POPULARITAS.COM – Gelombang demo Prancis pada Sabtu (17/10/2026) hingga Minggu (18/10/2026) berlangsung di tengah meningkatnya ketidakpuasan masyarakat terhadap biaya hidup, sulitnya memperoleh tempat tinggal, persoalan pendidikan, hingga kebijakan pemerintah.
Pada periode yang sama, demonstrasi dan mobilisasi mahasiswa juga terjadi di sejumlah negara Eropa, meski dengan tuntutan yang berbeda-beda.
Italia, Belgia, Spanyol, Portugal, Albania, Jerman, Austria, dan Yunani termasuk negara yang disebut mengalami aksi protes atau mobilisasi mahasiswa.
Pada sejumlah tempat, demonstrasi berlangsung damai. Namun, beberapa aksi juga berujung bentrokan dengan polisi, perusakan fasilitas umum, hingga penangkapan demonstran.
Sejumlah laporan media internasional menggambarkan aksi di Eropa sebagai demonstrasi yang berlangsung secara terpisah dan tidak sepenuhnya terkoordinasi.
Setiap negara memiliki persoalan domestik yang berbeda, mulai dari kenaikan biaya hidup dan krisis perumahan hingga anggaran pendidikan, pengangguran, dan dugaan korupsi pemerintah.
Prancis menjadi salah satu pusat utama gelombang demonstrasi pada Oktober 2026. Aksi yang kemudian melibatkan berbagai kelompok masyarakat itu mulai memperoleh momentum pada 21 September 2026, ketika siswa Lycée Saint-Exupéry di Créteil memprotes kekurangan guru, kondisi gedung sekolah yang memburuk, serta ruang kelas yang terlalu padat.
Aksi mahasiswa dan pelajar kemudian meluas dengan dukungan serikat pekerja serta masyarakat yang menghadapi tekanan biaya hidup. Pada Sabtu (17/10/2026), sekitar 550.000 orang mengikuti 110 demonstrasi di berbagai wilayah Prancis, menurut data Kementerian Dalam Negeri Prancis.
Penyelenggara memperkirakan jumlah peserta mencapai 800.000 orang. Angka tersebut menunjukkan besarnya mobilisasi masyarakat. Namun, demonstrasi tidak seluruhnya berlangsung damai. Bentrokan dilaporkan terjadi di Paris, Marseille, Limoges, dan sejumlah kota lainnya.
Angka penangkapan yang berbeda juga muncul dalam sejumlah laporan, sehingga jumlah akhirnya perlu merujuk pada pembaruan resmi otoritas Prancis.
Kerusuhan turut menyebabkan toko dijarah dan bangunan publik dirusak. Di Limoges, kebakaran yang diduga berkaitan dengan aksi demonstran bertopeng dilaporkan merusak parah balai kota yang telah berusia lebih dari 140 tahun. Di Lyon, kantor pariwisata kota dibakar. Sejumlah bangunan pemerintahan di Marseille dan Lille juga dilaporkan mengalami kerusakan.
Presiden Prancis Emmanuel Macron mengecam aksi kekerasan tersebut dan menegaskan pihak yang bertanggung jawab akan diproses secara hukum.
Selain Prancis, sejumlah negara Eropa juga menghadapi demonstrasi atau mobilisasi mahasiswa pada Sabtu (17/10/2026) hingga Minggu (18/10/2026). Pemicu dan skala aksinya tidak seragam.
1. Italia
Italia menjadi salah satu negara yang mengalami bentrokan dalam demonstrasi pada Sabtu (17/10/2026) hingga Minggu (18/10/2026). Mahasiswa memprotes pendanaan pendidikan, pengeluaran militer, serta kebijakan pemerintah.
Sejumlah mahasiswa juga dilaporkan menduduki sekolah di Turin dan Roma sebagai bentuk penolakan terhadap kebijakan yang mereka anggap merugikan sektor pendidikan.
Dalam aksi bertajuk No Meloni Day pada 16 Oktober, para mahasiswa menolak pembatasan jumlah siswa asing di ruang kelas dan meminta pemerintah meningkatkan anggaran pendidikan.
Kantor berita Italia ANSA melaporkan demonstran turut menyuarakan slogan yang bermakna penolakan terhadap keberadaan orang asing di sekolah.
2. Belgia
Di Belgia, aksi protes berkaitan dengan penolakan terhadap pemangkasan anggaran pendidikan, kenaikan biaya kuliah, dan tekanan ekonomi. Demonstrasi mahasiswa telah berlangsung selama beberapa pekan, termasuk aksi yang menyoroti biaya pendaftaran universitas.
Di Brussel, polisi menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan demonstran. Sejumlah peserta aksi diduga melempar benda ke arah petugas dan membakar objek di sekitar lokasi demonstrasi.
3. Spanyol
Di Spanyol, krisis perumahan menjadi salah satu pemicu utama aksi protes. Kenaikan harga rumah, mahalnya biaya sewa, dan terbatasnya pilihan hunian terjangkau membuat masyarakat, khususnya kelompok muda, semakin sulit mendapatkan tempat tinggal.
4. Portugal
Portugal turut menghadapi demonstrasi di tengah tekanan biaya hidup dan krisis perumahan. Pada Sabtu (17/10/2026), puluhan ribu orang diperkirakan turun ke jalan di Lisbon untuk memprotes kenaikan biaya hidup, upah rendah, persoalan pensiun, serta memburuknya layanan publik.
Harga rumah di Portugal dilaporkan meningkat lebih dari dua kali lipat sejak 2017. Sementara itu, harga sewa untuk kontrak baru juga naik tajam, sehingga masyarakat semakin kesulitan mencari hunian di kota-kota besar.
5. Albania
Berbeda dari demonstrasi di sejumlah negara Eropa yang berfokus pada biaya hidup dan pendidikan, aksi di Albania juga secara langsung menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Edi Rama. Para demonstran menyoroti dugaan korupsi pemerintah, tingginya pengangguran, serta terbatasnya peluang ekonomi bagi anak muda.
Pada Sabtu (17/10/2026), ribuan demonstran muda dilaporkan berkumpul di depan Kementerian Pendidikan di Tirana. Aksi tersebut memasuki hari kelima berturut-turut dari gerakan yang dipimpin mahasiswa dan kelompok muda.
Aksi di Albania memperlihatkan bahwa gelombang demonstrasi di Eropa tidak hanya berkaitan dengan tekanan ekonomi. Tuntutan terhadap transparansi dan pertanggungjawaban pemerintah juga menjadi bagian penting dari protes di negara tersebut.
6. Jerman
Di Jerman, mobilisasi mahasiswa dilaporkan berlangsung dengan skala lebih terbatas dibandingkan demonstrasi di Prancis. Pada Jumat (16/10/2026), mahasiswa disebut memblokade pintu masuk Andreas-Gymnasium di Berlin sebagai bentuk penolakan terhadap persiapan penerapan wajib militer.
Para demonstran juga meminta pemerintah meningkatkan investasi di sektor pendidikan. Mereka menilai anggaran pendidikan perlu mendapat perhatian di tengah kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan pertahanan dan rencana wajib militer.
Penolakan terhadap persiapan wajib militer menjadi salah satu isu yang membedakannya dari demonstrasi di Prancis yang melibatkan tuntutan lebih luas terkait biaya hidup dan layanan publik.
7. Austria
Austria juga disebut mengalami mobilisasi mahasiswa yang menyoroti pemangkasan anggaran universitas dan memburuknya fasilitas pendidikan.
Para mahasiswa menyampaikan kekhawatiran bahwa kebijakan anggaran dapat memengaruhi kualitas pembelajaran serta ketersediaan sarana akademik.
Profesor hukum dan kebijakan Uni Eropa di HEC Paris, Alberto Alemanno, menilai Austria masih berada pada tahap awal gerakan protes. Menurut laporan Al Jazeera, Alemanno menyebut mobilisasi di Austria berpotensi berkembang pada pekan berikutnya.
8. Yunani
Yunani menjadi negara lain yang disebut mengalami demonstrasi atau mobilisasi mahasiswa pada Oktober 2026. Aksi di negara ini dikaitkan dengan kenaikan biaya tempat tinggal, kelangkaan hunian, kebijakan universitas, serta peningkatan belanja militer.
Biaya akomodasi yang semakin tinggi menjadi perhatian mahasiswa karena menambah beban pengeluaran selama menempuh pendidikan. Para mahasiswa juga menyuarakan keberatan terhadap kebijakan pendidikan dan alokasi anggaran pemerintah.







Leave a comment