POPULARITAS.COM – Wali Nanggroe Aceh, Malik Mahmud Al Haythar menegaskan Asia Tenggara membutuhkan lebih banyak kepercayaan, bukan dominasi, untuk menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan.
Hal itu disampaikan Wali Nanggroe Aceh saat menjadi pembicara dalam ASEAN For the Peoples Conference (AFPC) 2025 di Sultan Hotel & Residence, Jakarta, Senin (6/10/2025).
“Rekonsiliasi bukan sekadar kata kunci politik, melainkan pengalaman hidup yang telah membentuk Aceh dan dirinya secara pribadi,” kata Malik Mahmud Al Haythar.
Malik mengatakan, konflik bersenjata di Aceh berlangsung lebih dari tiga dekade antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Namun, titik balik terjadi pada 2005 saat penandatanganan Perjanjian Damai Helsinki.
“Saat itu, duduk berhadapan dengan pihak yang dulu menjadi lawan, lalu menorehkan tanda tangan pada sebuah dokumen yang mengakhiri konflik panjang, adalah momen paling menentukan,” ujarnya.
Menurut Malik, peristiwa tersebut menjadi bukti bahwa konflik yang paling keras sekalipun dapat diakhiri melalui dialog, kompromi, dan yang terpenting kepercayaan.
Lebih lanjut, Malik menyoroti konsep ASEAN Way, yakni pendekatan yang menekankan musyawarah, konsensus, dan penghormatan terhadap kedaulatan negara. Dia menegaskan bahwa rekonsiliasi sejati harus lahir dari dalam, bukan dipaksakan oleh kekuatan luar.
“Dalam perdamaian Aceh, fasilitator internasional memang menyediakan ruang netral. Namun, penggerak utama perdamaian adalah tekad dan inisiatif kami sendiri sebagai bangsa Indonesia dan rakyat Aceh,” ujarnya.
Disamping iitu, Malik juga menyinggung berbagai krisis yang masih membayangi Asia Tenggara, mulai dari konflik di Myanmar hingga sengketa perbatasan antarnegara. Dia menilai, pengalaman Aceh menunjukkan bahwa perdamaian yang kokoh hanya dapat tercapai jika semua pihak dilibatkan.
“Dunia bisa belajar dari Aceh, dari Mindanao, dari Timor-Leste, bahwa rekonsiliasi tetap mungkin, bahkan setelah puluhan tahun perang. Kuncinya bukan pada kekuatan militer, melainkan pada keberanian moral untuk mengubah kecurigaan menjadi kepercayaan, dan musuh menjadi mitra,” jelasnya.
Menutup pidatonya, Malik menegaskan bahwa rekonsiliasi adalah perjalanan panjang yang membutuhkan kesabaran dan kerendahan hati
Malik menyebutkan perdamaian Aceh, yang telah bertahan hampir dua dekade, sebagai bukti nyata bahwa kepercayaan dapat membangun kembali kehidupan.
“Ukuran sejati rekonsiliasi bukan pada tanda tangan di atas kertas, melainkan pada kehidupan yang bangkit kembali, anak-anak yang tumbuh tanpa rasa takut, dan harapan yang Asia Tenggara dapat persembahkan kepada dunia yang merindukan perdamaian,” pungkasnya.











Leave a comment