POPULARITAS.COM – Meningkatnya aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda menyebabkan hujan abu vulkanik melanda empat kecamatan di Kabupaten Lampung Selatan, Lampung. Akibatnya banyak warga mengalami sesak nafas.
Dampak paling parah dirasakan masyarakat yang bermukim di Pulau Sebesi, Kecamatan Rajabasa. Abu vulkanik yang terbawa angin bahkan masuk ke dalam rumah dan menempel pada berbagai perabotan warga.
Kondisi tersebut membuat warga harus lebih sering membersihkan rumah dari endapan abu. Material vulkanik dilaporkan telah turun selama tiga hari terakhir dan mulai mengganggu aktivitas serta kesehatan masyarakat.
Sesak Napas
Hujan abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau juga dirasakan masyarakat di Kecamatan Bakauheni, Penengahan, Kalianda, dan Rajabasa.
Namun, Pulau Sebesi menjadi salah satu wilayah yang merasakan dampak paling berat karena lokasinya relatif dekat dengan Gunung Anak Krakatau.
Abu vulkanik yang menyelimuti permukiman tidak hanya mengganggu aktivitas sehari-hari. Sejumlah warga dilaporkan mengalami sesak napas akibat paparan abu yang terus berlangsung.
Selain gangguan pernapasan, warga mengalami iritasi mata karena partikel halus abu vulkanik beterbangan di udara. Kondisi tersebut diperparah angin yang membawa material abu dari arah Gunung Anak Krakatau menuju permukiman.
Sekretaris Daerah Lampung Selatan Supriyanto mengatakan keluhan warga terus meningkat sejak hujan abu terjadi.
“Abu vulkanik sudah terjadi sejak tiga hari terakhir ini. Sudah banyak warga di sini mengeluhkan abu vulkanik,” kata Supriyanto, Rabu (26/8/2026).
Menyikapi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan telah meningkatkan kesiapsiagaan, terutama di wilayah yang paling terdampak erupsi. Tenaga kesehatan dan puskesmas disiagakan untuk memantau kondisi masyarakat yang terdampak paparan abu vulkanik.
Dinas Kesehatan Lampung Selatan juga telah membagikan 1.500 masker di wilayah Dermaga Canti dan sekitarnya. Sementara itu, sebanyak 3.000 masker lainnya dibagikan kepada warga Pulau Sebesi. Pemkab Lampung Selatan mengimbau masyarakat menggunakan masker dan kacamata saat beraktivitas di luar rumah.
Warga juga diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama bayi, lansia, dan ibu hamil. Masyarakat juga diminta menutup rapat makanan dan air minum untuk mencegah kontaminasi abu vulkanik.
Abu Setiap 6 Jam
Supriyanto mengatakan pemerintah daerah terus meningkatkan koordinasi untuk mengantisipasi dampak erupsi Gunung Anak Krakatau.
Pemkab Lampung Selatan berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) untuk memperoleh informasi terbaru mengenai aktivitas gunung dan arah sebaran abu.
“Pemkab Lampung Selatan juga berkoordinasi dengan BMKG dan PVMBG untuk mendapatkan pembaruan mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau dan arah sebaran abu,” ujarnya.
Menurut Supriyanto, perkembangan kondisi tersebut dipantau secara berkala setiap enam jam. Informasi itu menjadi dasar bagi pemerintah untuk mengantisipasi potensi dampak terhadap masyarakat.
“Teman-teman di BPBD komunikasi terus dengan BMKG dan PVMBG terkait update informasi. Informasi-informasi ini di-update enam jam sekali,” ucapnya.
Intens Erupsi
Paparan abu vulkanik di sejumlah wilayah Lampung Selatan tidak terlepas dari peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau dalam beberapa hari terakhir.
Gunung api yang berada di perairan Selat Sunda tersebut menunjukkan intensitas erupsi yang cukup tinggi. Berdasarkan catatan pada Senin (17/8/2026), Gunung Anak Krakatau mengalami 20 kali erupsi dalam satu hari.
Dalam rangkaian erupsi tersebut, kolom abu tertinggi mencapai sekitar 400 meter di atas puncak atau 557 meter di atas permukaan laut. Material abu vulkanik kemudian terbawa angin dan menyebar ke wilayah sekitar, termasuk Pulau Sebesi yang berada relatif dekat dengan lokasi Gunung Anak Krakatau.
PVMBG mencatat aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Status tersebut menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik sehingga masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan.
Masyarakat, pengunjung, wisatawan, dan penduduk di sekitar kawasan gunung api diimbau mematuhi seluruh rekomendasi keselamatan. Mereka juga diminta tidak mendekati Gunung Anak Krakatau dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif untuk menghindari potensi bahaya akibat aktivitas erupsi.








Leave a comment