POPULARITAS.COM –Banjir yang menerjang Desa Durian, Kecamatan Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang, meninggalkan jejak pilu yang belum sepenuhnya mengering.
Di Dusun Metro Jaya, air memang telah surut, namun lumpur tebal setinggi lutut orang dewasa masih menguasai rumah-rumah warga, membuat sebagian besar bangunan belum layak untuk dihuni.
Setiap pagi, warga turun kembali ke rumah mereka yang terendam lumpur. Dengan alat seadanya, mereka membersihkan sisa banjir yang menempel di lantai, dinding, hingga perabot rumah tangga.
Namun, ketika malam tiba, warga kembali naik ke tenda-tenda pengungsian yang dibangun di atas bukit, tak jauh dari rumah mereka, masih dalam wilayah desa yang sama.
“Kalau siang kami bersihkan rumah, tapi malam belum berani tidur di sana. Lumpur masih dalam, bau, dan licin. Anak-anak juga belum aman,” kata Sulaiman warga Dusun Metro Jaya, sambil menunjukkan bekas lumpur yang mengeras di dinding rumahnya, Jumat (26/12/2025).
Bagi warga Desa Durian, rumah bukan sekadar bangunan, melainkan tempat menyimpan kenangan dan harapan. Namun pascabanjir, rumah-rumah itu berubah menjadi ruang penuh ketidakpastian.
Lumpur yang tebal tidak hanya menyulitkan aktivitas, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran akan kesehatan dan keselamatan.
“Kami memilih tidur di tenda meski dingin, yang penting aman. Kalau hujan turun lagi, kami takut lumpur di rumah makin parah,” kata Nuraini ibu dua anak yang kini tinggal sementara di tenda pengungsian.
Tenda-tenda yang berdiri di atas bukit kecil ini, menjadi saksi ketabahan warga yang bertahan di tengah keterbatasan. Di sana, mereka berbagi ruang, cerita dan harapan menunggu hari ketika rumah mereka benar-benar bisa ditempati kembali.
Meski kondisi belum pulih, semangat warga Desa Durian tidak sepenuhnya padam. Gotong royong masih terasa, saling membantu membersihkan rumah, berbagi makanan, dan menjaga anak-anak agar tetap merasa aman.
“Kami berharap ada bantuan lanjutan, terutama untuk pembersihan lumpur. Kalau hanya tenaga sendiri, berat sekali,” ujar Nuraini.
Banjir mungkin telah merendam rumah-rumah mereka, tetapi tidak mampu menenggelamkan semangat untuk bertahan.
Di antara lumpur setinggi lutut dan tenda-tenda darurat di atas bukit, warga Desa Durian terus menjaga satu hal yang tersisa dan paling berharga, yakni harapan untuk kembali pulang dengan layak.











Leave a comment