POPULARITAS.COM – Wali Nanggroe Aceh, Malik Mahmud Al Haytar mengatakan pembangunan Aceh pascabencana tidak boleh hanya berfokus pada aspek fisik semata. Namun, harus mencakup pemulihan sosial dan penguatan nilai-nilai adat sebagai fondasi kehidupan masyarakat.
“Aceh bukan sekadar wilayah, tetapi jati diri, kehormatan, dan peradaban yang berdiri di atas adat dan syariat,” kata Malik Mahmud saat membuka Musyawarah Besar (Mubes) Majelis Adat Aceh (MAA) di Meuligoe Wali Nanggroe, Banda Aceh, Rabu, (8/4/2026).
Malik Mahmud menyoroti dampak serius bencana banjir hidrometeorologi yang melanda sejumlah wilayah di Aceh pada 26 November 2025 lalu. Menurutnya, bencana tersebut tidak hanya merusak infrastruktur fisik, tetapi juga mengguncang stabilitas sosial masyarakat adat.
Oleh karena itu, Malik Mahmud menekankan bahwa proses rehabilitasi dan rekonstruksi harus dilakukan secara menyeluruh.
“Kita tidak hanya membangun rumah, tetapi membangun kembali harapan. Tidak hanya memperbaiki jalan, tetapi memulihkan arah kehidupan,” tegasnya.
Untuk mempercepat pemulihan, Malik Mahmud meminta konsolidasi dan sinergi lintas lembaga, melibatkan lembaga adat, Pemerintah Aceh, serta pemerintah kabupaten/kota. Malik Mahmud berharap MAA mampu mengambil peran strategis, antara lain melalui mediasi sosial di wilayah terdampak, penguatan harmonisasi masyarakat, pengawalan distribusi bantuan agar adil dan tepat sasaran, serta pelestarian nilai-nilai adat dalam proses pembangunan kembali.
Selain itu, Malik Mahmud juga menekankan pentingnya penguatan kelembagaan adat diera modern melalui revitalisasi institusi, digitalisasi dan dokumentasi adat, pelibatan generasi muda, serta sinergi lintas sektor.
“Langkah ini dinilai krusial untuk memastikan adat Aceh tetap relevan dan menjadi pilar utama dalam menjaga marwah serta keberlanjutan pembangunan daerah,” ujarnya.
Mengutip falsafah kuno, “Adat bak Poteumeureuhom, Hukom bak Syiah Kuala, Qanun bak Putroe Phang, Reusam bak Laksamana”, Wali Nanggroe mengingatkan bahwa keberlanjutan Aceh sangat bergantung pada kekuatan nilai adat yang hidup di tengah masyarakat.
“Dari Meuligoe ini kita kirimkan pesan kepada seluruh rakyat Aceh, bahwa adat masih hidup, Aceh masih kuat, dan kita tidak akan pernah menyerah,” pungkasnya.

Leave a comment