Home News Antisipasi gejolak Timur Tengah, PT TPIA percepat pasokan bahan baku nafta
News

Antisipasi gejolak Timur Tengah, PT TPIA percepat pasokan bahan baku nafta

Share
Direktur Sumber Daya Manusia dan Urusan Korporat PT Chandra Asri Pacific Tbk Suryandi bicara kepada wartawan di Jakarta, Senin, 2 November 2026. (Beritasatu.com/Erfan Maruf)
Share

POPULARITAS.COM – Gejolak Timur Tengah, terutama Selat Hormuz yang kian tak menentu. Mendorong PT Chandra Asri Pasific Tbk (TPIA), percepat impor bahan Baku nafta. Langkah itu sangat penting dilakukan sebagai bentuk ekspansi perusahaan.

Kebutuhan Nafta perusahaan dari Timur Tengah sendiri, capai 80 persen. Keseluruhannya proses importasinya melewati jalur Selat Hormuz.

Direktur Sumber Daya Manusia dan Urusan Korporat PT Chandra Asri Pacific Tbk Suryandi mengatakan potensi gangguan pasokan melalui jalur pelayaran strategis tersebut mendorong perusahaan mencari sumber bahan baku alternatif di luar Timur Tengah.

Salah satu langkah yang ditempuh adalah mengembangkan fasilitas condensate splitter unit (CPU) di Singapura yang ditargetkan rampung pada 2027.

“Dengan adanya disrupsi terhadap pasokan dari Selat Hormuz, itu membuat kami lebih cepat agar rantai pasok ataupun alternatif nafta tersebut dapat kita cari pasokannya, bukan hanya tergantung dari Middle East,” kata Suryandi dalam diskusi Forum Wartawan Industri (Forwin) di Jakarta, Senin (2/11/2026).

Suryandi menjelaskan nafta merupakan bahan baku utama industri petrokimia. Karena itu, gangguan distribusi melalui Selat Hormuz berpotensi memengaruhi kelancaran pasokan bahan baku perusahaan.

Selain fasilitas di Singapura, Chandra Asri juga tengah mengembangkan fasilitas CPU di Cilegon, Banten. Fasilitas tersebut memiliki kapasitas pengolahan sekitar 300.000 barel per hari dan diproyeksikan menghasilkan bahan baku alternatif untuk mendukung kebutuhan industri petrokimia.

Menurut Suryandi, fasilitas CPU diperkirakan mampu menghasilkan bahan baku alternatif setara 2,5 juta ton per tahun. Kehadiran fasilitas tersebut diharapkan memberikan fleksibilitas bagi perusahaan dalam menghadapi potensi gangguan pasokan nafta dari Timur Tengah.

“Condensate splitter ini akan menghasilkan bahan baku alternatif untuk nafta. Secara setahun itu setara dengan 2,5 juta ton untuk industri. Nah, itu satu opsi atau pilihan yang sangat positif dan memberikan fleksibilitas kepada Chandra Asri,” jelasnya.

Meski demikian, Suryandi menegaskan pengembangan fasilitas CPU tidak berarti perusahaan akan sepenuhnya menghentikan impor nafta. Pasokan impor tetap dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri petrokimia.

Namun, ketersediaan alternatif pasokan akan memberikan pilihan tambahan bagi perusahaan jika terjadi gangguan distribusi maupun produksi di negara-negara pemasok Timur Tengah.

“Kita tetap impor nafta, tetapi ini menjadi alternatifnya apabila ada terjadi gangguan lagi. Misalnya pabrik di Timur Tengah ada gangguan, lalu pasokannya juga terganggu, kita akan punya alternatif,” katanya.

Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Tulisan Terkait
News

Kapolres Abdya : Vape Bisa Jadi Celah Penyalahgunaan Narkoba

POPULARITAS.COM – Penggunaan rokok elektrik atau vape yang semakin marak, mendapat perhatian...

News

Banjir di Aceh Selatan Belum Surut, Genangan Capai 130 Cm

POPULARITAS.COM – Banjir masih menggenangi sejumlah wilayah di Kabupaten Aceh Selatan hingga...

News

2 Hektar Ladang Ganja Siap Panen di Tangse Dimusnahkan

POPULARITAS.COM – Ladang ganja siap panen seluas 2 hektar dipergunungan Tangse Pidie...

News

Ratusan Petani dan Mahasiswa Geruduk PT CA di Abdya

POPULARITAS.COM – Ratusan petani bersama mahasiswa menggeruduk kantor PT Cemerlang Abadi (PT...

Exit mobile version