Home News IDI Saran Pemprov Aceh Terapkan WFH Sebelum PSBB
News

IDI Saran Pemprov Aceh Terapkan WFH Sebelum PSBB

Share
IDI Saran Pemprov Aceh Terapkan WFH Sebelum PSBB
Dokumentasi - Pengamatan dan pemeriksaan menggunakan alat pendeteksian suhu tubuh terhadap para penumpang pesawat luar negeri di terminal kedatangan jalur internasional guna mengantisipasi penyebaran virus corona. (ANTARA /Irwansyah Putra)
Share

BANDA ACEH (popularitas.com) – Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Aceh menyarankan Pemerintah Provinsi Aceh menerapkan kembali bekerja dari rumah atau work from home (WFH) sebelum memberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) seiring dengan peningkatan kasus COVID-19.

Ketua IDI Aceh dr Safrizal Rahman di Banda Aceh, mengatakan terdapat tiga rekomendasi yang telah diajukan ke Pemprov Aceh, yakni untuk kembali memberlakukan sistem WFH, kemudian jam malam, hingga penerapan PSBB di daerah Tanah Rencong.

“Perlu upaya bersama untuk menurunkan jumlah kasus positif COVID-19 di Aceh. IDI Aceh mengajukan saran untuk pembatasan bertahap hingga target ‘positive rate’ lima persen, dengan ‘active case finding’,” katanya, Kamis (13/8/2020) dilansir Antara.

IDI melihat adanya lonjakan kasus positif di Aceh, dari mulanya hanya 20 kasus pada Juni menjadi 674 kasus pada Agustus 2020, kemudian jumlah pasien meninggal dunia telah mencapai 21 orang.

Ia mengatakan case fatality rate (CFT) atau angka kematian COVID-19 di Aceh mencapai 3,4 persen. Artinya 3,4 kematian dari 100 pasien positif COVID-19 di provinsi paling barat Indonesia itu yang meninggal dunia.

“Angka ini sangat fluktuatif, sehingga tidak tutup kemungkinan CFR di Aceh bisa meningkat seiring bertambahnya kasus positif COVID-19,” ujarnya.

Dengan total pemeriksaan usap PCR sekitar enam ribu sampel, maka “positive rate” atau angka pasien positif COVID-19 di Aceh menjadi 11,23 persen.

Artinya, lanjut Safrizal, dari 100 orang yang diperiksa maka 11,23 hasilnya positif, sedangkan batas ambang dari WHO yakni lima persen.

“Hal ini menggambarkan bahwa penularan di komunitas masih tinggi dan cakupan tes yang belum cukup untuk mendeteksi kasus positif,” katanya.

Bahkan, tenaga kesehatan Aceh juga telah banyak yang terinfeksi COVID-19, sementara jumlah paramedis yang terlatih untuk penanganan pasien terinfeksi virus masih terbatas.

IDI Aceh menyarankan pemprov melakukan pembatasan aktivitas dimulai dari WFH dalam upaya menghindari keramaian dan penularan di tempat kerja.

Apabila gerakan WFH belum mampu menurunkan laju penambahan kasus positif COVID-19, maka perlu diberlakukan jam malam guna mengurangi keramaian di malam hari, terutama ruang publik seperti kafe dan warung kopi.

“Apabila jumlah kasus positif terus meningkat, maka perlu dipertimbangkan pengajuan PSBB guna menghentikan penyebaran virus corona,” ujarnya.[acl]

Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Tulisan Terkait
HeadlineNewsSepakbola

Torres Antar Spanyol Juara Dunia 2026

POPULARITAS.COM – Kesabaran, disiplin, dan kecerdasan taktik akhirnya membawa Spanyol kembali ke...

InternasionalNews

AS Cabut Larangan TikTok di Perangkat Pemerintah setelah Restrukturisasi

POPULARITAS.COM – Departemen Kehakiman Amerika Serikat (AS) menyatakan, aturan yang mewajibkan penghapusan...

EkonomiNews

Bertemu Menlu Wang Yi, Menko Airlangga Dorong Kemitraan Strategis hingga Investasi Hijau

POPULARITAS.COM – Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto menggelar pertemuan...

InsfrastrukturNews

Pemerintah Aceh Percepat Kegiatan Tambahan TKD Pemulihan Pascabencana Hidrometeorologi

POPULARITAS.COM – Pemerintah Aceh terus mempercepat pelaksanaan kegiatan Tambahan Transfer ke Daerah...