Carut marut dunia pendidikan Aceh, Alhudri mundurlah

PULUHAN pelajar yang tergabung dalam organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII) Aceh, Selasa (2/11/2022), demontrasi ke Kantor Dinas Pendidikan Aceh yang berada di Jalan Tgk Daud Beureueh tersebut. Tuntutan para pelajar dan mahasiswa itu, Desak Alhudri mundur sebagai kepala dinas.

Penilaian para demonstran, Alhudri telah gagal menjalankan tugasnya, dan bahkan dalam kurun waktu dua tahun menjabat sebagai kepala dinas pendidikan, tidak ada perubahan besar yang dilakukan mantan kepala dinas sosial itu untuk pendidikan Aceh.

Kordinataor aksi Teuku Rahman menilai Alhudri sebagai Kepala Dinas Pendidikan Aceh etidak transparan kelola anggaran, dan bahkan kebijakan pengelolaan pendidikan tidak jelas arahnya. “Dia tidak paham arah pendidikan Aceh. Bagaimana mau maju pendidikan di sini,” katanya.

Teuku Rahman juga menila, selama dua tahun pimpin Dinas Pendidikan Aceh, Alhudri gagal, dan kasus korupsi di lembaga itu meningkat pesat.

Tuntutan serupa juga pernah di suarakan oleh anggota DPR Aceh, Purnama Setia Budi. Pada 23 September 2022, Politisi dari Fraksi Partai PKS ini, merekomendasikan kepada Pj Gubernur Aceh Achmad Marzuki untuk mencopot Alhudri dari jabatannya.

Menurut Purnama, pergantian Alhudri penting dilakukan, untuk percepat realisasi anggaran dan program yang efektif dalam memperbaiki kinerja pendidikan di Aceh. Dia juga menilai, kinerja dinas pendidikan sangat lemah, realisasi anggaran minim, dan kapasitas kelembagaan yang ada tidak dapat bergerak cepat menjawab dinamika pendidikan yang terus berkembang.

Buruknya pengelolaan dunia pendidikan di Aceh, dapat terlihat dari pengumuman Lembaga Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi ( LTMPT ). Instansi ini, pada 26 Agustus 2022 mengumumkan Top 1000 Sekolah SMA/SMK dan MA Tahun 2022 Berdasarkan Nilai Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK).

Dari pengumuman itu, tidak ada satupun sekolah setingkat SMA di Aceh yang masuk peringkat 100 besar secara nasional. Hanya terdapat empat sekolah yang masuk Top 1.000 terbaik, itupun peringkatnya jauh di bawah.

Contohnya SMA Negeri Modal Bangsa Aceh, sekolah favorit ini justru terjun bebas peringkatnya, pada 2021 masuk Top 100 besar sekolah terbaik di Indonesia, berada peringakat 98. Namun pada 2022, terjun bebas ke peringkat 157 nasional. Besaran dana pendidikan Aceh yang setiap tahunnya mencapai Rp3,5 triliun, tidak berbanding lurus dengan peningkatan prestasi pendidikan. Dan bahkan, dalam kurun waktu terakhir selama di pimpin Alhudri terjadi penurunan. Tentu wajar, jika para pelajar itu menuntutnya mundur. (***EDITORIAL)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.