EditorialHeadline

Di balik putusan penting Mega atas Ganjar Pranowo

Dibalik putusan penting Mega atas Ganjar Pranowo
tangkapan layar konpresi pers pengumuman Ganjar Pranowo sebagai calon Presiden RI oleh Ketua Umum Megawati Sukarno Putri, didampingi Presiden RI Joko Widodo, dan Ketua DPR RI Puan Maharani. FOTO : popularitas.com/Hendro Saky

POPULARITAS.COM – Di acara Indonesia Lawyer Club (ILC) yang disiarkan TV One, sang pembawa acara Karni Ilyas bertanya pada politisi PDIP Panda Nababan soal isu Megawati Sukarno Putri maju pada konstestasi Pilpres 2024. Lantas mantan wartawan itu menjawab bahwa hal itu merupakan isu liar dan gila.

Lantas, Panda menceritakan 10 tahun yang lalu saat Ia dan Megawati berdiskusi soal Capres, saat itu Ketua Umum Megawati itu menegaskan bahwa, dirinya tak akan maju lagi sebagai calon presiden, selain sudah tua, Ia sadar bahwa masyarakat Indonesia masih sulit menerima pemimpin perempuan.

“Kau pikir aku gila Panda, sudah tiga kali aku kalah di Pilpres,” kata Megawati yang ditirukan Panda Nababan.

Sebab itu, pada Pilpres 2009, PDIP secara resmi mencalonkan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo sebagai Presiden RI, dan terbukti, kader PDIP itu menang dua kali dalam pemilihan Presiden Republik Indonesia.

Pada pemilu 2024, Megawati sangat berhati-hati dalam menetapkan calon presiden. Dengan modal lebih dari 22,26  persen suara parlemen atau 128 kursi DPR RI, praktis PDIP dapat mencalonkan kadernya sebagai Capres 2024 tanpa mesti koalisi.

Saat hinggar bingar perpolitikan nasional, serta atmosfer pencapresan kian dekat, Megawati tetap tenang, Ia sama sekali tidak terusi dengan berbagai isu, bahkan termasuk tuduhan dirinya kukuh akan mencalonkan Putrinya Puan Maharani sebagai Capres 2024.

Mega tak goyah, Ia tetap menyimpan keputusan politiknya yang penting dan ditunggu, baik oleh kawan politik maupun ‘musuh-musuh’ politiknya. Ya, putri proklamator itulah yang sesuai dengan ketentuan internal di PDIP yang berhak menentukan dan menetapkan Capres dari partai berlogo moncong putih itu.

Jika dulunya KPK punya istilah jumat keramat, maka pengumuman Megawati yang dilangsungkan pada hari yang sama, atau tepatnya sehari sebelum idulfitri 1444 hijriyah, persisnya tanggal 21 April 2024, bertepatan dengan Hari Kartini, ibu dari Puan Maharani dan Muhammad Prananda Prabowo itu, secara resmi tunjuk Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sebagai calon presiden PDI Perjuangan.

Didampingi Presiden RI Joko Widodo, bertempat di Istana Batu Tulis, Bogor, nama Ganjar Pranowo akhirnya secara resmi diusung menjadi Calon Presiden PDIP yang disampaikan oleh Megawati Sukarno Putri.

Bagi PDIP itu tentu bukan hal mengejutkan, namun, bagi kalangan eksternal, keputusan Mega itu buat banyak terkejut. Pasalnya, berbagai isu sebelum Ganjar di calonkan bermunculan, dari masalah kehendak Megwa yang Ingin maju, bahkan keinginan anak Sukarno itu akan memajukan Puan Maharani.

Di saat Jumat keramat lalu, isu itupun akhirnya berguguran, semua publik terperanjat, dan akhirnya sadar bahwa Megawati adalah Ketua Umum PDIP yang berpikirian objektif revolusioner. Ia sadar bahwa, estafet kepemimpinan bangsa harus di pegang sosok yang tepat, dan hal tersebut tidak mesti dari trah Bung Karno.

Objektivitas Mega tunjuk Ganjar juga tentu didasari soal elektabilitas dan Popularitas Ganjar Pranowo yang terus menunjukkan performa terbaik dibandingkan dengan figur lain yang terlebih dahulu sudah di deklarasikan sebagai Capres.

Mega memang selalu hadir saat-saat genting, dan keputusan politiknya kerap menghadirkan angin segara bagi perpolitikan nasional. Belum lekang dari ingatan kita tentunya, saat Ketum PDIP itu turun ke gelanggang menghadang isu perpanjangan masa jabatan presiden, hingga soal presiden jabatan presiden tiga periode.

Itulah Mega, Ia tidak sekedar keturunan biologis Sukarno, tapi juga putri ideologis sosok proklamator itu.

Selamat Pak Ganjar Pranowo atas keputusan Ketua Umum Megawati Sukarno Putri menunjuk bapak sebagai capres PDI Perjuangan. (***EDITORIAL)

Shares: