Home Ekonomi Harga Emas Dunia Anjlok 2,2%, Tertekan Dolar AS dan Ketegangan Iran
Ekonomi

Harga Emas Dunia Anjlok 2,2%, Tertekan Dolar AS dan Ketegangan Iran

Penguatan dolar, kenaikan imbal hasil obligasi, serta ketidakpastian geopolitik menekan harga logam mulia ke level terendah dalam sepekan.

Share
Harga Emas Dunia Anjlok 2,2%, Tertekan Dolar AS
Gambar: Ilustrasi (canva)
Share

POPULARITAS.COM – Harga emas dunia kembali tergelincir pada perdagangan Rabu (22/4/2026). Penguatan dolar AS dan lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah menjadi pemicu utama pelemahan logam mulia ini.

Harga emas spot tercatat merosot 2,2% ke posisi US$ 4.712,04 per ons. Level tersebut merupakan titik terendah dalam lebih dari sepekan terakhir. Seiring dengan itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni juga ditutup turun 2,3% ke US$ 4.719,60.

Tekanan tidak hanya menerpa emas. Harga perak spot anjlok 3,9% ke US$ 76,76 per ons, platinum turun 2,7% ke US$ 2.033,37, dan paladium melemah tipis 0,6% ke US$ 1.541,56.

Indeks dolar AS menguat 0,2% terhadap sejumlah mata uang utama. Penguatan ini membuat emas menjadi lebih mahal bagi investor pemegang mata uang non-dolar. Di sisi lain, imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun juga merangkak naik.

Baca juga: Harga emas Antam terbang, naik Rp68 ribu per gram

Dikutip dari Reuters, Senior Market Strategist RJO Futures, Bob Haberkorn, menilai kombinasi penguatan dolar dan imbal hasil menjadi biang keladi koreksi harga emas. Sinyal yang beragam terkait situasi Iran turut mendorong harga energi naik sekaligus menambah beban bagi logam mulia.

Sentimen geopolitik kian memanas setelah Presiden AS Donald Trump pada Selasa (22/4/2026) menyatakan tidak berniat memperpanjang gencatan senjata dengan Iran yang hampir berakhir. Trump bahkan menegaskan militer AS siap bergerak jika jalur negosiasi buntu. Pernyataan itu langsung mengerek harga minyak mentah lebih dari 3%.

Harga minyak memang terus melonjak sejak meletusnya konflik antara AS dan Israel melawan Iran pada 28 Februari. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran baru soal inflasi, sekaligus menipiskan peluang pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat.

Meski emas lazim dijadikan instrumen lindung nilai terhadap inflasi, aset tanpa imbal hasil ini cenderung tertekan ketika suku bunga berada di level tinggi.

Fokus pelaku pasar juga tertuju pada sidang Komite Perbankan Senat AS. Agenda tersebut membahas konfirmasi mantan Gubernur The Fed, Kevin Warsh, sebagai calon ketua bank sentral.

Dalam pernyataannya, Warsh mengusulkan sejumlah perubahan besar di tubuh The Fed. Usulan itu mencakup pendekatan baru dalam menjinakkan inflasi serta perombakan strategi komunikasi yang dinilai terlalu gamblang mengungkap arah kebijakan moneter.

Dikutip dari Reuters, Haberkorn menekankan pentingnya sidang tersebut bagi arah pasar.

“Pelaku pasar akan mencermati dengan saksama setiap pernyataan Warsh. Sidang ini berpotensi memicu volatilitas tinggi di pasar,” ujar Haberkorn. (hsn)

Sumber: beritasatu.com

Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Tulisan Terkait
EkonomiNews

Kenaikan Pertamax Dinilai Tak Terelakkan Akibat Dinamika Global

POPULARITAS.COM – Lonjakan harga Pertamax hingga menembus Rp16.250 per liter memicu respons...

EkonomiNews

Ekspor China Melonjak Hampir 20 Persen, Meski Ada Gejolak Perang Iran

POPULARITAS.COM –  Kinerja perdagangan luar negeri China menunjukkan pertumbuhan yang kuat pada...

Ditengah spekulasi pergantian Menkeu Purbaya, Presiden Prabowo panggil Chatib Basri ke istana
Ekonomi

Ditengah spekulasi pergantian Menkeu Purbaya, Presiden Prabowo panggil Chatib Basri ke istana

POPULARITAS.COM – Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) M Chatib Basri, Selasa (9/6/2026),...

Merdeka Gold temukan cadangan emas baru di Gorontalo
Ekonomi

Merdeka Gold temukan cadangan emas baru di Gorontalo

POPULARITAS.COM – Penemuan cadangan emas baru di Kolokoa, Gorontalo, resmi diumumkan oleh...