir?.
Dia memastikan akan memenuhi setiap kebutuhan korban banjir Pidie Jaya. Selain mengunjung pengungsi, Syibral juga memantau Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Meureudu yang rusak parah akibat banjir bandang.
Tidak hanya itu, bupati bersama dandim juga meninjau jembatan gantung penghubung Gampong Lhok Sandeng dengan Dusun Lhok Pineung yang putus pada 26 November 2025 lalu.
Dandim 0102/ Pidie, Letkol Inf Abdul Hadi menyebutkan, pihaknya akan membangun jembatan Lhok Sandeng penghubung Dusun Lhok Pineung dengan berkerjasama dengan VRI.
Sekretaris desa (Sekdes) Gampong Lhok Sandeng, Rasyidin mengaku, dari 60 pengungsi sekira 16 diantaranya merupakan balita.
Pasca banjir, warga Lhok Sandeng sudah mengungsi di dua lokasi. Pertama di Surau atau Meunasah Gampong Sarah Mane selama 23 hari.
Kemudian pindah ke lahan kosong desa setempat dekat jembatan pembatan dua gampong itu. “Warga Lhok Sandeng yang menjadi korban banjir capai 191 jiwa. Rumah yang rusak berat sekira 17 unit. Yang mengungsi 60 jiwa termasuk 16 balita,” kata Rasyidin.
Kata Rasyidin, di Dusun Lhok Pineung terdapat 12 rumah dengan jumlah Kepala Keluarga (KK) sekira 20 yang tidal bisa lagi kembali ke rumah akibat jembatan terputus.
Leave a comment