POPULARITAS.COM – Hubungan bilateral Bangladesh dan Kerajaan Arab Saudi tengah diuji. Baru-baru ini, Kerajaan Arab Saudi menghukum mati laki-laki dan perempuan asal Bangladesh dengan cara memenggal kepala kedua pelaku.
Keduanya dipenggal karena dinyatakan bersalah karena terbukti berzina di sebuah masjid di tanah suci, Makkah. Berdasarkan informasi yang viral di media sosial, memang tidak satu pun menyebutkan nama masjid tempat laki-laki dan perempuan itu bermesraan.
Tidak ada satu pun sumber resmi yang menyebut bahwa keduanya berzinah di Masjidil Haram. Kerajaan Arab Saudi hanya menginformasikan pelaku terbukti bersalah melakukan perzinaan di sebuah masjid di wilayah tanah suci. Eksekusi pun dilakukan pada 14 Oktober 2026 lalu. Setelahnya, jenazah kedua pelaku dikirim ke Bangladesh.
Setelah berita tersebut tersiar, Bangladesh meradang. Dikutip The Daily Star, Senin (19/10/2026), pemerintah Bangladesh merasa ada banyak hal yang ditutup-tutupi oleh Kerajaan Arab Saudi terkait tindakan kejahatan itu dan eksekusi yang telah dilakukan.
Mereka geram karena Kerajaan Arab Saudi justru tidak memasukkan nama kedua pelaku dalam daftar nama ribuan tahanan di Arab Saudi yang biasanya dibagikan rutin per bulan ke pihak Bangladesh.
Pejabat Konsulat Jenderal Bangladesh di Jeddah mengonfirmasi bahwa pada September 2026 lalu pihaknya memang sempat meminta pembaruan data mengenai daftar tahanan asal Bangladesh kepada otoritas Arab Saudi.
Pemerintah Arab Saudi kemudian mengirimkan daftar yang mencakup sekitar 2.500 nama tahanan Bangladesh, termasuk dua nama warga negara Bangladesh yang dieksekusi pada 14 Oktober 2026 lalu.
Namun, dokumen resmi tersebut sama sekali tidak mencantumkan rincian vonis (verdict) hukum yang mengancam nyawa kedua orang tersebut. Dalam salinan daftar yang diterima konjen, pihak Arab Saudi hanya mencantumkan kategori pelanggaran umum. Satu nama dicatat dengan tuduhan perzinaan (adultery), sementara satu nama lainnya dituduh melakukan pelanggaran teknologi informasi (ICT).
Pihak Konsulat Jenderal Bangladesh di Jeddah menegaskan bahwa berdasarkan keterangan deskripsi yang sangat minim pada daftar tersebut, mustahil bagi tim diplomatik untuk menghubungkan status kedua tahanan dengan ancaman eksekusi mati. Tidak ada indikasi sama sekali bahwa proses peradilan telah memasuki tahap vonis maksimal.
Kementerian Luar Negeri Bangladesh di Dhaka menjelaskan bahwa dengan jumlah daftar mencapai 2.500 tahanan, perwakilan diplomatik biasanya memprioritaskan bantuan konsuler untuk kasus-kasus darurat dan kelompok rentan. Selain itu, kedua WN Bangladesh tersebut tercatat tidak pernah mengajukan permohonan bantuan hukum resmi ke pihak kedutaan.
Menteri Muda Luar Negeri Bangladesh, Shama Obaed Islam, menegaskan kembali bahwa pemerintah Arab Saudi sama sekali tidak mengirimkan notifikasi diplomatik sebelum melaksanakan eksekusi. Langkah Arab Saudi yang mengeksekusi kedua WN Bangladesh atas tuduhan perzinaan di dalam masjid tanpa keterbukaan informasi dinilai melanggar protokol internasional.
Guna merespons celah informasi ini, Kemenlu Bangladesh telah menyerahkan nota diplomatik (note verbale) secara langsung kepada Duta Besar Arab Saudi di Dhaka, Abdullah Zafer H bin Abiyah. Pemerintah Bangladesh kini menginstruksikan seluruh jajaran perwakilannya di Arab Saudi untuk melakukan audit menyeluruh guna mengidentifikasi kelemahan sistem pengawasan diplomatik mereka.
Hingga saat ini Kerajaan Arab Saudi belum memberikan jawaban. Duta Besar Abdullah Zafer H bin Abiyah juga belum merespons nota diplomatik yang dikirim Bangladesh.








Leave a comment